Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Tujuh Bulan Kehamilan


__ADS_3

Tidak terasa bahwa kehamilan Bunda Dianti sudah memasuki usia tujuh bulan. Itu artinya hanya tinggal dua bulan lagi, Bunda Dianti akan melahirkan bayinya. Namun, yang unik memang Bunda Dianti dan Ayah Tendean sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayinya. Semua itu, juga karena keduanya mengharapkan kejutan yang lebih saat persalinan nanti.


Namun, sebagaimana untuk merayakan dan bersyukur untuk kehamilan yang sudah menginjak tujuh bulan, sekarang di kediaman Ayah Tendean digelar tasyukuran untuk usia kehamilan Bunda Dianti yang sudah menginjak tujuh bulan. Semula, memang ada rencana bahwa tasyukuran hanya akan digelar di Panti Asuhan saja. Namun, mengingat beberapa rekan dari rumah sakit yang datang sehingga Ayah Tendean memilih untuk menggelar acara tasyukuran ini di rumah saja.


Untuk dekorasi, katering juga tinggal memesan. Selain itu, ada Anaya dan Tama yang siap membantu. Selain itu, anak-anak dari Panti Asuhan Kasih Ibu juga semuanya diundang.


"Sudah siap Bunda?" tanya Anaya yang sekarang membantu Bunda Dianti di dalam kamarnya.


Tampak wanita paruh baya itu tersenyum. "Banyak yang terjadi ketika usia Bunda sudah tidak lagi muda, Anaya. Luar biasa. Sebenarnya Bunda malu, bagaimana pun acara seperti ini lebih cocok untuk mereka yang masih muda. Sementara, Bunda sudah terlalu tua. Ada rasa malu. Lihatlah, di usia 47 tahun, Bunda hamil tujuh bulan."


Anaya tersenyum di sana. Sembari merapikan kerudung yang dikenakan oleh Bundanya. Memang aneh, bukan berarti tak bisa terjadi. Sebab, Anaya juga tahu bahwa ada wanita berusia lebih dari 50 tahun juga masih bisa hamil. Sehingga, Bunda Dianti adalah satu dari antara beberapa wanita yang masih bisa mengandung di usia yang tidak lagi muda.


"Tidak apa-apa, Bunda. Itu Ayah saja masih semangat kok. Setiap kali menceritakan Bunda dan si baby, Ayah selalu tersenyum. Seolah seperti baru kali pertama memiliki buah hati. Bunda santai dan semangat seperti Ayah saja," balas Anaya.


Memang Ayah Tendean yang terlihat sangat bersemangat. Dia menikmati masa-masa kehamilan Bunda Dianti. Selain itu, perhatian dan kasih sayang untuk sang istri juga dia curahkan sepanjang waktu.

__ADS_1


"Ayah kamu memang sangat bersemangat. Bahkan dia sudah mencari nama untuk bayinya nanti. Padahal, Ayah dan Bunda sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayinya," balas Bunda Dianti.


"Memang begitulah, Ayah. Itu tanda kalau Ayah sangat cinta dengan Bunda. Ayah menikmati masa-masa kehamilan Bunda Dianti. Kita turun sekarang, Bunda?" ajak Anaya kepada Bunda Dianti.


Akhirnya sekarang, Anaya menggandeng tangan Bunda Dianti. Turun dari kamar menuju ke ruang tamu dan mengikuti pengajian yang akan dipimpin oleh pemuka agama islam. Di bawah sana sudah hadir beberapa teman dari rumah sakit, anak-anak dari panti asuhan, juga keluarga Khaira dan Radit yang sudah dianggap Bunda Dianti seperti keluarga sendiri.


Ayah Tendean tersenyum. Istrinya dan anaknya turun bersama. Memiliki hubungan yang dekat dan akrab. Lantas, Anaya membantu Bunda Dianti duduk di samping Ayahnya.


"Anaya di sana sama Mas Tama ya, Bunda," ucapnya.


Merasa semua sudah berkumpul kemudian mulailah seorang Ustad memulai untuk membuka acara utama yaitu pengajian. Mendoakan ibu hamil dan janinnya, semoga Allah karuniakan keselamatan sampai waktu dilahirkan nanti. Ayah Tendean dan Bunda Dianti pun mengikuti dengan khusyuk. Terutama untuk, Bunda Dianti di mana ini adalah pengalaman pertama untuknya.


"Ya Allah wahai Tuhan Yang Memberkahi, berkahi kami dalam umur, rizqi, agama, duniawi, dan anak-anak kami. Ya Allah, wahai Tuhan yang menjaga, jaga anak ... (sebutkan nama ibunya) selama dia berada di perut ibunya dan beri kesehatan pada dia dan ibunya. Engkau adalah Penyembuh, tiada penyembuhan kecuali dari-Mu, dan janganlah Engkau takdirkan ia sakit dan terhalang (dari Rahmat-Mu). Ya Allah, bentuklah janin yang ada di perut ibunya dengan rupa yang baik, yang indah, dan sempurna. Teguhkanlah hatinya dalam keimanan pada-Mu dan Rasul-Mu, di dunia dan akhirat. Ya Allah, panjangkan umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan akhlaknya, fasihkan lisannya, merdukan suaranya untuk membaca Al-Qur'an yang mulia dan hadis, dengan berkah derajat sang penghulu para utusan."


Ketika ustad melantunkan doa tersebut, Bunda Dianti menitikkan air matanya. Sangat terharu. Sekaligus, memang dia berharap buah hatinya akan memiliki akhlak yang baik, sehat, dan panjang umur. Doa yang sungguh-sungguh menyentuh hati.

__ADS_1


Sampai akhirnya usai doa dan kajian, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Sang ustad dipersilakan makan terlebih dahulu. Diikuti oleh seluruh undangan dan anak-anak dari Panti Asuhan.


"Mau makan, Bunda?" tawar Ayah Tendean.


"Tidak, Mas. Nanti saja. Aku bantu suapin anak-anak itu dulu," jawabnya.


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya, dia mempersilakan istrinya untuk berbaur dengan anak-anak dari panti asuhan dan juga menyuapi beberapa anak di sana. Justru, Ayah Tendean sosok wanita yang hebat pada diri istrinya. Seseorang ya g baru kali pertama hamil, tapi sudah bisa mencurahkan kasih sayangnya untuk anak-anak yang kurang beruntung.


"Bunda mana, Yah?" tanya Anaya kepada Ayahnya.


"Itu, menyuapi anak kecil itu. Lihatlah, Anaya ... seorang wanita yang bisa menyayangi anak-anak yang kurang beruntung adalah wanita yang mulia bukan. Nanti, kepada anaknya sembari pastilah, Bundamu itu akan bisa menyayangi buah hatinya juga," ucap Ayah Tendean.


Anaya tersenyum kepada Ayahnya. Namun, setidaknya bahwa apa yang baru saja disampaikan Ayahnya benar. Nanti pasti Bunda Dianti juga akan bisa menyayangi buah hatinya sendiri dengan kasih sayang yang besar.


"Anaya senang, Ayah kembali merasakan cinta yang besar. Anaya senang karena Ayah kembali menemukan wanita sebagai tempat untuk bersandar. Selalu bahagia, Ayah."

__ADS_1


Ya, Anaya sangat bersyukur. Di usia menuju senja, Ayahnya kembali jatuh cinta. Ayahnya yang selama 25 tahun hidup seorang diri sekarang bisa mendapatkan tempat untuk bersandar.


__ADS_2