
Kursi roda yang Ezra duduki berhenti tepat di hadapan Ditha.
"Ditha …," panggil Ezra tanpa menoleh ke belakangnya.
"Kenapa?"
"Dorongin kursi roda saya," suruh Ezra.
"Berat." Cuek Ditha.
"Kalau belum pernah di coba, jangan pernah bilang berat."
"Lagian kenapa sih lu enggak sewa suster? Lu kan orang kaya raya hartanya banyak," ucap Ditha diikuti tangan yang memegang handle dan mulai mendorong kursi roda Ezra.
"Belum ada yang cocok."
"Kayak nyari calon istri aja, harus yang cocok."
Mereka berdua memasuki lift untuk menuju lantai dua karena, tidak mungkin Ezra harus lewat eskalator. Saat sudah sampai Ditha kembali mendorong kursi roda Ezra hingga tepat berhenti di depan sebuah pusat permainan yang ada di dalam mall sana.
Sudut bibir Ditha melengkung sempurna saat ia melihat banyak anak kecil bermain di area permainan dengan di temani oleh kedua orang tuanya. Tiba-tiba ia teringat pada sebuah foto yang di mana dirinya bersama kedua orang tuanya, berfoto di dalam area permainan. Saat itu dirinya masih berusia 1 tahun 3 bulan.
"Mau main ke sana?" tanya Ezra sambil menatap Ditha.
Ditha segera mengalihkan pandangannya ke Ezra. "Enggak, gua cuman kangen aja."
"Kangen sama siapa?"
"Mamah sama Ayah."
"Maaf, enggak bermak—"
"Enggakpapa, udah lama banget juga meninggalnya."
Ezra yang tak enak hati berusaha mengalihkan obrolannya dengan mengajak Ditha memasuki pusat permainan tersebut. Ezra memaksa agar Ditha mau menurutinya dan akhirnya Ditha mau untuk diajak masuk ke dalam area permainan itu. Karena, Ezra berfikir mereka berdua ke sini kan mau senang-senang bukan melow-melowan kayak Ditha yang rasakan tadi walaupun tidak terlihat sedang sedih setidaknya cerita Ditha tadi sudah cukup untuk menggambarkan suasana hati Ditha.
Tidak terasa waktu malam tiba keduanya pun meninggalkan area mall sebelumnya mereka berdua berbelanja beberapa keperluannya masing-masing lebih tepatnya Ezra memaksa Ditha untuk belanja sepuasnya karena, ia tidak mau membuang waktu ke mall hanya untuk jalan-jalan saja tidak belanja satupun. Ia bukan tipe seperti itu jika sudah pergi dengan Ezra apapun itu harus pulang membawa belanjaan. Mobil Ezra berhenti di depan rumah mendiang Nek Yeyen. Sebelum Ditha turun dari mobil, Ezra mengajak ngobrol Ditha terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mana ponsel kamu?" pinta Ezra.
"Buat apa?"
Tangan Ezra menengadah. "Udah, cepat sini."
Dengan ragu-ragu Ditha memberikan ponselnya pada Ezra. Tak lama Ezra mengembalikan ponsel milik Ditha.
"Barusan sudah saya masukkan nomor ponsel saya. Kalau ada apa-apa atau perlu apa tinggal hubungi saya," ucap Ezra datar. Padahal di balik ucapannya yang datar itu menyimpan sejuta perhatian yang terselubung.
"Thanks ya. Saya banyak berhutang budi sama Om dan keluarga Om."
Kamu enggak sadar ya, Ditha? Yang seharusnya berhutang budi ke kamu itu saya karena, saya sudah bikin Nenek kamu kecelakaan. Mungkin, kalau bukan gara-gara saya Nenek kamu masih hidup. Tidak di penjarakan saja saya sudah sangat-sangat berhutang budi sekali dengan Nenek kamu, batin Ezra meratapi kesalahannya.
Ezra hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Ditha keluar dari mobil Ezra saat itu pula pandangan Ditha teralihkan pada sebuah garis polisi yang terpasang mengitari area rumah tetangganya. Karena, rasa penasarannya Ditha pun menghampiri salah satu anak remaja tetangganya yang berada di sana.
"Kenapa, ada garis polisi, Ham?" tanya Ditha pada anak remaja SMP itu.
"Itu anaknya Bu Fitah, meninggal gara-gara ada yang perkosa dia terus langsung di bunuh buat hilangin jejaknya."
"Enggak ada. Ibu Fitah, lagi pergi ke rumah saudaranya. Katanya sih anaknya itu tadi dia tinggal masih tidur. Kemungkinan pagi, orang tadi baru terungkapnya habis Ashar pas Ibu Fatih mau bangunin anaknya enggak ada sahutan jadi dia ke dalam kamarnya eh nemuin anaknya udah tewas enggak pakai baju. Masih di selidiki sih itu faktanya gimana," jelas cowok yang bernama Hameds.
"Astaghfirullah. Jahat banget sih," ucap Ditha pelan.
"Lu kan tinggal sendiri, hati-hati loh Tha. Bisa jadi teman apa pacar lu yang ngelakuinnya nanti."
Ditha menatap Hameds sinis. "Amit-amit ih jangan sampai, bay the way gua enggak punya pacar kali." Setelah mengatakan itu Ditha kembali pulang ke rumahnya. Ia berjalan menunduk membayangkan jika anak Ibu Fitah itu ia lah dirinya bagaimana nasib Neneknya?
"Kok di sana ada garis polisi?" tanya Ezra dari dalam mobil.
Kedua alis Ditha menyatu. "Kenapa, masih di sini, Om?" Bukan menjawab malah kasih pertanyaaan lain, sungguh Ezra tidak menyukai hal itu.
"Jawab dulu kalau orang tanya."
"Oh … di sana ada korban pembunuhan." Ditha tidak menjelaskan secara rinci akibat pembunuhan itu penyebabnya apa namun, bukan lah Ezra namanya jika ia tidak curiga akan hal itu. Ia bisa melihat ekspresi wajah Ditha saat menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Ia menyuruh sopirnya untuk mencari tau fakta yang sebenarnya apa penyebab pembunuhan di sana siapa tau ada kaitannya dengan ekspresi wajah Ditha itu. Tak lama sang sopir sudah kembali dan menjelaskan detail penyebab kasus pembunuhan seorang anak gadis tetangganya itu.
"Kalau kamu merasa enggak aman tinggal di sini sendirian, saya akan bayar pengawal 24 jam untuk menjaga rumah kamu."
Ditha yang semula menunduk mendongakkan kepalanya dan menatap Ezra. "Enggak … enggak usah. Buang-buang uang aja."
"Sekarang pilihannya cuman ada dua, pertama saya bayar pengawal atau yang kedua kamu tinggal di rumah Mamah," ujar Ezra.
Ditha terdiam.
"Saya enggak akan maksa kamu tapi, kamu harus ingat sekarang kamu tanggung jawab saya. Walaupun pernikahan kita baru sah secara agama dan belum resmi secara negara setidaknya itu sudah termasuk tanggung jawab saya sebagai seorang suami."
Ditha tidak menjawabnya ia malah langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya. Tetapi, Ezra tidak langsung pergi begitu saja ia masih stay di dalam mobil beberapa menit untuk menunggu jawaban Ditha. Kembali lagi Ezra melihat pintu rumah Ditha tidak lama muncullah Ditha dari dalam dengan menenteng tas besar yang kemungkinan isinya adalah beberapa keperluan dia. Ditha menghampiri Ezra di dalam mobil setelah menggembok pintu rumahnya.
"Kamu udah yakin?" tanya Ezra ragu-ragu.
"Yakin, lagian saya masih mau hidup dan menua bersama keluarga saya nanti di masa depan," jawab Ditha setelah menduduki bokongnya pada kursi di sebelah Ezra.
Ezra menyunggingkan senyumnya. "Kang, jalan sekarang," pinta Ezra pada sopirnya yang langsung diiyakan sang sopir.
Mobil sedan berwarna biru tua itu sudah sampai di gerbang rumah tingkat yang cukup mewah. Sebelum memasuki garasi ketiganya turun dari mobil sang sopir membantu Ezra turun sedangkan, Ditha ia membantu memegangi kursi rodanya agar tidak bergerak. Keduanya mulai memasuki ke dalam rumah saat sampai di ruang tamu keduanya di sambut oleh Jessy.
"Baru pulang? Dari mana aja sih kalian berdua?" tanya Jessy sekaligus meledeknya.
"Jangan mulai," sahut Ezra. Ezra mendongakkan kepalanya ke atas. "Kamu kalau mau mandi langsung ke kamar tamu aja," lanjutnya.
"Kamarnya di bawah ya, Ditha. Bukan di atas soalnya, Kak Ezra kan belum bisa jalan," jelas Jessy.
Apa hubungannya sama dia? Maksudnya nanti gua sekamar gitu tidurnya? Apa gimana sih? batin Ditha.
"Iyah. M–Mamah ada di mana?" tanya Ditha ragu-ragu saat mengucapkan kata 'Mamah'.
"Belum pulang, kayaknya Mamah baru pulang besok deh," jawab Jessy.
Ditha menganggukkan kepalanya.
"Saya mau ke dapur dulu," pamit Ezra kemudian, melenggang pergi begitu aja.
__ADS_1
Ditha dan Jessy berpisah di ruang tamu karena, Jessy ingin pergi bersama teman-teman kuliahnya entah akan ke mana. Sedangkan, Ditha ia ingin membersihkan dirinya di kamar tamu.
TBC