
Usai pulang dari Kebun Binatang Ragunan, rupanya Citra begitu excited. Bahkan sampai di rumah pun, Citra tampak bercerita dengan wajah penuh senyuman kepada Mama dan Papanya. Opa Tendean sampai heran dengan Citra.
"Mama, tadi Citra ke Ragunan loh, Ma," ucap Citra begitu sudah bertemu dengan Mama dan Papanya.
"Oh, yah ... Kak Citra lihat apa saja di Ragunan?" tanya Anaya.
Memang Anaya sendiri selalu memberikan pertanyaan yang sifatnya stimulasi sehingga Citra menjawab dan juga menguraikan apa saja yang dia lihat tadi. Menceritakan pengalamannya. Sebab, Anaya begitu suka mendengarkan Citra bercerita.
"Tadi, lihat gajah, Ma ... seperti yang ada di buku Citra kalau gajah itu tubuhnya besar, belalaian panjang, dan telinganya lebar. Gede banget, Ma," cerita Citra. Lihatlah, bahkan dari jawaban yang Anaya berikan, Citra dengan sendirinya sudah mendeskripsikan binatang gajah.
"Selain gajah, Citra lihat apa lagi di Kebun Binatang?" tanya Anaya.
"Banyak, Ma ... tadi ada Buaya, Kuda Nil, Burung Nuri, lalu ada burung yang cantik banget, Ma. Namanya burung merak. Katanya Oma, burung Merak itu karena cantiknya, dia biasa disebut burung khayangan loh, Ma," cerita Citra lagi.
__ADS_1
Sekarang Mama Anaya mengernyitkan keningnya, dia tertarik dengan kata 'Oma' yang disebut Citra sekarang. Siapakah sebenarnya yang dia temui di Kebun Binatang Ragunan itu.
"Oma, siapa Kak Citra?" tanya Anaya.
"Oma, Ma ... temannya Opa. Namanya Oma Dianti," balas Citra.
Mendengar nama Oma rasanya Anaya menjadi tergelitik dan ingin bertanya langsung kepada Ayahnya. Sebenarnya ke Ragunan memang mengajak Citra jalan-jalan, atau memang sebelumnya Ayahnya sudah memiliki janji sebelumnya.
"Siapa itu, Yah?" tanya Anaya dengan tersenyum-senyum menatap Ayahnya.
Namun, Anaya yakin bahwa itu bukan sekadar teman karena air muka Ayahnya terlihat berbeda. Bahkan ketika Citra mengucapkan nama Oma itu, ada senyuman tipis di sudut bibir Tendean.
"Tumben, Ayah memiliki temen wanita," balasnya lagi.
__ADS_1
Setelah Anaya menelisik seperti itu. Akhirnya Ayah Tendean pun menceritakan kepada Anaya. "Dia Dianti, Aya ... adik kelas Ayah waktu di Bandung dulu. Dulu, Fakultas Kedokter itu menjadi satu dengan Fakultas Psikologi. Jika, Ayah mengambil jurusan kedokteran, Dianti mengambil jurusan psikologi. Sering ngobrol dulu waktu kuliah," cerita Ayah Tendean.
Kala menceritakan semua itu, Ayah Tendean pun seakan membuka kembali memori masa lalu di mana dulu dia mengambil kuliah S1 di Bandung. Pertemuan dengan Dianti. Menguak kembali memori lama, dengan kisah cerita yang terselip di antara keduanya.
"Mantan pacar Ayah?" tanya Anaya lagi sekarang.
"Apa, Aya," jawab Ayah Tendean dengan tersenyum tipis.
"Cerita sama Aya tidak apa-apa loh, Yah," balas Anaya lagi.
Sekarang Anaya mengatakan kepada Ayahnya untuk bisa bercerita kepadanya. Sebab, jika bukan berbagi dengan anak sendiri, dengan siapa lagi? Toh, Ayahnya juga menduda lama, dan seakan tidak ada tempat untuk berbagi cerita.
"Pasti, Aya ... pasti. Ayah kan juga selalu cerita kepada kamu. Kamu bukan hanya putrinya Ayah, tapi ketika kamu mulai dewasa, kamu selalu menjadi teman Ayah bercerita," balas Ayah Tendean.
__ADS_1
Faktanya memang seperti itu. Bahwa sang Ayah dan Anaya selalu berbagi cerita. Terlebih Anaya tumbuh di bawah pengasuhan Ayah tunggal. Praktis, semua cerita pun hanya Aya sampaikan kepada Ayahnya saja. Masa sekolah, transisi menjadi remaja, hingga dewasa. Cerita itu baru sedikit berkurang ketika Anaya sudah menikah, karena Anaya juga memiliki waktu untuk bercerita dengan Tama, suaminya. Namun, Anaya tidak ingin Ayahnya memendam semua sendiri. Dia selalu siap sedia untuk mendengarkan apa pun yang menjadi cerita dari Ayahnya.