Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Terima Kasih


__ADS_3

Apa yang diberikan Bunda Dianti untuk Citra sangat berarti untuk Citra, Tama, dan Anaya. Secara khusus untuk Anaya yang sangat berterima kasih kepada Bundanya. Apa yang dilakukan Bunda Dianti itu sangat berarti.


"Terima kasih banyak, Bunda," ucap Anaya.


"Sama-sama, Anaya. Semoga buku ini sukses dan menemani tumbuh kembang anak-anak di Indonesia yah," balas Bunda Dianti.


Selain itu, Tama juga mengucapkan terima kasih kepada Bunda Dianti. "Tama juga mengucapkan terima kasih, Bunda. Citra sangat senang. Bahkan Citra, Charel, dan Charla menjadi karakter di buku Bunda yang baru," balas Tama.


"Iya, Tama. Bunda kan penulis buku anak, ya ingin membuat buku untuk cucu-cucu Oma. Nanti kalau Bunda sudah memiliki baby, mungkin Bunda terinspirasi untuk menulis lagi," ucap Bunda Dianti.


Anaya kemudian tersenyum. Namun, dia setuju apa yang dikatakan Bunda Dianti ada benarnya. Seorang penulis bisa mendapatkan inspirasi dari mana saja. Sekarang, Citra yang menginspirasi Bunda Dianti untuk menulis cerita. Lain waktu, ada seorang bayi kecil yang akan menginspirasi Bunda Dianti juga untuk menulis buku baru.

__ADS_1


"Harus ditulis, Bunda. Nanti Bunda memiliki Intelektual Properti sendiri dengan cerita dan setiap karakter Bunda," balas Anaya.


Bunda Dianti pun menganggukkan kepalanya. Dia tahu dengan apa yang dimaksud oleh Anaya. Namun, sekarang Bunda Dianti fokus menulis untuk series tokoh bernama Citra, yang tak lain adalah cucunya sendiri.


"Bunda kepikirannya nanti buku untuk Citra ini berseries. Bunda akan pikirkan pendidikan karakter apa saja yang bisa Bunda gali, Anaya. Nanti temani Bunda yah. Mungkin kita bisa brainstroming bersama. Mengumpulkan ide," balas Bunda Dianti.


"Siap Bunda. Nanti kita bisa ngobrol bersama. Terima kasih banyak ya, Bunda. Anaya terharu karena Citra sudah menjadi karakter untuk bukunya Bunda. Bahkan semua penjualannya Bunda berikan untuk Citra. Terima kasih banyak," balas Anaya.


"Senang enggak Aya?" tanya Ayah Tendean sekarang.


"Pasti, senang banget, Yah. Anaya yang sebesar ini baru merasakan kasih sayang seorang ibu sekarang. Walau hujan berdasarkan darah, Anaya bisa merasakan Bunda Dianti menyayangi Anaya dan anak-anak. Anaya terharu jadinya," balas Anaya.

__ADS_1


Memang Anaya menjadi piatu sejak dia dilahirkan. Bundanya mengalami pendarahan serviks dan akhirnya tiada. Praktis, Anaya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Yang Anaya tahu adalah Ayahnya yang selalu menyayanginya dengan melimpah, sampai Anaya terkadang tidak lagi menangis dan merengek untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


"Makasih, Ayah ... memberikan Anaya merasakan kasih sayang seorang ibu, walau Aya sudah dewasa."


Bagi Anaya sendiri ini adalah hal yang baik. Dia merasakan ketulusan, kasih sayang besar, dan kasih sayang untuk anak-anaknya juga. Walau seakan terlambat, tapi itu adalah waktu yang tepat.


Tama pun yang mendengarkan ucapan Anaya juga terharu. Sebab, Anaya sebenarnya juga bukan ibu kandung untuk Citra. Namun, Citra mendapatkan kesempatan untuk memiliki seorang ibu, merasakan kasih sayang seorang ibu karena Anaya. (Kisah Anaya sebelumnya dan asal usul Citra bisa teman-teman baca di Novel berjudul Mas Duda Mencari Ibu Susu).


"Kamu juga membuat Citra merasakan kasih sayang seorang Ibu. Terima kasih, Sayang," ucap Tama.


Itu adalah kesempatan sempurna untuk mengucap syukur, berterima kasih. Banyak hal yang terjadi, seakan merasa terlambat, maka sesungguhnya bagi Allah itu adalah waktu yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2