Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Mengesampingkan Dulu


__ADS_3

Selang beberapa pekan setelahnya, sebagai pria sudah menjadi hal yang alamiah jika terkadang mendamba. Nafkah batinnya terasa kering kerontang. Oleh karena itu, Ayah Tendean selama beberapa malam menjadi gelisah.


Tidur miring ke kiri dengan memunggungi istrinya rasanya salah. Nanti bisa dikira sedang bertengkar sehingga saling beradu punggung. Namun, jika memeluk istrinya begitu erat dengan tubuh saling menempel itu bisa menjadi alarm gawat darurat untuk Ayah Tendean. Serba salah. Memutuskan tidur tengkurap pun juga salah.


Hal yang wajar dan alamiah untuk seorang pria. Satu hal yang perlu diketahui kaum adam selama masih hidup, mereka selalu membutuhkan kebutuhan batin. Usia bukan menjadi penghalang. Sebelumnya pernah ada penelitian yang mengatakan bahwa ketika semakin tua, produksi hormon tes-tosteron akan berkurang, hal ini akan berakibat dengan berkurangnya hasrat bercinta seorang pria. Namun, penelitian itu kemudian dibantah oleh para peneliti di University of Sydney bahwa hormon tes-tosteron tak akan berkurang, kecuali jika kondisi kesehatan menurun.


Oleh karena itu, pria yang sudah menjadi kakek-kakek pun masih memiliki hasrat bercinta yang tinggi. Terlebih pria matang dengan usia 40an tahun justru berada di puncak hasratnya. Secara fisik, emosi, dan finansial mereka lebih matang. Keinginan untuk bercinta pun menjadi lebih menggelora. Jadi? Apa yang bisa mengurangi kadar hormon tes-tosteron pada pria? jawabannya adalah dua hal saja yaitu obesitas dan penyakit jantung. Faktor usia sama sekali tidak berpengaruh.


Begitu juga dengan kondisi Ayah Tendean yang sehat lahir batin. Dia merasa berpuasa terlalu lama juga menjadi tantangan tersendiri untuknya. Gerakan kecil Ayah Tendean di tempat tidur, rupanya mengusik Bunda Dianti, hingga Bunda Dianti akhirnya terbangun.


"Mas, ini sudah tengah malam kok belum tidur?" tanya Bunda Dianti dengan menatap bingung pada suaminya.


"Iya, aku belum bisa tidur. Enggak tahu," balas Ayah Tendean.

__ADS_1


Ayah Tendean memilih menjawab demikian. Sebab, tidak mungkin dia menjelaskan secara gamblang. Terlebih istrinya juga tengah menjalani trimester pertama kehamilan yang riskan. Sehingga, Ayah Tendean berusaha untuk mengesampingkannya.


"Mau minum air putih, aku ambilkan," tawar Bunda Dianti kepada suaminya.


"Tidak usah, itu di sisi nakasku ada air putih kok," balasnya.


Namun, melihat keresahan suaminya, Bunda Dianti yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres sekarang. Sehingga, Bunda Dianti beringsut dan menatap suaminya itu.


"Ada apa sih Mas? Jujur saja, kalau kamu enggak jujur ya aku tidak akan tahu apa yang terjadi," ucap Bunda Dianti sekarang.


Mendengar kejujuran dari suaminya, Bunda Dianti justru terkekeh perlahan. Rupanya kondisi itulah yang membuat suaminya tidak bisa tidur hampir nyaris tengah malam. Geli saja mendengarkan kejujuran suaminya itu.


"Lha apa kamu mau? Kupikir kalau tidak terlalu bersemangat, bisa dan aman," balas Bunda Dianti.

__ADS_1


Namun, dengan cepat Ayah Tendean menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memaksakan hasratnya. Sebab, Ayah Tendean juga memperhitungkan kehamilan dan risiko yang bisa saja terjadi.


"Tidak, tidak usah, Nda ... aku bisa menahan kok. Aku mandi dulu saja. Sudah, kamu santai saja," balas Ayah Tendean.


Akhirnya, Ayah Tendean memilih untuk mandi walau hari sudah begitu malam. Ya, pria berusia 53 tahun itu memilih untuk mandi air dingin. Membiarkan dirinya segar dan menidurkan senjata yang sejak tadi menunjukkan kegelisahannya.


Selang sepuluh menit berlalu, barulah Ayah Tendean menuju ke kamar tidur lagi. Sementara, Bunda Dianti masih belum tidur. Dia masih menunggu suaminya itu.


"Sampai segitunya, kalau kamu masuk angin loh, Mas," ucap Bunda Dianti.


"Tidak apa-apa. Sekarang harus bisa mengesampingkan dulu. Kehamilan geriatri lebih berisiko. Aku hanya ingin kamu dan janin kita dalam keadaan yang baik," balas Ayah Tendean.


"Gimana Mas? Masih lama loh. Menunggu Plasenta tumbuh itu menjelang empat bulan," balas Bunda Dianti.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Selama ini aku juga berpuasa 26 tahun, kok. Semoga saja aku bisa berpuasa 2,5 bulan," balas Ayah Tendean.


Sungguh, mendengarkan ucapan suaminya hati Bunda Dianti menjadi menghangat. Wujud kasih sayang dan perhatian dari suaminya. Namun, Bunda Dianti juga tahu bahwa kondisi sekarang sudah berbeda. Dulu menduda, kadang abai dengan kebutuhan batin. Sedangkan, sekarang sudah beristri. Bunda Dianti juga tahu kondisi psikologis pria karena dulu dia mempelajarinya. Pemenuhan kebutuhan batin menjadikan emosi pria lebih stabil dan dampak hormon dopamine yang dihasilkan bisa membuat bahagia. Tak jarang pria yang memiliki seksualitas yang sehat, mereka justru terlihat awet muda. Sedangkan sekarang harus berpuasa selama kurang lebih 2,5 bulan pastilah begitu berat untuk Ayah Tendean.


__ADS_2