Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Arti Bahagia


__ADS_3

Sungguh ini adalah saat yang indah ketika Bunda Dianti berhasil melahirkan bayinya. Di tengah rasa trauma dan juga perasaan deg-degan yang dirasakan Ayah Tendean, rupanya Allah memberikan banyak anugerah dan pertolongan yang tak terkira.


Saking paniknya, dua hari yang lalu, Ayah Tendean sampai mengobrol dengan Tama. Bukan sebagai mertua dan menantu. Namun, mengobrol sebagai pria yang memiliki trauma terhadap menemani bersalin. Sebab, Tama pun juga pernah kehilangan istrinya kala melahirkan Citra dulu.


Syukurlah usai mengobrol dengan Tama, akhirnya Ayah Tendean bisa lebih semangat dan juga berani menghadapi persalinan Bunda Dianti yang dipilih dengan metode caesar. Sehingga memang Bunda Dianti dan Ayah Tendean sudah memilih tanggal untuk melahirkan bayinya.


Sekarang, mendampingi Bunda Dianti di ruang operasio, Ayah Tendean terus mengucapkan setiap doa kepada Allah. Memohon kelancaran untuk operasi kali ini.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar," ucap Ayah Tendean.


"Alhamdulillah, bayi kita lahir dengan selamat dan sempurna, Mas. Alhamdulillah ya Allah ...."


Bunda Dianti pun memuji kebesaran Allah, sungguh luar biasa. Dia yang hampir kepala lima, akhirnya beroleh kemurahan Allah. Bisa melahirkan dengan lancar.


"Iya, Bunda. Luar biasa, Alhamdulillah."


Usai satu jam proses inisiasi menyusui dini, Baby Nasya pun dibersihkan. Selain itu diberikan suntikan Vitamin K dan suntikan imunisasi DPT 0. Usai itu, Baby Nasa dimasukkan ke dalam inkubator untuk diobservasi. Sementara, Bunda Dianti dan dibersihkan. Dalam enam jam ini, kondisi Bunda Dianti juga akan diobservasi untuk mengetahui apakah nanti ada lonjakan tekanan darah, atau komplikasi yang bisa terjadi.


Sehingga, Ayah Tendean tetap harus berjaga-jaga. Sebelum enam jam berlalu, agaknya Ayah Tendean belum bisa tenang. Masih kepikiran dengan istrinya. Bahkan dengan jujur di dalam hatinya Ayah Tendean juga takut jika terjadi hal yang buruk dan tidak diinginkan lagi.


"Kali ini ya Allah ... jangan pisahkan hamba dengan kekasih hati hamba, dengan pendamping hidup hamba. Di usia yang menuju senja ini, biarlah hamba bisa hidup berdampingan dengan Dianti, istri hamba."

__ADS_1


Doa di dalam hati pun Ayah Tendean panjatkan dan juga senantiasa memohon Allah untuk memberikan yang terbaik. Kiranya belas kasihan Allah akan mempersatukan dia dengan Bunda Dianti.


***


Delapan Jam setelahnya ....


Bunda Dianti sudah dalam kondisi stabil. Dia benar-benar bisa melewati semuanya. Di tengah kepanikan yang dirasakan oleh suaminya, tapi masa kritis sudah berlalu.


"Mas," panggil Bunda Dianti dengan mencari suaminya.


"Ya, Bunda. Sejak tadi aku di sisi kamu. Syukurlah, pengaruh biusnya sudah hilang. Ada yang sakit?" tanya Ayah Tendean.


"Ngilu di perut, Mas. Luar biasa. Melahirkan caesar saja sakit, apalagi melahirkan normal," balasnya.


Usai mengatakan itu, terdengar ada ketukan di pintu dan rupanya adalah perawat yang datang dan mengantarkan bayi mereka. Ya, Annasya diantarkan kepada Bunda Dianti dan Ayah Tendean.


"Bapak dan Ibu, ini Baby nya sudah diobservasi. Sudah buang urin dan pup pertama juga. Apakah ASI Ibu sudah keluar? Jika sudah bisa diberikan ASI dulu," ucap perawat.


"Keluar sih, Suster. Tidak banyak," balasnya.


"Tidak apa-apa, nanti semakin bertambah hari produksi ASI bisa semakin meningkat seiring dengan kebutuhan si Baby," balas perawat itu.

__ADS_1


Kemudian Baby Nasya mulai diposisikan di gendongan Bunda Dianti, memposisikan untuk pelekatan pertama. Bunda Dianti tentu terlihat kaku juga, karena bagaimana pun ini adalah pengalaman pertama untuknya.


"Nah, begini ya Bu. Terdengar tidak baby ya menghisap ASI?" tanya perawat itu.


"Iya, terdengar," balas Bunda Dianti.


"Baiklah, saya tinggal ya Bu. Si baby sudah boleh satu tempat dengan Bundanya. Selamat meng-ASI-hi ya, Bu."


Melihat bayi kecil yang cantik itu dan sedang mendapatkan ASI, Bunda Dianti meneteskan air matanya. Benar-benar tidak menyangka bahwa ada keajaiban untuknya. Keajaiban untuk mengandung, melahirkan, dan juga memberikan ASI. Sungguh, bagi Bunda Dianti ini adalah Arti bahagia yang sesungguhnya.


Ayah Tendean mengambil tempat di sisi istrinya. Pria itu menyeka buliran bening di pipi sang istri.


"Jangan menangis. Waktu ini milik kamu, bahagialah," ucap Ayah Tendean.


"Waktu ini milik kita. Annasya memberikan banyak kebahagian untuk kita," balasnya.


Di saat yang sama Ayah Tendean juga menitikkan air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi adalah air mata bahagia. Ini adalah anugerah. Arti kebahagiaan yang melingkupi hatinya. Membuatnya sampai tak bisa berkata-kata lagi.


"Pertama, aku bersyukur kepada Allah untuk keselamatan persalinan ini. Kedua, aku berterima kasih kepadamu. Akhirnya, aku tidak ditinggalkan dan menjadi duda untuk kedua kalinya. Aku tidak meratapi hari di mana putriku dilahirkan. Kebahagiaan ini nyata. Terima kasih Allah, terima kasih, Bunda."


26 tahun yang lalu, Ayah Tendean mendua di hari kelahiran putrinya. Seperempat abad dia jalani dalam kesendirian dan terus membesarkan Anaya. Sekarang, Allah berbaik hati kepadanya. Allah memberikan hari yang indah dan bukan hari berkabung, penuh ratap dan isak tangis. Kisah Duda Seperempat Abad telah berlalu, Allah gantikan semua duka dan air mata di masa lalu, menjadi kebahagiaan utuh dan penuh di masa kini.

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2