
Pak David menjentikkan jarinya di hadapan Ditha tentu saja itu membuat Ditha tersadar dari lamunannya, yang di mana tadi Ditha sempat melamun walaupun hanya sebentar.
"Kamu melamun, Ditha? Siapa yang sedang kamu lamun, kan?" tanya Pak David penasaran.
"A–ah bukan siapa-siapa, Pak. Saya lagi agak pusing aja, Pak." Ditha memegangi kepalanya supaya aktingnya berjalan mulus.
"Terus?"
Kedua alis Ditha menyatu. "Terus? Terus apa, Pak?"
Helaan napas dari dua bolongan hidungnya terlepas kasar begitu saja. Entah dia sedang di uji kesabarannya atau memang yang dia ajak bicara sedang menguji dirinya. Sungguh jika bukan karena penasaran pak David sangat malas berurusan dengan hal ini.
"Pertanyaan saya belum kamu jawab."
"Pertanyaan yang tadi, Pak?"
"Ya."
"Kan, tadi saya udah jawab."
"Ya, Tuhan. Ini anak benar-benar menguji kesabaran saya," gumamnya.
Tok … Tok … Tok …
Mata keduanya teralihkan pada pintu ruangan, pak David menyuruh orang yang mengetuk pintu tersebut masuk ke dalam. Nampak orang tersebut adalah seorang pria keduanya sangat mengenalinya.
"Om Ezra? Mau ngapain dia ke sini?" gumam Ditha.
"Sini, Zra. Bay the way, lu masih betah aja di duduk di kursi roda. Enggak mau sembuh lu?"
Ezra mendekati keduanya. "Ya, mau lah. Setiap orang yang lagi sakit pasti mau sembuh, Bang."
Pak David tertawa. "Tapi, kayaknya enggak berlaku di lu deh."
Ezra menoleh pada Ditha. "Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Ezra yang masih menoleh pada Ditha.
"Oh iya, gua lupa. Kalian berdua kan ada di sini langsung aja, ya."
Ditha menatap Ezra cuek. "Bapak, kenapa lihatin saya terus? Naksir sama saya?"
Ezra segera membuang penglihatannya itu ke lain tempat. "Belajar yang benar, jangan mikirin cinta-cintaan dulu."
"Lho, saya kan cuman bertanya," sahut Ditha.
"Udah, stop, ya. Sekali aja kalian berdua akur, enggak bisa?" tanya Pak David yang sudah sangat sabar mendengar keduanya ribut terus.
Keduanya menggeleng kompak. Pak David yang melihatnya memijat pelipisnya, sungguh dia seperti sedang bersama 2 bocah balita yang sulit untuk di kasih tahunya.
"Zra, lu jangan kayak anak kecil begin—"
"Siapa yang anak kecil sih, Bang? Lagian lu ngapain nyuruh gua ke sini? Kalau ada perlu kan bisa lewat telepon."
"Seingat gua tadi, gua pernah ngomong begini deh. Yang ada lu ngapain datang ke sini? Kan tadi, gua bilang lewat telepon aja ngobrolnya. Terus, lu minta datang ke sini, atau jangan-jan—"
"Pak, maaf." potong Ditha. "Kalau enggak ada perlu sama saya lagi, saya izin mau ke kelas."
Pak David dan Ezra sama-sama menoleh ke Ditha. Ditha malah jadi salah tingkah dilihatin 2 orang di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kamu bisa pergi," usir Ezra.
Kedua alis pak David menyatu dan dia beralih menatap Ezra.
"Urusan gua sama dia belum selesai," sahut Pak David.
"Jadi, urusan lu sebenarnya sama siapa?" tanya Ezra.
"Sama kalian berdua," jawab Pak David datar.
"Tadi, pak David nanya ke saya. Kita berdua ada hubungan apa," sahut Ditha.
"Lu beneran nanya begitu, Bang?" Pak David mengangguk yang artinya berarti benar. "Gila lu!"
Pak David langsung mengacak-acak rambut Ezra. "Gila-gila, gua waras kali."
"Lagian lu nanya begitu ke dia, maksud lu apaan coba? Jangan aneh-aneh deh, gua udah punya pacar. Ya, kali gua selingkuh."
Ditha memutar kedua bola matanya. Jengah dan agak tidak setuju dengan ucapan Ezra. Pasalnya dia sudah selingkuh dan kini bahkan sudah berstatus menikah dengan Ditha. Di saat hatinya sedang kesal Ezra malah menatapnya seakan-akan meminta maaf atas ucapannya tadi. Tetapi, Ditha segera membuang tatapannya ke lain tempat.
"Benar kalian berdua enggak ada hubungan apa-apa?" tanya Pak David pada mereka berdua.
"Enggak ada hubungan apa-apa, Pak David. Saya kan enggak kenal sama dia," jawab Ditha mewakili Ezra.
"Terus lu ke sini cuman minta nomor, Ditha buat apa, Zra?"
Ezra gelagapan namun, tetap tenang dia tidak mau Ditha tahu akan hal itu apalagi kini pak David tahu entah dia tahu dari mana itulah isi pikiran Ezra saat ini.
"Kata sia—"
"Kata, Claudia," potong Pak David.
"Diam, artinya benar. Dan di balik itu semua pasti ada apa-apanya."
Ditha menelisik wajah Ezra dari jauh sedikit dia temukan ada kecurigaan. Memang selama ini dia belum pernah memberikan nomornya pada Ezra. Karena, buat apa tidak ada untungnya bukan? Lalu seingatnya hanya Ezra saja yang pernah memberikan nomornya pada dirinya. Itupun juga sudah hilang.
"Pak, saya pergi dulu, ya. Silahkan di lanjut obrolannya," pamit Ditha. Dia beranjak dari duduknya saat baru mau membuka pintu ruangan, tiba-tiba.
"Eh?" Ditha menunduk melihat ada tangan yang menyentuh perutnya dan dia menoleh ke belakang ternyata di sana ada Ezra yang tengah mengikatkan jaket pada pinggangnya.
Ditha menatap Ezra dengan raut bingung di wajahnya Ezra yang mengerti menatapnya dengan tatapan datar.
"Merah." Hanya 5 kata yang terlontar dari mulut Ezra setelah itu Ezra membalikkan tubuhnya dan kembali mengobrol dengan pak David.
"Merah?" Ditha mengulang kembali ucapan Ezra barusan.
Tiba-tiba matanya membulat sempurna kala dia mengingat sesuatu kemudian, Ditha keluar dari ruangan pak David. Lalu tangannya menyentuh bokong dan di lihatlah di sana bahwa ada bercak merah tembus sampai rok sekolahnya. Entah antara malu atau senang karena di perlakukan seperti tadi oleh Ezra dia pun bingung.
Saat dirinya sedang senyum-senyum sendiri di saat itu juga ada Zaky dan Reval lewat di hadapannya. Ditha tidak menyadari akan kehadiran mereka berdua.
Zaky menginjak sepatu milik Ditha dengan kasar. "Dasar ODGJ!" sahut Zaky.
Ditha terperangah akibat kakinya merasakan sakit karena ada yang menginjak sepatunya dia pun menatap Zaky dengan penuh amarah.
"Sorry, gua enggak ikutan, ya!" sambar Reval.
"ZAKY! SETAN BANGET LO!" teriak Ditha. Dan itu membuat beberapa pelajar yang ada di dalam kelas sampai keluar dari kelasnya begitupun dengan pak David dan Ezra yang tengah mengobrol mereka juga ikutan keluar dari ruangan. Lalu Zaky dan Reval? Mereka berdua sudah lari terbirit-birit mereka tidak mau kena amukan dari Guru-guru di sana cukup dari Ditha saja itupun juga tidak seberapa.
__ADS_1
"Ditha! Kamu kenapa teriak-teriak kayak tadi? Ada apa?" tanya Pak David.
Ditha tidak menjawabnya dia sedang menahan sakit pada kakinya akibat di injak oleh Zaky dan tak hanya itu saja Ditha juga tengah menahan sakit pada perutnya mungkin akibat dari menstruasinya.
Ezra yang faham menyuruh agar pak David masuk ke ruangannya sedangkan, dia biar yang mengurus Ditha. Pak David pun mengiyakannya dan kini hanya menyisakan Ditha dengan Ezra saja. Para pelajar tadi yang sempat keluar kelas sudah kembali masuk ke dalam kelasnya.
"Ikut saya ke ruangan," perintah Ezra.
"Enggak mau. Saya mau ke kelas aja," sahut Ditha cuek.
"Ikut saya ke ruangan."
"Enggak mau."
"Ditha!"
"Om, udah dong jangan paksa—" Ucapan Ditha terpotong karena, tangannya sudah Ezra bawa menuju ruangannya. Ditha pun hanya pasrah dan menahan rasa kesalnya dalam-dalam.
Saat sampai di dalam ruangan Ditha di suruh duduk oleh Ezra sedangkan, Ezra dia sedang mengambil sesuatu di dalam kamar ruangannya.
"Maksa banget sih, dasar cowok!" gerutu Ditha.
Ezra kembali dengan membawa kotak p3k dan kursi rodanya berhadapan dengan Ditha yang duduk pada sofa yang ada di sana.
"Apa aja yang sakit?" tanya Ezra, sambil mengambil obat luar.
"Hati gua sakit," gumam Ditha.
"Kenapa?"
Ditha gelagapan, untung saja Ezra tidak mendengarnya.
"Enggak. M–maksudnya, semuanya sakit."
"Apa, semuanya?" pekik Ezra.
"Maksudnya, perut sama kaki yang sakit. Tapi, enggak apa-apa kok udah biari—"
"Buka kancing seragam kamu!"
"Hah? Mau ngapain?"
"Cepat buka, Ditha. Saya enggak punya banyak waktu."
Ezra melepaskan sepatu pada kaki Ditha serta kaus kakinya dan matanya tidak mengedip saat dia melihat langsung kaki mulus Ditha di hadapannya itu. Sungguh ciptaan tuhan tidak ada duanya. Namun, tatapannya seketika beralih pada punggung kaki Ditha terlihat agak memar berwana keunguan.
"Om, udah jangan … bau tahu ih. Emang enggak jijik, ya?"
"Kok bisa sampai kayak begini sih?"
Tangan Ezra beralih pada minyak pereda kembung atau sakit dia oleskan pada perut Ditha dengan perlahan-lahan ke sana dan ke sini. Sampai-sampai Ditha memejamkan kedua matanya.
"Tadi, di injak sama, Zaky."
"Kok bisa?" tanya Ezra.
"Enggak tahu. Stresnya kambuh kali," jawab Ditha masih dalam keadaan terpejam.
__ADS_1
Ezra mengancingkan seragam milik Ditha setelah di oleh minyak tadi, tetapi tatapannya justru malah salah fokus pada benda padat menyembul itu yang tertutup oleh branya. Ditha tiba-tiba saja menggaruk bagian yang menyembul itu tentu saja itu membuat jakun Ezra bergerak tidak karuan. Tampak kelihatan sedikit p**i*gnya di dalam sana.
TBC