Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Kehamilan Geriatri


__ADS_3

"Alhamdulillah ...."


Ayah Tendean benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya dan Dianti dipercaya oleh Allah untuk memiliki keturunan lagi. Setelah putrinya Anaya, berusia 26 tahun. Sudah berkeluarga. Kini, ketika baru satu bulan menikah, Bunda Dianti justru positif dua garis, artianya istrinya itu tengah hamil sekarang.


"Aku masih tidak percaya," balas Bunda Dianti yang masih menangis, berurai air mata.


Semula Bunda Dianti mengira bahwa kemungkinan besar dirinya tidak akan bisa hamil. Mengingat usianya yang sudah 47 tahun. Selain itu, bayang-bayang menopause yang sudah mengintip di depan mata. Sehingga, memang tak terbayang jika dia tengah hamil sekarang.


"Sudah jangan menangis ... mau tidak percaya, tapi ini kenyataannya. Kita syukuri dan jaga dengan baik," balas Ayah Tendean.


"Perasaan Mas Dean bagaimana?" tanya Bunda Dianti sekarang.


"Ya, senang dan bersyukur. Ada rasa terkejut karena aku sudah kepala lima. Sudah menjadi Opa. Anakku akan seusia cucuku," balas Ayah Tendean dengan tersenyum.


Memang rasanya tidak percaya. Usia pun sudah 53 tahun. Sudah memiliki tiga orang cucu yaitu Citra, Charel, dan Charla. Sehingga, ketika anaknya nanti lahir, sudah pasti seusia dengan cucunya sendiri.


"Ya, sudah ... yuk, ke kamar. Mau digendong?" tawar Ayah Tendean.


"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri kok. Aku kan sehat, gak ngapa-ngapain," balas Bunda Dianti.


Akan tetapi, Ayah Tendean menaruh tangannya di pinggang istrinya, menuntunnya untuk kembali ke kamar. Bahkan, dengan pelan-pelan Ayah Tendean membantu istrinya untuk duduk di ranjang. Mengambilkan air minum terlebih dahulu, supaya istrinya bisa minum.


"Diminum dulu," ucap Ayah Tendean.


"Makasih, Mas Dean."


Bunda Dianti meminum air putih itu, kemudian menaruh gelasnya di pinggir nakas. Kemudian, Ayah Tendean duduk di pinggiran tempat tidur. Tangannya menyeka sisa-sisa air mata di wajah istrinya.


"Jadinya mau periksa kapan?" tanya Ayah Tendean.


"Lebih cepat lebih baik, mengingat usiaku yang udah enggak muda. Sudah tua. Supaya bisa ditangani dengan baik juga," balas Bunda Dianti.

__ADS_1


"Baiklah, sore nanti mau?" tawarnya.


"Iya, boleh. Aku pernah membaca kehamilan di usia tua itu berisiko, Mas. Semoga aku tidak terlalu," balasnya.


"Iya, semoga saja ... mau ke Dokter Kandungannya Anaya dulu atau ganti Dokter?" tanya Ayah Tendean kepada istrinya.


"Dokternya Anaya dulu siapa?" tanya Bunda Dianti lagi.


"Dia Dokter terbaik di Jakarta ini. Sabar dan penjelasannya juga detail. Namun, dia adalah saudara kembar mendiang Bunda kandungnya Anaya, namanya Indri. Dokter Indri," jelas Ayah Tendean.


Setidaknya Ayah Tendean juga memberitahukan semuanya dulu bahwa ada Dokter Kandungan yang bagus, dulu pernah membantu Anaya sampai pada persalinan, hanya saja memang dia adalah saudari kembar Bunda kandungnya Anaya.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tidak masalah kok. Toh, almarhumah Bundanya Anaya sudah lama tiada. Sekarang Anaya juge memanggilku Bunda. Tidak apa-apa," balas Bunda Dianti.


"Baiklah ... aku akan membuat reservasi dulu nanti sore. Bersiaplah yah, nanti sore aku akan menjemputmu dan kita ke Dokter Kandungan bersama-sama."


Sekarang, memang masih terasa lucu dengan usia mereka yang paruh baya. Akan tetapi, jika dijalani dan pada akhirnya akan terbiasa juga. Hanya perlu beradaptasi dengan kebiasaan baru.


Sore harinya ....


Sekarang Ayah Tendean benar-benar mengajak Bunda Dianti menuju Rumah Sakit, dan juga sudah mendaftarkan untuk pemeriksaan sore ini dengan Indi. Ketika yang datang ke Poli Kandungan adalah pasangan paruh baya, maka beberapa pasangan muda yang ada di sana pun bertanya-tanya.


"Yang ke sini seumuran Anaya ya, Mas ... kita paling tua," bisik Bunda Dianti dengan lirih kepada suaminya.


"Iya, tidak apa-apa, Bunda. Kan kepentingan kita untuk periksa," balas Ayah Tendean.


Menunggu kurang lebih setengah jam, barulah nama Bunda Dianti dipanggil. Keduanya pun memasuki ruangan Dokter Indri. Melihat yang datang adalah Dokter Tendean dan istrinya, Dokter Indri pun terkejut.


"Loh, Dokter Tendean yah?" tanya Dokter Indri.


"Iya, benar ... kami datang untuk periksa," balas Dokter Tendean.

__ADS_1


Sebenarnya Dokter Indri juga tidak begitu kaget, karena dulu Dokter Indri juga datang kala Dokter Tendean menikah. Sekadar untuk memberikan selamat saja.


"Apa ada kabar baik?" tanya Dokter Indri.


"Hm, tadi pagi saya melakukan testpack dan hasilnya positif," balas Bunda Dianti.


"Baik, saya akan periksa terlebih dahulu, karena masih awal, kita periksa dengan menggunakan USG transvaginal yah, Bu ...."


"Sakit enggak?" tanya Bunda Dianti kemudian.


"Tidak kok ... justru dengan USG jenis ini bisa untuk melihat keseluruhan rahim dan kondisi janin," balas Dokter Indri.


Akhirnya, dengan dibantu oleh perawat, kondisi rahim dari Bunda Dianti akan dilihat terlebih dahulu, kemudian bagian dari USG Transvaginal diberi Gell, kemudian dimasukkan ke dalam jalan lahir milik Bunda Dianti.


"Tahan nafas ... jangan berpikiran yang aneh-aneh, dan akan saya periksa yah," instruksi dari Dokter Indri.


Kemudian Bunda Dianti dan Ayah Tendean dipersilakan untuk melihat ke layar monitor. Kemudian dilihat kondisi janin di dalam rahim Bunda Dianti.


"Pernikahannya hampir berjalan dua bulan kan?" tanya Dokter Indri.


"Iya, benar Dokter," balas Bunda Dianti.


"Ya, hasilnya benar-benar positif. Bulatan kecil yang bergerak-gerak ini adalah janinnya. Dengan usia kehamilan 6 minggu. Masih kecil, jadi nanti saya akan berikan penguatan janin yah, karena mengingat usia dari Ibu," ucap Dokter Indri.


Setelah diperiksa, kemudian mereka melanjutkan ke sesi konsultasi. Dokter Indri pun tentu senang. Usia tidak tidak menjadi penghalang untuk menambah momongan.


"Jadi, kandungan istri saya ini berisiko tidak Dokter?" tanya Dokter Tendean.


"Mengingat usia yang sekarang 47 tahun, ini disebut dengan kehamilan Geriatri, di mana wanita hamil di usia lebih dari 40 tahun. Mengingat usia sih, proses persalinan yang saya sarankan nanti adalah Caesar, dan juga harus lebih menjaga kebugaran tubuh," jawab Dokter Indri.


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Dokter Indri. Bunda Dianti menganggukkan kepalanya. Tentu akan lebih menjaga diri dan kebugaran nanti. Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2