Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Menemani ke Panti Asuhan


__ADS_3

Usai menikah dengan Bunda Dianti, agaknya Ayah Tendean memiliki agenda kegiatan yang baru, tentunya disesuaikan dengan kegiatan istrinya. Sama seperti sekarang ini, di mana Ayah Tendean menemani Bunda Dianti menuju ke Taman Baca Kasih Bunda. Bahkan Ayah Tendean terlihat sangat bersemangat untuk mengantar Bunda Dianti.


"Mampir ke toko kue dulu ya, Nda," ucap Ayah Tendean.


"Mau beli apa, Mas Dean?" tanya Bunda Dianti.


Memang jika hanya bersama dengan suaminya, tidak ada Anaya dan Tama, Bunda Dianti lebih memilih untuk memanggil suaminya itu dengan sebutan Mas. Sementara, jika ada Anaya dan Tama, maka memanggilnya akan berganti menjadi Ayah.


"Beli kue untuk anak-anak. Masih teringat dulu waktu ke sana sama Citra dan Citra mengusulkan untuk membawa donat, anak-anak seneng banget. Sekarang, kita belikan kue untuk anak-anak yah," balas Ayah Tendean.


Melihat kebaikan hati dan inisiatif dari Ayah Tendean, tentu saja Bunda Dianti sangat senang. Impiannya dulu kalau pun menikah, dia menginginkan pria yang juga mau mendampinginya bekerja, mau berbagi kebahagiaan dengan anak-anak kurang beruntung di Panti Asuhan Kasih Bunda. Sebab, dengan berbagi sesungguhnya tidak membuat seseorang menjadi miskin, tapi kita justru diperkaya. Membagi kebahagiaan dengan mereka yang tidak beruntung adalah ibadah dan juga kebahagiaan tersendiri.

__ADS_1


"Terima kasih Mas Dean, sudah mau berbagi dengan anak-anak," balas Bunda Dianti.


"Sama-sama, Nda ... pilihkan kue yang disukai anak-anak yah," ucap Ayah Tendean.


Hingga akhirnya begitu sudah berada di dalam toko kue, Bunda Dianti memilihkan beberapa kue untuk anak-anak. Bunda Dianti membeli Brownis dan Lapis Legit. Selain itu, Bunda Dianti meminta untuk dipotongkan sekalian. Sehingga, bisa langsung dibagikan kepada anak-anak.


"Tambah, Bunda ... untuk partner kamu di Panti Asuhan. Sekalian," ucap Ayah Tendean.


"Ya, kan mereka juga berjasa sudah mengasuh anak-anak. Jadi, tidak ada salahnya juga untuk mengapreasi kinerja mereka selama ini," ucap Ayah Tendean.


Bunda Dianti tersenyum, dia kemudian mengambil lagi kue untuk para pengasuh di Panti Asuhan. Sangat senang karena suaminya itu bisa memahami pekerjaannya dan juga mau berbagi. Setelahnya, Ayah Tendean segera membayar semuanya. Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke Panti Asuhan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Bunda Dianti dan Ayah Tendean bersamaan ketika memasuki Panti Asuhan itu.


"Waalaikumsalam Bunda dan Ayah," sapa anak-anak di sana dengan serentak.


Ya, memang anak-anak di Panti Asuhan juga diajarkan memanggil Ayah Tendean dengan sebutan Ayah, karena Bunda Dianti saja mereka panggil Bunda. Bahkan anak-anak mulai bersalaman dengan mencium punggung tangan Bunda Dianti dan Ayah Tendean.


Mulailah Bunda Dianti membagikan kue untuk anak-anak. Terlihat begitu menikmatinya anak-anak memakan kue itu. Ayah Tendean saja sampai terharu melihatnya. Terkadang orang tidak mensyukuri makanan yang mereka dapatkan, dan membuangnya begitu saja. Namun, ada anak-anak yang kurang beruntung, yang mendapatkan sepotong kue saja begitu bahagia.


"Yuk, anak-anak ... ucapkan terima kasih ke Ayah dan Bunda," ucap pengasuh anak di panti asuhan itu.


"Terima kasih Ayah dan Bunda ...."

__ADS_1


Anak-anak yang jumlahnya ada 25 orang itu mengucapkan terima kasih dengan serempak. Di sini Ayah Tendean benar-benar belajar dari anak-anak yang bisa berterima kasih untuk hal sekecil apa pun yang dia terima. Terkadang orang tidak tahu bersyukur, tapi ketika dalam kondisi tidak beruntung seperti ini, pastilah hidup menjadi penuh syukur dan juga menghargai tangan-tangan yang mengulurkan bantuan.


__ADS_2