
Masih berusaha untuk merebut ponselnya kembali ke tangannya. Ezra sengaja mengerjai Ditha karena, ia ingin membalas perbuatan yang dilakukan oleh Ditha kepadanya.
"Astaghfirullah, Om balikin ponsel gua. Capek tau gua. Lu tega ya sama cewek," ucap Ditha saat dirinya berhenti merebut ponsel miliknya.
Drettt! Drettt!
Ezra melihat id panggilan telepon pada ponsel Ditha, tertera di sana nama si penelepon.
Ezra menautkan kedua alisnya. "Brian?"
"Pacar gua telepon, siniin ponsel gua om!" ucap Ditha.
"Memangnya, ada yang mau sama cewek galak seperti kamu ini?" tanya Ezra. "Mungkin pacar kamu ini sudah terkena tekanan batin yang kronis. Kamu enggak mau cek dia ke dokter?" lanjutnya.
Ditha sudah benar-benar ingin memakan Ezra detik itu juga. Ditha berjalan mendekati Ezra, langkah kaki Ezra perlahan-lahan mundur hingga dimana tubuh Ezra menabrak tembok yang ada di dalam sana.
Ponsel yang tadi tidak berbunyi, kini kembali berbunyi nada panggilan telepon.
"Jangan macam-macam ya." Ezra memperingati Ditha karena, ia melihat Ditha seperti orang yang ingin menghabisi nyawa manusia.
Tangan Ditha terulur menuju rambut tebal Ezra yang ada di atas kepalanya. Namun, sayang belum sempat menggapai rambut itu Ezra sudah menggenggam tangan Ditha. Ezra mendekatkan wajahnya dan ia berbisik di telinga Ditha.
"Kamu mau jambak saya? Rumah ini sepi loh, kalau kamu macam-macam ke saya. Saya bisa lebih macam-macam ke kamu," bisik Ezra.
Ditha tersenyum misterius. "Gua enggak takut. Lu mau macam-macam sama gua? Yakin?"
"Sangat yakin," jawab Ezra dengan suara beratnya. Tentu saja itu membuat jantung Ditha berdetak kencang. Sampai Ditha memegangi jantungnya itu. Ezra yang melihatnya langsung bertanya.
Jantung gua, kenapa ya? batin Ditha.
"Kamu deg-degan dekat saya?" Ezra menatap Ditha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan-jangan kamu naksir saya?" tanya Ezra kembali tepat di hadapan wajah Ditha.
"Enggak usah kepedean deh jadi cowok. Gua naksir lu? Mending gua naksir sama cowok idiot sekalian," jawab Ditha.
"Jangan naif jadi wanita, kalau naksir tinggal bilang. Mumpung saya ada di sini."
Ditha tertawa diikuti dengan tangan Ezra yang ia tepis dari tangannya. Kemudian, Ditha merampas ponselnya dari tangan Ezra.
"Terserah lu deh Om!" ucap Ditha. Lalu, Ditha pergi dari hadapan Ezra. Ditha pergi ke halaman rumah untuk mencari angin.
Tling!
Brian Tamvan: Kenapa, enggak diangkat Tha?
^^^Ditha: Sorry ya, tadi gua lagi sibuk di dapur. Emangnya, ada apa Bri?^^^
__ADS_1
Brian Tamvan: Enggakpapa, cuman kangen aja. 😅
^^^Ditha: Kangen? Baru kemarin ketemu gua.^^^
Brian Tamvan: Kemarin kapan? Itu udah setahun yang lalu, Ditha ....
^^^Ditha: Oh iya, gua lupa Bri. 🥲🤣^^^
Brian Tamvan: Gua mau curhat lagi nih sama lu.
^^^Ditha: Curhat apa? Sad or happy?^^^
Brian Tamvan: Sad.
^^^Ditha: Haduh, gua enggak bisa Bri. Takut enggak kuat gua dengarnya.^^^
DUARRRR!
Suara petir yang begitu menggelegar berbunyi begitu saja saat Ditha sedang sibuk chattingan dengan Brian. Ditha melihat awan yang sepertinya akan turun hujan begitu deras sebentar lagi.
"Kayanya mau turun hujan deras. Sedangkan, gua belum pulang. Bisa-bisa Nenek gua marah-marah lagi ini. Gara-gara Om tua itu!" gerutu Ditha.
Ditha pun memilih masuk ke dalam rumah Ezra kembali. Saat dirinya sudah berada di dalam ia tidak melihat keberadaan Ezra. Sudah hampir pukul dua belas siang namun, Ditha belum juga pulang ke rumah. Ditha menghampiri kamar Ezra ia meminta tolong untuk mengantarnya pulang menggunakan motor yang ada di garasi tetapi, Ezra menolaknya dengan alasan karena cuaca saat ini seperti mau turun hujan.
"Di rumah cuman ada satu pasang jas hujan saja."
"Jangan bandel kalau di bilangin. Nanti aja kalau sudah cerah."
"Ih, kelamaan. Atau … jangan-jangan lu sengaja ya biar gua lama-lama di rumah lu ini. Naksir kan lu sama gua!" tuduh Ditha.
"Saya sudah punya pacar dan mana mungkin saya naksir sama kamu. Ada-ada saja." Ezra menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata Ditha tertuju pada sebuah benda kecil yang berada di atas meja milik Ezra di dalam kamar sana. Ditha menghampiri dan mengambilnya.
"Ini kaya kunci motor," ucap Ditha. Ditha menatap Ezra dengan tatapan curiganya. "Lu bohong kan sama gua? Ini buktinya ada kunci motornya."
"Barusan saya cari di kamar Mamah."
Ditha menarik pergelangan tangan Ezra untuk ikut dengannya ke bawah.
"Anterin gua pulang sekarang!! Enggak ada penolakan apapun itu!" tegas Ditha.
Ezra tidak berkutik ia menuruti permintaan Ditha.
...ΩΩΩ...
__ADS_1
Di tempat lain justru sang Nenek harus menerima pemberi harapan palsu lagi dari sang cucu karena, cucunya itu sampai hari ini belum pulang ke rumahnya.
"Nek … lagi ngapain di sini?" tanya Pak Rt.
"Biasa Pak Rt, cucu saya."
"Enggak pulang lagi?"
"Bukan enggak pulang lagi, udah pindah rumah mungkin. Dua hari belum pulang."
"Enggak di kabarin sama Ditha Nek?"
"Sudah. Tapi, sampai siang ini belum sampai rumah juga."
"Tunggu di rumah aja Nek, jangan di pos ronda. Nanti di culik loh."
Nek Yeyen tertawa, saat mendengar lelucon dari Pak Rt.
"Mana mau Pak Rt sama yang udah banyak keriputan kaya saya ini. Ada-ada aja Pak."
"Memang ada loh Nek, penculiknya yang umurnya seumuran dengan Nek Yeyen."
"Terserah Pak Rt ajalah. Pusing saya."
...ΩΩΩ...
Kendaraan beroda dua itu sudah melaju beberapa menit yang lalu, siapa lagi kalau bukan Ezra dan Ditha. Mereka menaiki motor yang diperkirakan harganya setara dengan harga mobil milik Ezra. Ezra tidak mempermasalahkan harganya namun, ia yang permasalahkan ialah jika membeli sesuatu yang mahal atau murah namun ia gunakan tidak nyaman untuk apa di beli? Begitulah pemikiran Ezra bukan untuk kenyamanan ia sendiri tetapi ia juga memikirkan kenyamanan orang lain jika ikut memakainya.
"Naik motornya yang cepat si Om," ucap Ditha.
"Keselamatan nyawa kita itu yang lebih utama," sahut Ezra.
"Bilang aja lu mau modus kan sama gua!" tuduh Ditha.
"Apa? Saya enggak dengar?" tanya Ezra.
"LU MODUS KAN SAMA GUA! SENGAJA DI PERLAMBAT BAWA MOTORNYA. BIAR BISA LAMA-LAMA BERDUAAN SAMA GUA!" teriak Ditha.
"Enggak usah fitnah, kalau kamu mau kamu saja yang bawa."
"Kalau gua yang bawa, mending tadi gua pulang sendiri ngapain sama lu coba? Enggak jelas banget," ketus Ditha.
Ezra tak menggubrisnya ia malah lebih fokus untuk mengendarai motornya. Dan tidak terasa motor yang di kendarai Ezra sudah sampai di rumah Ditha. Tepat sekali Ditha turun dari motornya, hujan turun begitu sangat deras hingga membasahi tubuh Ezra.
Ditha menarik lengan Ezra untuk masuk ke dalam rumahnya. "Di sini aja dulu, jangan langsung pulang," larang Ditha yang langsung diiyakan oleh Ezra.
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam rumah yang di mana rumah itu tidak terlihat ada Nek Yeyen. Ditha mempersilahkan Ezra untuk duduk. Dan Ditha izin ke kamar mandi untuk berganti pakaiannya.
TBC