Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Paniknya Suami


__ADS_3

Ayah Tendean benar-benar mensyukuri kehamilan Bunda Dianti kali ini. Akan tetapi, ada masa di mana Ayah Tendean benar-benar takut dan khawatir dengan kondisi istrinya. Terlebih ketika memperhitungkan usia yang sudah tidak lagi muda.


"Bunda, nanti jangan terlalu capek. Kan ada Bibi yang membersihkan rumah dan memasak. Sebisa mungkin, banyak istirahat," ucap Ayah Tendean.


Kira-kira ini adalah pesan yang selalu Ayah Tendean ucapkan kepada Bunda Dianti. Sebenarnya, itu karena Ayah Tendean merasa panik karena tidak bisa menemani Bunda Dianti setiap hari. Ya, semua itu karena ada hari di mana dia harus bertugas sebagai Dokter spesialis saraf di Rumah Sakit. Sehingga mau tidak mau memang harus meninggalkan istrinya.


"Iya, Mas Dean. Selalu ya pesan setiap pagi," balas Bunda Dianti.


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku sangat khawatir kepadamu, Bunda. Terlebih terkait risiko kehamilan di usia yang sudah tidak lagi muda," balas Ayah Tendean.


Bunda Dianti pun tersenyum. Memang ada begitu banyak cara mengekspresikan cinta dan kasih sayang, salah satunya dengan menunjukkan kepanikan seperti ini. Selain itu, Bunda Dianti juga menganggap baik karena itu wujud perhatian seorang suami kepada istrinya.


"Iya, Mas. Aku juga seharian di rumah saja. Paling nanti nulis cerita anak saja. Siang nanti juga Yoga," balas Bunda Dianti.


Ya, mendengar saran dari Dokter Indri untuk menjaga kebugaran salah satunya dengan melakukan Yoga, maka Ayah Tendean memanggil instruktur Yoga ke rumah. Semua itu juga wujud upayanya supaya Bunda Dianti bisa tetap sehat dan bugar.

__ADS_1


"Makasih sudah diperhatikan lebih. Kamu baik banget sih, Mas," ucap Bunda Dianti.


"Sudah pasti aku akan selalu memperhatikan kamu. Aku pernah mendampingi Anaya dulu kala hamil dan kondisi dia harus bedrest berminggu-minggu. Sekarang, aku berharap bahwa kamu akan baik-baik saja sampai waktu bersalin nanti," balas Ayah Tendean.


Setidaknya itu adalah pengalaman Ayah Tendean dulu. Sampai dia merasa panik, dan berharap Anaya baik-baik saja. Untuk kehamilan yang memang berisiko, Ayah Tendean biasanya mudah panik.


"Obatnya jangan lupa diminum. Buah juga. Intinya harus dijaga dengan baik-baik," ucap Ayah Tendean.


Bunda Dianti tersnyum lagi. Itu memang karakteristik suaminya yang memang adalah suami yang perhatian. Hingga akhirnya, Ayah Tendean berpamitan untuk berangkat ke Rumah Sakit. Sekali lagi, dia meminta istrinya untuk berhati-hati. Jika memang membutuhkan bantuan, juga bisa menghubungi Anaya.


Sepeninggal suaminya yang berangkat ke rumah sakit. Ada Bibi Yati yang menyiapkan buah untuk Bunda Dianti.


Di dalam hatinya Bunda Dianti tertawa. Sampai sebegitunya, suaminya memperhatikannya. Bahkan ketika sudah berangkat kerja pun, masih akan menitipkan pesan melalui ART di rumah itu.


"Iya, Bi ... saya makan nanti yah. Habis sarapan tadi. Kurang lebih saat jam lagi, saya makan," balas Bunda Dianti.

__ADS_1


"Kalau membutuhkan bantuan apa pun, jangan sungkan-sungkan ya, Ibu. Bapak sudah meminta untuk selalu sedia membantu Ibu," ucap Bi Yati lagi.


"Iya, nanti saya panggil kalau membutuhkan bantuan. Saya ke kamar dulu dan nonton TV, Bi. Jangan lupa nanti ikan di akuarium diberi makan yah," pesan Bunda Dianti.


Setelahnya, Bunda Dianti memasuki kamarnya. Sekadar menonton siaran di televisi dan juga mengecek handphonenya. Rupanya sudah ada beberapa pesan dari suaminya.


[To: Bunda Dianti]


[Bunda, buah untuk hari ini pisang dan apel. Jangan lupa nanti dimakan.]


[Tidak usah terlalu capek di rumah.]


[Hati-hati di rumah dan jaga baby kita yah.]


[Jangan terlalu banyak minum teh juga.]

__ADS_1


[Aku cinta kamu, Bunda!]


Membaca setiap pesan dari suaminya, Bunda Dianti tersenyum. Dia tahu suaminya itu panik sebenarnya, tapi mewujudkannya dalam bentuk perhatian. Sebagai istri dengan pengalaman hamil pertama kali dan mendapatkan perhatian sebesar ini tentu saja Bunda Dianti justru merasa sangat senang.


__ADS_2