
Berbicara mengenai pernikahan tidak pernah mudah untuk Tendean. Dua puluh lima tahun yang lalu saat dia kehilangan Desy Febyanti, seolah Tendean tak memiliki hasrat lagi untuk membina rumah tangga. Bagi Tendean, ketika istrinya itu meninggalkannya, hati terasa kosong. Hidupnya terasa datar-datar saja. Kosong dan juga hampa. Kini, Tendean duduk di tepi tempat tidurnya, dengan memijat sendiri keningnya.
"Apakah kamu mendengar permintaan putrimu, Desy? Terasa lucu. Dulu, sewaktu dia kecil. Putrimu itu hanya berpikir bahwa Ayahnya adalah miliknya. Sekarang, ketika putrimu sudah dewasa dan sudah membina keluarga, dia memiliki pria tua ini untuk menikah lagi," ucapnya seorang diri.
Ada senyuman dan gelengan kepala secara samar. Tendean teringat ketika Anaya masih kecil, putrinya itu terkesan protektif dengannya. Bahkan Anaya juga sering menangis, dia dia mengambil pekerjaan di akhir pekan. Sekarang, begitu cepat dewasanya Anaya dan meminta Ayahnya untuk menikah lagi.
__ADS_1
"Aku pun tidak tahu dengan hatiku, Desy. Bertahun-tahun berlalu, bahkan dulu almarhumah Ibu mengenalku beberapa kali dengan putri sahabatnya, menginginkanku untuk menikah, tapi rasanya aku tidak bisa membuka lembaran baru lagi. Kehilangan kamu di masa mudaku, membuatku tak bergairah lagi di masa tuaku. Mungkinkah cinta akan kembali menyapa ketika aku sudah menua, Des? Mampukah aku mengisi hari-hari dengan cinta yang lain?"
Sontak saja dada Tendean terasa sesak. Jika ada orang yang skeptis tentang cinta itu adalah Tendean. Dia merasa tidak akan bisa jatuh cinta lagi. Malam-malamnya berlalu begitu saja untuk mengenang istri tercintanya, Desy Febyanti.
Tendean menitikkan air matanya teringat dengan hari pernikahannya dengan Desy. Dengan balutan Jas hitam, dan Desy yang mengenakan kebaya putih, begitu sederhana. Sebuah Ijab Kabul yang hanya digelar di pelataran kediaman Desy.
__ADS_1
"Setiap kali mengenangmu, hatimu berduka Desy. Aku seperti bunga kamboja putih yang berguguran di atas pusaramu. Putih melambangkan keabadian, tapi putih bagiku hanya sebatas kabut yang perlahan membuatku kian menutup mata hingga hanya gelap saja yang terasa. Setiap kali mengenangmu, hatiku terasa pilu, Desy. Jika ada orang yang tertinggal di belakang untuk beberapa tahun lamanya, itu adalah aku. Aku, hati, dan cintaku masih tertinggal di belakang," ucap Tendean bermonolog seorang diri.
Memang cara orang memproses satu kejadian berbeda-beda. Ada yang merasa tertinggal jauh di belakang, tapi ada pula yang berhasil berlari cepat ke depan. Mengobati luka dengan membuka lembaran baru.
"Bahkan sejak kamu pergi, bulan Februari selalu saja menjadi kelabu untukku. Bulan Februari menjadi bulan yang ingin kulewatkan. Semua duka dan kesesakan seolah memuncak di bulan Februari. Apa akan selamanya pria tua itu meratapi kesendiriannya, Desy?"
__ADS_1
Hingga akhirnya Tendean membaringkan dirinya, dia meraba bagian ranjang yang sudah kosong selama 25 tahun. Meringkuk sendiri, tanpa pernah ada raga hangat yang berbaring di sisinya. Telapak tangannya hanya sebatas mengelusi sisi ranjang yang kosong itu.
"Tenanglah di keabadian, Desy. Apa yang akan terjadi dengan hati dan hidupku, aku yakinkan bahwa aku akan selalu mengenangmu dengan cara yang indah. Seindah perasaan ini yang terus ada seperempat abad lamanya."