
Setelah beberapa pekan berlalu, tidak terasa usia kandungan Bunda Dianti sudah menginjak 12 minggu. Masih terbilang kehamilan awal. Akan tetapi, sekarang Ayah Tendean kembali mengajak Bunda Dianti untuk mengunjungi Dokter Indri dan melakukan pemeriksaan untuk janinnya.
"Sudah periksa lagi ya, Mas ... rasanya baru kemarin loh periksa," ucap Bunda Dianti.
Tampak Ayah Tendean menganggukkan kepalanya. "Iya, kan memang ketika hamil itu pemeriksaannya sebulan sekali. Nanti kalau sudah trimester akhir, menjelang Hari Perkiraan Lahir, bisa tuh dua minggu sekali atau seminggu sekali," balas Ayah Tendean.
Sungguh, benar-benar Bunda Dianti baru tahu bahwa pemeriksaan kehamilan bisa serutin itu. Maklum, ini kehamilan pertama untuknya sehingga Bunda Dianti sendiri belum banyak tahu. Masih perlu banyak menimba informasi.
"Aku baru tahu loh, Mas. Ini aja rasanya cepet. Baru kemarin periksa dan sekarang sudah periksa lagi," ucap Bunda Dianti.
"Ya, pokoknya waktu periksa ya periksa saja, Bunda. Intinya aku akan selalu mendampingi kamu. Selama pemeriksaan kehamilan sampai. persalinan nanti," ucap Ayah Tendean.
Sekarang, mereka sudah tiba di Poli Kandungan dan masih menunggu sampai nama Bunda Dianti dipanggil. Sembari Bunda Dianti mengamati para pasangan muda yang juga menunggu untuk diperiksa. Terlihat beberapa pasang mata yang menatap pasangan paruh baya di sana.
"Kita dilihatin ya, Mas ... mungkin karena kita berdua sudah tak lagi muda. Cocoknya menjadi Oma dan Opa," bisik Bunda Dianti kepada suaminya.
Ayah Tendean tersenyum kecil. "Biarkan saja. Kan kita sudah menjadi Oma dan Opa juga. Dinikmati aja momen ini. Hanya sembilan bulan kok," balasnya.
"Kadang malu, Mas," aku Bunda Dianti.
"Gak usah malu, Nda ... aku justru yang kelihatan lebih tua. Kamu masih muda," balas Ayah Tendean.
Hingga akhirnya, nama Bunda Dianti dipanggil oleh perawat. Ayah Tendean pun berdiri dan mengantar istrinya untuk masuk ruang pemeriksaan. Sekarang, Bunda Dianti diperiksa tekanan darahnya dan juga ditimbang berat badannya. Setelah itu, pasangan itu menemui Dokter Indri.
__ADS_1
"Selamat malam, Dokter," sapa Ayah Tendean dan Bunda Dianti bersamaan.
"Selamat malam, Bu Dianti dan Dokter Tendean. Bagaimana kabarnya?" tanya Dokter Indri.
"Baik, Dokter. Dapat salam dari Anaya," balas Bunda Dianti.
Tampak Dokter Indri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Anaya juga sering berkirim pesan dengan saya. Pengen main ke rumah dan mengunjungi Charel dan Charla," balas Dokter Indri.
Setelah itu, Dokter Indri melihat catatan tekanan darah dan juga berat badan. Setelahnya mulai bertanya kepada Bunda Dianti. "Apakah ada keluhan, Bu?" tanyanya.
"Sejauh ini belum ada sih, Dokter," balas Bunda Dianti.
"Mual dan muntah juga tidak?" tanya Dokter Indri.
Hingga akhirnya, Dokter Indri mempersilakan Bunda Dianti untuk naik ke brankar dan kemudian mulai melakukan pemeriksaan dengan USG. Ada perawat yang membantu untuk memberikan USG gell di permukaan kulit perut Bunda Dianti. Lantas, Dokter Indri mulai menggerakkan transduser di tangannya.
"Baik, hitungannya tepat yah. Ibu sudah memasuki kehamilan 12 minggu. Sudah hampir menjelang Trimester dua. Jika memang tidak ada keluhan, tidak mual dan muntah itu bagus ya, Bu. Namun, kita akan lihat perkembangan bayinya," ucap Dokter Indri.
Kembali transduser digerakkan dan sinyal dari Ultra Sonografi bisa diterima sehingga terlihat janin di dalam rahim Bunda Dianti yang tampak di monitor. Dokter Indri juga meminta kepada Dokter Tendean untuk melihatnya di layar monitor.
"Usia janinnya 12 minggu yah ... dan sekarang, kita akan menghitung denyut jantung babynya yah," ucap Dokter Indri.
Transduser itu diarahkan dan ada beberapa tombol di mesin USG yang ditekan, kemudian terdengar suara detak jantung.
__ADS_1
Deg ... Deg ... Deg ....
"Ini suara detak jantungnya yah. Kondisinya baik dan sehat," ucap Dokter Indri.
"Alhamdulillah," ucap Bunda Dianti dan Ayah Tendean. Mendengarkan detak jantung bayi ini juga menjadi pengalaman pertama untuk Bunda Dianti. Dia baru tahu bahwa Ultrasonografi bisa mengirimkan detakan jantung janinnya.
"Di usia 12 minggu ini sudah terlihat kaki dan tangan janinnya yah. Bisa dilihat di monitor. Bahkan janin di usia itu bisa menggerakkan tangannya. Lalu, kita ukur berat janinnya yah ... janin Ibu sebesar Buah Jeruk dengan berat kurang lebih 15 gram dan panjang badannya 5 centimeter. Wajah janin juga lebih terbentuk," jelas Dokter Indri.
"Luar biasa sekali ya Dokter. Di dalam rahim saja sudah bisa menggerakkan tangannya walau masih mungil banget," ucap Bunda Dianti.
Dokter Indri kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar sekali, Bu ... agung dan ajaibnya Allah kan. Dari embrio menjadi janin bisa terlihat jelas pertumbuhannya. Nah, di usia ini otak janin akan berkembang pesat. Ginjal juga sudah berfungsi, oleh karena itu janin sudah bisa menyerap racun dan membuang urine. Semuanya bagus ya, Bu," ucap Dokter Indri.
Menyudahi pemeriksaan dengan USG. Kemudian Dokter Indri mengeprintkan hasil pemeriksaan USG, kemudian menuliskan resep berupa vitamin untuk bayi dan juga asam folat.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Indri sekarang.
"Tidak ada sih, Dokter. Benar katanya Anaya, sudah dijelaskan dengan sangat detail. Jadi, kayak dapat pengetahuan dan informasi banyak banget," ucap Bunda Dianti.
"Sudah dapat bocoran dari Anaya ya Bu?" tanya Dokter Indri dengan terkekeh perlahan.
"Iya, Dokter."
"Pemeriksaan selanjutnya bulan depan yah. Ibu dan Dokter Tendean semisal ingin melakukan hubungan suami istri boleh. Asalkan berhati-hati dan tidak menyentuh area dada. Selain itu, bisa dibuang di luar karena hormon prostaglandin yang dibawa pria bisa membuat dedeknya pusing nanti. Kalau bayinya sudah memiliki plasenta itu sudah lebih aman," jelas Dokter Indri.
__ADS_1
Pasangan itu tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Bisa mendengar kondisi Bunda Dianti sehat dan janinnya juga sehat saja sudah membuat Ayah Tendean senang. Sampai dia juga enggan untuk menggumuli istrinya mengingat risiko kehamilan di usia yang sudah tidak lagi muda.