
Setelah beberapa hari kepindahan Adel ke luar negeri siswa maupun siswi, baru mengetahuinya di hari ini. Rumor itu sudah beredar di kelas mereka tetapi, bagi Ditha dan Claudia bukanlah hal yang mengejutkan lagi.
"Ditha … lu kan teman dekatnya, Adel. Alasan dia pindah kenapa?" tanya Zaky.
Ditha yang sedang mengobrol dengan Claudia menoleh ke arah Zaky.
"Anak kecil enggak boleh kepo," jawab Ditha.
"Anak kecil matamu. Gua udah pubertas kali."
"Curhat?"
"Terserah lu!" Zaky pergi dari hadapan Ditha dan Claudia.
Di saat suasana kelas masih ramai karena belum kedatangan Guru, di situ pula Ditha melihat pria melewati kelasnya diikuti juga dengan suara bersin.
"Kayak dia," ucap Ditha pelan.
Claudia menoleh ke Ditha. "Dia siapa, Tha?"
"Ah … dia … dia enggak tau deh."
"Ish, enggak jelas banget."
"Bay the way, tadi pagi pas gua berangkat sekolah gua lihat, Kak Gino," ucap Ditha.
"Ngapain? Di mana?"
"Di cafe, sama cewek. Mungkin pacarnya."
"Bolos dia? Padahal udah mau ujian praktek loh."
"Suka-suka dia lah, kita enggak usah mikirin begituan."
"Tapi, dia kan naksir lu, Ditha."
"Selagi masih suka itu hal yang wajar, Clau. Kita enggak bisa selamanya menempatkan rasa suka itu hanya ke satu orang aja. Perasaan kan enggak ada yang tau. Begitupun cinta."
Claudia bertepuk tangan. "Teman gua bijak banget gaes!"
Ditha tertawa, tak lama ekspresi tawanya pudar saat ada seseorang yang berdiri di ambang pintu sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Gua?" tanya Ditha.
Seseorang itupun menganggukkan kepalanya. Ditha menghampiri seseorang itu. Dan dia di suruh ikut dengannya.
"Mau ngapain sih, Om?" tanya Ditha. Om yang di maksud oleh Ditha adalah Ezra. Entah, tujuan Ezra menyuruh Ditha mengikutinya apa Ditha sendiri pun tidak tahu.
"Tanggung jawab."
Ditha menautkan kedua alisnya. "Tanggung jawab apa? Emangnya gua bikin lu hamil di luar nikah apa, suruh tanggung jawab."
"Saya jadi bersin-bersin seperti ini kan gara-gara kamu."
__ADS_1
Ditha tertawa. "Enggak usah fitnah. Lu lupa ya? Atau pura-pura enggak ingat?"
"Fakta."
"Terserah. Gua mau ke kelas," pamit Ditha. Namun, Ezra langsung memegang pergelangan tangan Ditha.
"Tolong buatkan saya teh hangat dahulu. Baru kamu boleh ke kelas."
Ditha menoleh dan melepaskan tangan Ezra. "Bikin sendiri, jangan manja."
"Kepala saya pusing, Ditha. Kalau enggak pusing saya enggak akan menyuruh kamu."
"Alasan."
"Kalau kamu enggak mau, yasudah sana," usir Ezra. Ezra pun meninggalkan Ditha di meja kerja miliknya.
"Oke, gua bikinin!" teriak Ditha. Ditha keluar dari ruangan kantor Ezra dan ia menuju kantin sekolahnya.
...ΩΩΩ...
Seperti hari-hari biasa Nek Yeyen pergi ke pasar sebelum pergi bekerja, tak hanya menghidupi dirinya saja ia harus menghidupi sang cucu juga. Nek Yeyen tadi mendapat kabar dari tetangganya bahwa ada pasar murah di dekat rumahnya. Ia pun segera ke sana. Sudah banyak ibu-ibu rumah tangga yang sedang memilih sayur maupun lauk pauk yang ada di sana. Saat sudah selesai berbelanja di pasar Nek Yeyen tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi dahulu ke minimarket.
...ΩΩΩ...
Sudah dari tadi Ditha di buat kesal oleh penghuni kantin yang rata-rata pembelinya adalah pelajar dari sekolah ini, ia sudah capek-capek mengantri tetapi di selak begitu saja. Kini saatnya Ditha mendapat giliran untuk memesan teh hangat, setelah mendapatkannya ia langsung membawa segelas teh hangat itu ke ruangan Ezra. Ditha mencari keberadaan Ezra saat dirinya sudah berada di dalam ruangan tersebut, ia panggil- panggil pun tak ada sahutan dari Ezra. Ditha akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan Ezra namun, saat tangannya baru menyentuh gagang pintu terdengar suara seperti orang sedang mengigau.
"Eum ...."
Ditha menoleh dan menyusuri dalam ruangan Ezra.
Ditha mengetuk kamar yang ada di dalam sana dan ia buka pintunya. Ditha pun melihat Ezra tengah telentang di atas sofa ia hampiri lah Ezra.
"Om … ini tehnya udah gua buatin juga, malahan tidur," ketusnya.
Ezra membuka kedua matanya. "Taruh di atas meja saja, nanti saya minum."
"Ih … nanti keburu enggak hangat lagi. Tau enggak! Gua butuh perjuangan banget nih buat mesan teh ini demi siapa? Demi lu lah."
"Kan tadi saya sudah bilang, kalau kamu tidak mau buatkan yasudah."
Kalau lu enggak baperan, enggak akan gua bikinin Om! Kesal banget gua ngomong sama lu enggak pernah nyambung, batin Ditha.
Ditha menyodorkan gelas tersebut pada Ezra. "Cepat di minum!"
Ezra menerimanya namun, ia masih dalam posisi terlentang baru saja ia ingin meminumnya Ditha sudah mencegahnya.
"Lu tuh ya benar-benar kaya anak bayi tau enggak! Bangun dulu nanti baju lu basah gimana? Mau bikin gua susah lagi?"
"Kepala saya masih pusing, Ditha."
"Pusing? Kenapa enggak bilang dari tadi sih! Biar gua ke sini sekalian bawa obat buat lu. Ish … enggak ngerti lag—"
"Tadi kepala saya belum pusing, ini baru banget pusingnya."
__ADS_1
"Yaudah, kita ke UKS aja."
"Tidak usah."
"Kenapa enggak usah? Di sana banyak obat dan nanti lu juga di periksa sama, Dokternya. Ribet deh."
"Sudah sana katanya kamu mau ke kelas, enggak usah khawatirkan saya."
Ditha tertawa. "Siapa khawatirkan lu? Aneh. Gua hari ini lagi baik, jarang-jarang kan gua baik sama orang."
Ditha mengambil gelas teh hangat itu di tangan Ezra lalu ia taruh di atas meja kemudian, ia menarik lengan Ezra untuk membantunya berdiri dan mau pergi ke UKS. Ezra dengan sangat terpaksa menuruti perintah Ditha. Saat di tengah-tengah lorong sekolah mereka berdua bertemu Pak David.
"Kalian kok dekat-dekat begitu? Lagi akur?" tanya Pak David.
"Bayi besarnya lagi sakit, Pak," jawab Ditha.
Ezra menoleh pada Ditha. "Maksud kamu apa?"
"Enggak usah pura-pura nanya deh," ucap Ditha.
"Lu sakit, Zra? Sejak kapan jadi manja gini ke siswi pula?" tanya David sekaligus meledeknya.
"Siapa yang manja? Dia yang maksa gua buat ke UKS," sahut Ezra.
"Gengsi dia, Pak. Mau jujur tapi ada saya di sini."
"Hey!" ucap Ezra.
"Apa!" sahut Ditha.
Ezra memenggangi keningnya. Ditha yang merasakan sedikit oleng ia pun semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Ezra.
"Tuh kan kambuh lagi, makanya jangan bentak-bentak gua."
"Yang bentak kamu siapa! Jangan fitnah kamu."
"Udah-udah, kalian berdua ribut terus ya. Dari awal saya liat kalian berdua ribut mulu. Kalau dilihat-lihat seperti ini kalian cocok juga," ucap Pak David. Keduanya tentu saja menoleh pada Pak David.
"Cocok, Pak?" Ditha tertawa. "Orang gila pun sudah pasti nolak, Pak kalau sama dia," sindir Ditha.
Ezra menjauhi dirinya dari Ditha. Pak David yang melihatnya hanya terkekeh kecil melihat dua manusia di hadapannya itu seperti sudah ditakdirkan untuk bersama.
"Ayo, Zra gua yang antar lu ke UKS. Ditha, kamu kalau mau ikut duluan saja ke UKSnya," ucap Pak David.
Ditha menganggukkan kepalanya. "Yaudah saya duluan ya, Pak," pamitnya. Setelah Ditha melegang pergi dari hadapan mereka berdua, Pak David menggoda Ezra di sela-sela perjalanannya menuju UKS.
"Awas nanti naksir," sindir Pak David.
"Enggak ngerti lagi gua sama murid lu Bang."
"Kenapa, emangnya?"
"Kesal gua pokoknya sama dia."
__ADS_1
Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di dalam UKS Ditha yang sudah sampai duluan ia hanya duduk dengan tangan memainkan ponselnya. Sedangkan, Pak David pamit karena ia sudah ada jadwal mengajar di kelas lain.
"Biar saya periksa dulu ya, Pak," ucap Dokter. Ezra yang sudah berbaring di atas BED UKS hanya merespon dengan senyuman.