DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
See You Adelya Wistaria


__ADS_3

Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah Adel. Sembari menunggu mobil yang mereka tumpangi sampai di sana Ditha dan Claudia saling mengobrol di dalam mobil.


"Pertemuan dan perkenalan kita itu kayak singkat banget, lu ngerasain kan Clau?" tanya Ditha pada Claudia.


Claudia menganggukan kepalanya.


"Dan gua baru kenal keluarga Adel juga belum lama banget tapi, gua bisa ngerasain apa yang di rasain Adel hari ini," jelas Ditha.


Claudia mengusap punggung Ditha. "Iya, Tha. Bukan lu doang, gua juga sama bisa ngerasain apa yang di rasain Adel. Kalau gua di posisi dia gua juga bakalan terpuruk."


"Emang sih gua enggak bisa ngatur buat biar selalu utuh rumah tangga orang tapi, setidaknya mereka bisalah jangan egois begitu. Mereka punya anak loh."


"Iyah, sabar Tha. Lu jangan ke bawa emosi, ini masalah rumah tangga orang tuanya Adel. Mungkin ini jalan terbaik buat kelurga mereka. Kita ke sana cuman mau menguatkan dan kasih support Adel kan?" Ditha menganggukkan kepalanya. "Oke, jadi lu jangan ke bawa emosi kalau udah sampai sana," lanjut Claudia.


Ditha tersenyum dan menatap Claudia. "Iya."


Tidak lama mobil pun berhenti di depan gerbang rumah Adel. Keduanya pun turun dari dalam mobil. Claudia memencet bel rumah Adel tak lama ada seorang Pembantu yang datang dan membukakan pintu gerbang rumah Adel.


"Siapa ya?" tanya sang Pembantu.


"Kita temannya Adel, Bi," jawab Claudia.


"Adelnya ada di rumah?" tanya Ditha.


"Mba Adel sama Nyonya sudah pergi ke bandara Mba," jawab sang Pembantu.


Claudia dan Ditha saling bertatapan.


"Loh bukannya pesawatnya itu take off sore ya, Bi?" tanya Claudia.


"Tidak jadi Mba. Di undur karena, Nyonya yang minta dia sengaja buru-buru meninggalkan rumah ini," jawab sang Pembantu.


"Kalau gitu kita langsung ke sana aja Clau," ajak Ditha.


Claudia menganggukkan kepalanya. "Bi, kita pamit ya. Makasih informasinya."


"Makasih ya, Bi, informasinya," sahut Ditha.


"Sama-sama. Hati-hati ya, Mba," ucap sang Pembantu.


Claudia dan Ditha hanya menanggapinya dengan senyuman mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Sedangkan, Pembantu Adel sudah menutup gerbang rumah dan kembali ke dalam rumah majikannya itu. Lalu mobil yang Claudia dan Ditha tumpangi sudah meninggalkan halaman rumah Adel.


...ΩΩΩ...


Cuaca siang ini sangat cerah tidak seperti cuaca tadi pagi yang agak mendung dan dingin dikarenakan mungkin habis turun hujan. Namun, tidak begitu dengan suasana hati orang ini. Ia seperti di selimuti rasa yang mengganjal dalam dirinya. Siapa lagi kalau bukan Ezra. Kehadiran sang mantan terkadang membuat sebagian orang akan merasa terganggu terlebih saat orang itu sudah mempunyai pasangan yang baru.


"Zra‚ pacar kamu itu seperti apa sih aku penasaran," ucap Viola. Ia memang datang ke kantor Ezra entah tujuannya untuk apa.


"Yang jelas tidak seperti kamu," sahut Ezra.

__ADS_1


Viola tertawa. "Memangnya aku seperti apa Zra? Jahat?"


"Mungkin."


Viola menghampiri Ezra di kursi kebesaran milik Ezra. "Bukannya kamu yang jahat?"


Ezra yang melihat gerak-gerik Viola mencurigakan, ia segera agak menjaga jarak dari Viola.


"Tujuan kamu ke sini sebenarnya apa, Viola?"


Viola kembali mendekati Ezra. "Ekhm … aku cuman mau mampir aja ke kantor kamu. Kebetulan tadi aku lewat kantor kamu jadi, aku sekalian ke sini saja."


"Kalau kamu sudah enggak ada lagi urusan dengan saya, kamu bisa pergi."


"Kamu barusan ngusir aku, Zra?"


"Bukan ngusir, saya lagi sibuk hari ini."


Viola menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku enggak mau ganggu kamu. Tapi, next time aku akan sering-sering mampir ke kantor kamu Zra." Setelah mengatakan seperi itu pada Ezra, Viola pergi meninggalkan ruangan kantor Ezra. Terlihat jelas dari raut wajah Ezra ia tidak senang akan kehadiran sang mantan pacarnya itu dalam kehidupannya kembali.


...ΩΩΩ...


Kedua wanita itu tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. Tinggal sedikit lagi Adel dan Mamahnya sudah memasuki boarding gate namun, dengan cepat Ditha memanggil Adel.


"Adelya …," panggil Ditha pada Adel.


Mereka bertiga melepaskan pelukannya.


"Lu kenapa enggak cerita sama gua Del? Gua kan teman lu juga," ucap Ditha.


"Gua bukannya enggak mau cerita sama lu, gua cuman belum kuat aja cerita ke banyak orang. Memangnya Claudia enggak cerita?"


"Kalau enggak cerita mustahil dong kita berdua ada di sini," sahut Claudia.


Adel tertawa. "Ya, siapa tau aja lu berdua lagi mau ketemu sama saudara? Bisa aja kan."


Akhirnya mereka bertiga berbincang-bincang lebih lama sebelum Adel dan Mamahnya benar-benar memasuki boarding gate. Mamahnya tau betul jika membawa anaknya ikut dengannya keluar negeri adalah pilihan yang salah namun, jika ia tidak membawa Adel dengannya apakah Papah kandungnya mau mengurusinya dengan baik sebaik dirinya mengurusi Adel? Cukup lama mereka bertiga berbincang-bincang akhirnya mereka harus benar-benar berpisah saat Mamahnya Adel memanggil Adel.


"Kapan-kapan kalian harus main yah ke sana?" pesan Adel pada kedua temannya.


Keduanya pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau gua dapat suami kaya raya tajir melintir, gua janji bakalan main ke sana," sahut Ditha.


"Aamiin," Claudia dan Adel serempak menjawabnya.


"Gua juga kalau gua udah nikah gua janji bakalan bawa suami gua buat main ke sana," timpal Claudia.


Adel tersenyum dan ia menyentuh kedua bahu temannya itu. "Kalian harus janji ya sama gua. Sesibuk apapun kalian, komunikasi kita tetap bakalan berjalan."

__ADS_1


Keduanya tersenyum dan saling memeluk Adel.


"Iyah, gua janji," ucap Ditha.


"Gua juga janji Del. Walaupun gua sibuk pacaran gua bakalan hubungi lu," sahut Claudia.


Mereka bertiga melepaskan pelukannya.


"Jadi, nyamuk dong nanti gua Clau," ucap Adel.


"Ya, enggak dong. Kan gua pacarannya sama bayangan," sahut Claudia.


Sontak saja itu membuat keduanya temannya tertawa.


"Adel …," panggil sang Mamah. Ketiganya menoleh saat Mamahnya Adel memanggil Adel.


"Gua doain semoga Ditha segera punya pasangan kalau bisa suami yah Tha. Dan buat lu Claudia gua doain semoga lu emm—"


"Kok giliran doain gua agak berat gitu ya," sahut Claudia.


"Emang berat, kayak beban hidup lu Clau wkwk … bercanda. Gua doain semoga lu berubah ya dan bisa dapetin pasangan yang sesuai dengan kriteria lu," kata Adel.


"Berubah maksu—"


Tiba-tiba Mamahnya Adel menghampiri mereka bertiga.


"Apa kalian masih lama mengobrolnya?" tanya Mamahnya Adel.


"Ini udah selesai kok, Ibu," sahut Ditha berbohong. Padahal mereka juga pasti ingin lebih lama lagi mengobrol tapi apalah daya keberangkatan pesawat yang menjadi penghalang mereka.


"Yasudah, ayo Del. Kita ke boarding gate," ucap Mamahnya pada Adel.


Adel menganggukkan kepalanya. "Gua pergi dulu ya, jaga diri kalian baik-baik di sini." Pesan terakhir Adel untuk kedua temannya itu sebelum dirinya pergi ke luar negeri.


"Lu juga jaga diri lu baik-baik di sana," ucap Ditha.


"Jangan terlalu memikirkan masalah yang menimpa keluarga lu ya Del. Lu harus happy-happy di sana," timpal Claudia.


"Baik, pergi dulu ya. Kalian berdua jangan lupa main ke sana," ucap Mamahnya Adel.


Ditha dan Claudia sama-sama menganggukkan kepalanya.


"Insya Allah, Bu," sahut Ditha


"Pasti itu mah, Tante," timpal Claudia.


Adel beserta Mamahnya sudah pergi dari hadapan Ditha dan Claudia. Mereka berdua tersenyum menatap kepergian yang sudah mereka anggap seperti keluarga mereka sendiri itu.


"See you Adelya Wistaria," ucap Claudia.

__ADS_1


__ADS_2