Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Ceremoni yang Sebenarnya


__ADS_3

Atmosfer di dalam kamar pengantin itu terasa begitu berbeda. Walau sudah tidak lagi muda, jujur saja ada kecanggungan yang melingkupi. Bagaimana pun selama menduda, Tendean juga menjaga hidupnya dengan baik. Tidak pernah main-main atau jajan di luar sana. Selain itu, juga dia fokus hanya dengan dua hal yaitu Anaya, dan karirnya sebagai seorang Dokter.


Akan tetapi, ada tekad di dalam hati Tendean untuk membuat malam ini menjadi spesial. Tidak akan mundur, dan tidak akan mengulur waktu lebih lama lagi.


"Dianti, jika aku meminta hakku sebagai suamimu apakah boleh?"


Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir Tendean. Memberikan pertanyaan yang seolah ingin menyatukan dua raga yang sudah sepenuhnya sah dalam ikatan pernikahan.


"Sepenuhnya, aku serahkan kepada Mas Dean saja," balas Dianti.


Walau bisa memberikan jawaban. Akan tetapi, Dianti merasakan dadanya yang begitu berdebar-debar. Bagaimana pun ini adalah pengalaman yang spesial untuk keduanya. Ceremoni utama dari pernikahan dua insan, yaitu saling memberi diri untuk bersatu.


Tidak terburu-buru, Tendean mematikan lampu di kamar utama terlebih dahulu. Kemudian dia menyalakan lampu tidur. Setelahnya, dia mengambil tempat di sisi Dianti. Sangat tenang, hingga Tendean mulai memangkas jarak wajah keduanya, dengan perlahan tangan Tendean membelai sisi wajah Dianti. Sangat pelan, hingga akhirnya Tendean mendaratkan bibirnya di kening Dianti.


"Aku cinta kamu, Di ... walau memang terkesan terlambat, tapi sebenarnya dalam cinta tidak ada kata cepat dan lambat. Aku lebih meyakini bahwa waktu ini adalah waktu yang tepat," ucapnya.


Itu adalah ungkapan cinta yang manis. Direspons hangat dengan anggukan kepala Dianti. Wanita itu memejamkan matanya kala mendapatkan kecupan hangat dari sang suami.


Tendean pada akhirnya mulai melabuhkan bibirnya, dan kini mendarat di dua kelopak mata, turun ke ujung hidung, mendarat di pipi kanan, dan pipi kiri. Hingga akhirnya bibir itu dengan perlahan dan sangat lembut mengecup bibir Dianti.


Cup.


Satu kecupana yang dalam dan juga terasa bahwa tubuh keduanya sama-sama tegang. Saking tegangnya, tangan Tendean yang kini membelai sisi wajah Dianti menjadi dingin. Cukup lama bibir itu bertemu, saling menempel, nafas hangat keduanya pun sama-sama menyapa. Hingga akhirnya, Tendean meneguhkan hatinya untuk menggerakkan bibirnya perlahan, memberikan kecupan demi kecupan di bibir Dianti. Bisa Tendean rasakan bahwa ada helaan nafas yang keluar.


Kondisi ini sangat wajar. Sebab, dalam seperempat abad lamanya Tendean benar-benar puasa. Tidak pernah tersentuh kebutuhan biologisnya. Sekadar memberikan kecupan di bibir saja, nafasnya terasa payah dan merasa begitu terengah-engah. Di batas, Tendean menarik wajahnya. Dia membuka matanya perlahan dan menatap wajah Dianti yang memerah di sana.

__ADS_1


"Maaf, Di ... aku terlalu lama menduda. Aku sampai bingung bagaimana memulainya," balasnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Tidak harus malam ini juga tidak apa-apa," balas Dianti.


Di saat yang bersamaan ada gelengan samar dari Tendean dan dia menguatkan hatinya. Tendean merasa harus bisa mengendalikan suasana. Ini adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Untuk itu, Tendean berkeinginan membawa Dianti mengarungi samudra cinta bersama. Tidak perlu berpikir lama, Tendean segera mengikis jarak wajahnya, dan kembali mencium bibit istrinya dengan begitu lembut. Ciuman yang bermula dari kecupan berganti kecupan, hingga dua bibir itu saling bergerak, saling memagut, dan saling melu-mat di sana.


Tangan Tendean pun perlahan melepaskan kancing demi kancing di piyama yang dikenakan oleh sang istri. Ada helaan nafas yang berat ketika kancing itu terlepas dari sarangnya. Tidak membutuhkan waktu lama, seluruh kancing benar-benar terlepas. Ya, kancing di piyama yang terbuat dari kain satin yang lembut itu kini sudah sepenuhnya terbuka.


Tendean pun melepaskan piyama itu, dan memposisikan istrinya di ranjang dengan sempurna. Pria itu lantas melepaskan piyamanya sendiri, membuat tubuhnya shirtless di sana.


Walau usia sudah kepala lima, tetapi tubuh itu masih terlihat tegap dan tidak menua. Perlahan-lahan dia menindih Dianti di sana. Lantas, ciuman yang panas pun kembali terjadi. Kecupan-kecupan basah dan hangat mulai Dianti rasakan di sepanjang garis lehernya, tulang selangka dan tulang belikatnya.


Sebagai wanita, Dianti pun menguatkan dirinya. Dia memberikan kendali penuh kepada suaminya itu. Tangan yang semula yang memberikan usapan di lengan dan tengkuk, kini dengan sengaja mulai meraba dan memberikan remasan di bagian dada itu. Remasan dalam tekanan yang membuat Dianti menelengkungkan punggungnya.


"Mas Dean," engahnya dengan memeluk tubuh suaminya.


Sungguh, tubuh itu bergerak dengan begitu otomatis, dan juga jiwa muda Ayah Tendean bak lahir kembali. Dia merasa bisa mengusai dirinya dan siap menggelora dalam indahnya malam pernikahan sekarang ini. Atmosfer yang sangat mendukung disertai dengan kesediaan untuk berpadu dalam satu harmoni.


Hingga akhirnya, tangan Ayah Tendean melepaskan pengait yang ada di balik punggung itu, dia melihat bulatan indah yang menggoda matanya. Dengan lapisan cokelat membulat yang membuatnya gelap mata. Dengan hati-hati, dia mendekat, membawa bibirnya, lidahnya untuk memberikan usapan di sana, menghisapnya perlahan, bahkan gigitan demi gigitan kecil, Tendean berikan di sana.


Lenguhan dan pekikan dari Dianti pun justru menjadi alunan yang indah untuk Tendean. Hingga akhirnya, keduanya tampil dengan kepolosan mutlak satu sama lain. Sungguh, di dalam mimpi pun Tendean tidak pernah bermimpi akan mengarungi malam yang penuh candu seperti ini.


Berlanjut dengan invansi basah yang menyisiri lembah di bahwa sana. Usapan lidah yang begitu dahsyat, hingga sang istri memekik dan memejamkan matanya dengan begitu erat.


"Mas Dean ...."

__ADS_1


Hanya itu ucapan yang bisa Dianti ucapkan dengan lenguhan yang membuatnya dirinya terombang-ambing sekarang ini. Hingga di batas, Tendean mulai menempatkan diri di antara dua paha yang terbuka dan kemudian dia mulai menghujamkan pusakanya ke dalam cawan surgawi yang tersembunyi di dalam sana. Namun, nyatanya pusaka itu tak mampu menembus cawan surgawi ini.


Satu hunusan ... dua hunusan ... tiga hunusan ....


Tendean sampai berpeluh dengan hebatnya, lantas dia berpikir mungkinkah ada yang salah. Tidak mungkin dengan beberapa hunusan dan miliknya masih tidak bisa masuk ke dalam.


"Di, kamu?" tanya Tendean dengan menelisipkan untaian rambut Dianti di sana.


"Hmm, iya Mas Dean," jawab Dianti dengan meneteskan air matanya di sana.


"Astaga, bagaimana bisa Di?"tanyanya bingung dan juga heran.


"Aku menunggu kamu, Mas ... selama ini," jawabnya.


Ya Tuhan, dada Ayah Tendean bergemuruh riuh. Sungguh dia tidak menyangka bahwa istrinya masih gadis di sana. Usianya saja yang menua, tetapi nyatanya ada pengakuan yang diucapkan Dianti bahwa selama ini dia menunggunya.


"Aku akan pelan-pelan dan tidak akan menyakitimu, Di ..."


Kali ini Tendean kembali berusaha, dan menghentak di dalam sana, mencoba mengoyak tirai yang menjadi jalan masuk baginya. Perlahan-lahan, walau dia sangat tahu tetap saja sakit. Akan tetapi, untuk penyatuan ini Tendean tak akan mengambil jeda. Dia yakin dan percaya bahwa ini adalah kejutan terindah untuknya.


"Sakit?" tanyanya perlahan.


"Hmm, iya," balasnya dengan mendekap tubuh suaminya.


"Penyesuaian dulu yah," ucap Tendean yang mulai memberikan hujaman demi hujaman, menghentak dalam kelembutan, dan juga gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk dilancarkan oleh Tendean. Hingga di batas keduanya melebur, rasa sakit yang perlahan-lahan menjadi rasa nikmat. Hingga di batas Tendean merasakan tubuhnya berguncang dengan hebat.

__ADS_1


"Di ... an," de-sahnya disertai dengan letupan lava pijar yang masuk sepenuhnya di ke dalam cawan surgawi.


Sungguh, begitu indah ... buah manis pertama dalam pernikahan untuk keduanya yang sesungguhnya sudah melupakan masa muda. Akan tetapi, nikmatnya justru kembali membakar kembali jiwa muda mereka.


__ADS_2