
Memang Ayah Tendean tidak serta merta melamar Dianti. Tentu mereka beberapa kali bertemu, bahkan dia juga mengenalkan Dianti secara resmi kepada Anaya. Merasa tidak ingin menunda-nunda, sekarang hari yang sudah dinantikan pun tiba. Hari di mana sang Duda seperempat abad akan melangsungkan pernikahan kedua, yang diharapkan akan menjadi pernikahan yang terakhir.
Merasa sudah menduda, Tendean benar-benar hanya menginginkan pernikahan sederhana di rumah. Walau sederhana, dekorasi pernikahan di taman rumah Tendean memang begitu indah. Mengusung konsep vintage, kesan kuno, tapi syarat akan memori. Mengedepankan unsur kayu, bunga-bunga, dan lampu yang menyulap area kediaman Tendean menjadi begitu indah.
Sementara sudah disiapkan meja untuk melangsungkan akad. Ya, Tendean dan Dianti sama-sama berkeinginan untuk menggelar pernikahan di rumah. Hanya dihadiri dengan keluarga, besannya Ayah Tendean yang tak lain adalah orang tua Tama, dan juga anak-anak dari panti asuhan Kasih Bunda. Kali ini ada keluarga Anaya dan Tama yang menjadi saksi diberlangsungnya pernikahan ayahnya dengan wanita pilihan sang ayah. Tentu Anaya sendiri sangat terharu karena memang ayahnya pada akhirnya memilih menikah lagi ketika usianya sudah memasuki kepala lima.
Sekarang, mulailah akad akan dilangsungkan dan ada wali hakim yang menjadi wali dari Dianti. Itu juga karena kedua orang tuya Dianti sudah tiada, sehingga digantikan oleh wali hakim. Kini wali hakim tersebut sudah menjabat tangan Ayah Tendean.
"Saudara Tendean bin Ali Soekardi. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Dianti binti Didi Prasodjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
__ADS_1
Tampak Tendean mengambil nafas sepenuh dada, dan kemudian dia mengucapkan qobul dengan sepenuh hati.
"Saya menerima nikah dan kawinnya Dianti binti Didi Prasodjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Sah!
Begitu kata sah terucap oleh saksi nikah, Tendean merasa benar-benar merasa begitu lega. Sementara Anaya justru meneteskan air matanya. Begitu haru rasanya. Dia menjadi saksi bagaimana Ayahnya menjalani jatuh bangun lebih dari seperempat abad. Membesarkannya seorang diri, menemaninya ketika dia jatuh, dan sekarang Ayahnya untuk kali pertama memikirkan kebahagiaannya sendiri.
Hari yang begitu bahagia, walau sederhana dan hanya di rumah saja, tapi Tendean dan Dianti merasa begitu bahagia. Begitu juga dengan ucapan terima kasih yang akhirnya Tendean sampaikan kepada Dianti, pendampingnya kini.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mendampingiku, Dianti ... pinanganku kepadamu terkesan terlambat, tapi sebenarnya ini adalah waktu yang tepat. Semoga kita bisa bersama sampai akhir hayat kita," ucap Tendean.
"Sama-sama Mas Dean ... terima kasih juga untuk pinangan ini," balas Dianti.
Rasanya memang terkesan tak mungkin. Seperempat abad lamanya, Tendean memilih menduda dan akhirnya dia sekarang melepas masa dudanya. Terkesan terlambat, tapi di dalam hatinya Tendean yakin bahwa inilah waktu yang tepat. Bersama dengan Dianti, dia akan menghabiskan seluruh waktunya.
"Mulai hari ini, ada kamu yang mendampingi aku. Biasanya aku melewati sendiri, sekarang genggam tanganku," ucap Tendean.
"Sama, Mas ... walau sudah memasuki bahtera pernikahan, PR kita masih banyak. Sehingga, kita harus menyesuaikan diri satu sama lain, dan juga banyak PR untuk kita berdua," balas Dianti.
__ADS_1
Ketika memutuskan menikah dan berumahtangga, bukan berarti semua masalah selesai. Akan tetapi, justru memasuki era baru dan banyak pekerjaan rumah yang harus keduanya selesaikan bersama-sama.