
Sungguh Bunda Dianti merasa sangat senang dengan suaminya yang mau turut berkolaborasi dengannya untuk mengunjungi Panti Asuhan Kasih Bunda itu. Bukan lantaran Ayah Tendean datang dan memberikan kue, tapi di mata Bunda Dianti terlihat jelas bahwa suaminya itu adalah orang yang tulus. Seolah-olah, Tendean yang pernah dia lihat 26 tahun yang lalu, dengan Tendean yang sekarang sama sekali tak berubah. Hanya usianya saja yang terus bertambah.
Itu bisa Bunda Dianti ingat, karena saat masih kuliah di Bandung dulu, Tendean aktif di himpunan mahasiswa kedokteran. Dia selalu tertarik dengan kegiatan amal dan kesehatan. Dulu, Dianti pikir Tendean akan menjadi Dokter Spesialis Anak karena dia begitu suka memeriksa anak-anak. Bahkan ketika KKN di salah satu Puskesmas di Bandung, Tendean juga membantu di Poli Anak. Rupanya setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Tendean justru menjadi Neurolog atau Ahli Saraf.
Sekarang Bunda Dianti tersenyum melihat Tendean yang memberikan pengajaran kepada anak-anak untuk menjaga kebersihan diri sendiri. Anak-anak di panti asuhan pun begitu semangat mendengarkan penjelasan dari Ayah Tendean.
"Nah, sekarang Ayah jelaskan yah. Anak-anak semua harus rajin mandi dua kali sehari, menggosok gigi dua kali sehari dan jangan lupa menggosok gigi sebelum tidur, biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Kesehatan itu dimulai dari diri sendiri."
"Baik Ayah Dokter," jawab anak-anak dengan serempak.
Ayah Tendean tertawa. Di rumah Citra terkadang memanggilnya Opa Dokter, dan di Panti Asuhan, anak-anak di sini memanggilnya Ayah Dokter. Namun, dia tetap senang dan berada di tengah-tengah anak-anak seperti ini bisa memberikan kebahagiaan sendiri. Memberikan energi positif untuknya.
"Ayah Dokter, kalau Dika tidak gosok gigi apa bisa sakit?" Dika, salah satu anak di Panti asuhan itu bertanya kepada Ayah Tendean.
__ADS_1
"Bisa dong Dika. Coba, lihat Ayah yah. Ini adalah giginya Dika. Setiap hari Dika minum susu, sisa gulanya menempel di gigi. Setiap hati Dika makan nasi, sayur, buah, permen, dan lain-lain. Ada sisa makanan yang tertinggal di gigi. Nah, untuk membersihkannya bagaimana? Harus menyikat gigi sampai bersih. Dengan begitu giginya Dika akan bersih, tidak bau mulut, juga giginya tidak berlubang. Gigi yang berlubang itu sakit sekali loh. Ada yang pernah sakit gigi?" tanya Ayah Tendean.
Rupanya hampir semua anak mengangkat tangan, mengaku pernah merasakan sakit gigi. Hingga akhirnya, Ayah Tendean kembali berbicara. "Nah, biar tidak sakit gigi harus rajin menggosok gigi. Usai makan permen dan makan ice cream juga harus menggosok gigi yah."
"Iya Ayah Dokter ...."
Waktu di Panti asuhan benar-benar dihabiskan dengan anak-anak, mengajari anak-anak untuk menjaga kesehatan. Hingga mereka turut makan siang bersama di Panti Asuhan itu. Walau ada rasa sedih melihat anak-anak hanya makan seadanya. Padahal anak-anak membutuhkan gizi seimbang juga.
"Dari royalti bukuku, Mas. Lalu, ada donatur tetap seperti Radit dan Khaira, ada yang lain juga. Mas Dean juga harus tahu bahwa Anaya dan Tama turut menjadi donatur tetap untuk anak-anak di sini," ucap Bunda Dianti.
Mendengar bahwa Anaya dan Tama juga tergerak hatinya untuk membantu anak-anak kurang beruntung di Panti Asuhan ini, Ayah Tendean merasa senang dan bangga. Anak dan menantunya rupanya mengambil langkah lebih cepat dari dirinya.
"Aku ikut menjadi donatur untuk anak-anak boleh?" tanya Ayah Tendean.
__ADS_1
Bunda Dianti pun tersenyum. "Bukan karena aku kan? Aku tidak meminta Mas Dean sama sekali," balasnya.
Dengan cepat Ayah Tendean menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku yang tergerak untuk membantu mereka. Bukankah hidup lebih berarti jika kita mau berbagi?"
Mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya, Bunda Dianti tersenyum. Ya, waktu sudah berlalu begitu cepat selama 26 tahun. Namun, Tendean selalu menjadi sosok yang baik hati dan suka menolong orang yang membutuhkan.
"Benar, Mas. Hidup yang bermanfaat untuk sesama itu sangat berarti," balas Bunda Dianti.
"Mulai akhir bulan ini yah ... aku akan menjadi Donatur di sini yah? Nanti aku bisa mengajak teman-teman Dokter yang lain untuk memberikan pemeriksaan kesehatan berkala untuk anak-anak di sini. Biar mereka selalu sehat," ucap Ayah Tendean.
"Terima kasih banyak, Mas Dean. Kamu selalu menjadi sosok yang baik. Terima kasih sudah memberikan hati untuk anak-anak di sini," ucapan terima kasih dari Bunda Dianti.
Bagi Ayah Tendean ini sama sekali bukan masalah besar. Justru dia beruntung bisa membantu dan berbagi untuk anak-anak di sini. Selain itu, Ayah Tendean yang adalah seorang Dokter juga akan mengusahakan pemeriksaan kesehatan berkala untuk anak-anak di Panti Asuhan ini.
__ADS_1