Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Dilema Duda Tua


__ADS_3

Sebenarnya, Ayah Tendean juga berpikir. Kenapa putrinya setelah 25 tahun berlalu justru memintanya untuk menikah. Ketika seorang anak mengatakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diucapkan, pastilah akan menjadi pertanyaan dalam hati bagi seorang Ayah. Sama seperti Ayah Tendean yang bertanya-tanya, kenapa Anaya memintanya menikah lagi.


Keresahan Ayah Tendean rupanya dilihat oleh menantunya, sehingga sekarang Tama duduk bersama mertuanya. Menemani mertuanya berbicara. Mungkin saja ada pemikiran yang hendak disampaikan Ayah Tendean.


"Kenapa sendirian di sini, Ayah?" tanya Tama.


"Ayah hanya kepikiran sesuatu, Tama. Kenapa ketika Aya menyuruh Ayah menikah justru membuat Ayah merasa resah," jawabnya.


Kali ini Tama memilih diam, memberikan waktu untuk Ayah mertuanya. Siapa tahu, usai ini Ayah mertuanya bisa kembali bercerita kepadanya. Toh, Tama sendiri juga siap untuk mendengarkan kisah sang Ayah.


"Ayah ini sudah tua, Tam. Apa yang mau dilakukan pria dengan usia setengah abad seperti Ayah ini. Bisa saja beberapa tahun lagi, Ayah akan kehilangan kekuatan Ayah, menurunnya kesehatan Ayah, dan juga demensia yang bisa menyerang mereka yang sudah tua. Selain itu, mereka yang sudah tua rasanya akan semakin dekat dengan kematian, Tam."

__ADS_1


Inilah bukti dilematis seorang duda yang sudah tidak lagi muda. Merasakan kekuatan tubuh yang berkurang, merasakan kesehatan yang menurun, dan juga demensia atau penurunan fungsi otak untuk mengingat dan menilai. Semua ini adalah kondisi logis yang dihadapi mereka yang sudah menua. Pemikiran duda seperempat abad tentu berbeda dengan para duda muda.


"Dulu, sewaktu Ayah usai kehilangan Bundanya Aya, Ayah cuma memiliki dua keinginan dalam hidup. Pertama, membesarkan Aya sebaik mungkin dan Kedua, bekerja keras supaya bisa menyekolahkan Aya hingga pendidikan tertinggi. Sekarang dua keinginan Ayah sudah terwujud, Tam. Sekarang, ketika Ayah tidak lagi muda, rasanya Ayah hanya ingin menua dan menghabiskan waktu dengan cucu-cucu Ayah."


Tama yang sedari tadi mendengarkan cerita Ayahnya, akhirnya turut memberikan komentarnya. "Coba Ayah melihat dari sudut pandang Anaya. Kalau Tama melihatnya, itu adalah bukti nyata kasih sayang Aya untuk Ayahnya. Sebagai seorang anak, Aya ingin Ayahnya menikmati hari tua dengan seseorang yang dia cintai. Merenda kasih bersama. Itu akan menjadi aktivitas yang menyenangkan Ayah," balas Tama.


Ayah Tendean pun mendengarkan ucapan menantunya. Mencoba untuk memahami apa yang Aya pikirkan. Memang terasa menyenangkan, tapi sang Duda merasa usianya sudah begitu menua.


Ada lagi kekhawatiran yang disampaikan Ayah Tendean bahwa dirinya tidak berpengalaman dalam membina rumah tangga. Dulu pernikahannya dengan Desy hanya berjalan dua tahun saja tidak genap, kemudian memahami seorang wanita tentu tidak pernah dilakukan oleh Ayah Tendean.


"Tidak usah terburu-buru, Ayah. Pastikan nanti hati Ayah bergetar ketika bertemu dengannya dan juga, ada hasrat untuk menikah lagi. Aya dan Tama pasti mendoakan yang terbaik untuk Ayah. Santai saja, Ayah," ucap Tama.

__ADS_1


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya. "Makasih, Tama. Makasih sudah mau mendengarkan keluh-kesah Ayah. Duda tua memang tidak seperti duda muda yang langkahnya masih panjang. Sementara, Ayah sendiri sudah menua," ucapnya lagi.


Rupanya Anaya mendengarkan pengakuan dari sang Ayah yang merasa sudah menua itu. "Ayah belum menua kok. Ayah masih tampan bahkan di usia separuh abad," sahut Anaya.


"Kamu bisa saja, Ay. Tanda-tanda penuaan itu pasti seiring dengan bertambahnya usia. Itu juga yang akan dialami semua manusia, termasuk Ayah kamu," balas Ayah Tendean.


"Ayah, jangan merasa kalau Aya tidak lagi sayang sama Ayah dan tidak mau mengurus Ayah. Justru ketika Aya mengizinkan Ayah menikah lagi, itu adalah tanda sayang Aya untuk Ayah. Dulu Anaya mengalami berbagai pahitnya hidupnya, Yah. Sekarang, Aya bisa bahagia dengan membuka lembaran baru. Mungkin, Ayah memang terlambat membuka lagi lembaran baru. Akan tetapi, cinta itu selalu datang di saat yang tepat, bukan waktunya yang terlambat. Santai saja ya, Ayah," ucap Aya.


"Iya, Ay ... begini saja, jika memang nanti Ayahmu ini akan bertemu wanita yang tepat, yang bisa membuat Ayah berhasrat untuk membina rumah tangga, maka Ayah akan menikah lagi. Jika tidak, sampai akhir usia, Ayah akan menduda," ucap Ayah Tendean.


Anaya dan Tama menganggukkan kepalanya. Sepenuhnya akan menyerahkan keputusan di tangan Ayahnya. Lagipula, bukankah semesta akan memiliki cara untuk mempertemukan dua insan. Oleh karena itu, dia lebih memilih menunggu pengaturan sang Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2