
Matanya masih dalam keadaan terpejam namun, pergerakan tubuhnya di atas ranjang tidak mengganggu aktivitas dalam tidurnya. Tangannya terulur memeluk sebuah benda padat panjang menyembul. Tubuhnya kembali menggeliat hingga dirinya hampir berada di ujung ranjang.
BRUG!
Ditha memegangi bokongnya yang sudah terdampar mengenai lantai kamar tersebut. "Haduhhh … bokong gua! Sakit banget, bisa-bisa di amputasi ini mah," keluhnya lalu ia kembali ke atas ranjang sambil mengelus-elus bokongnya itu.
Lain dengan Ezra ia sudah bangun tidur sejak pagi. Setelah urusannya di taman belakang ia kembali memasuki ke dalam rumah. Saat dirinya berada di ruang tamu tiba-tiba.
"Hai, sayang!" sapa wanita di hadapannya itu kemudian ia mencium pipi kanan dan kiri Ezra lalu yang terakhir mencium bibir Ezra sekilas.
Ezra masih mematung seperti habis ke sambar gledeg di siang bolong, sungguh kedatangan kekasihnya itu membuat keadaan menjadi sangat menegangkan.
"Kamu … kenapa enggak bilang mau pulang ke Indonesia?" tanya Ezra.
"Ih, kamu gimana sih? Aku kan pernah telepon kamu tapi, malah kamu reject," jelas Rinda dengan ekspresi cemberutnya yang di buat-buat.
"Jadi, kamu telepon aku mau bilang kepulangan kamu ke sini?"
Rinda menganggukkan kepalanya. "Iya."
Tanpa mereka ketahui di sudut ruang tamu ada sepasang mata seorang gadis yang melihatnya. Gadis itu mendengus kesal, ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya entah itu apa dia sendiri pun belum mengerti. Akhirnya gadis itu memasuki kamar tamu kembali dan menguncinya lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Kok gua lihatnya jadi sewot ya? Padahal kan itu hak dia, mau di ciuman atau pacaran hak dia kan? Tapi, kan beda cerita lagi kalau udah nikah. Siapapun itu istrinya pasti marahlah suaminya main di sosor begitu aja kayak soang aja setiap ada orang lewat nyosor pakai bibirnya," gumamnya.
Ditha merebahkan tubuhnya kembali di atas kasurnya. Ia jadi tidak ingin keluar untuk menemui Ezra padahal niat awalnya memang ingin mencari Ezra namun, akhirnya malah yang ia cari sedang bercumbu dengan wanita lain.
Tok … Tok … Tok …
Pandangan Ditha teralihkan pada pintu kamarnya. Jujur saja ia malas untuk bangkit dari kasur. Namun, suara ketukan itu terus saja mengganggu pendengaran Ditha. Dengan terpaksa Ditha mendekati pintu itu dan membukanya.
"Kenapa, Bi?"
"Maaf, Mba Ditha ganggu. Tadi, Mas Ezra bilang katanya, Mba Ditha di suruh ke meja makan," ucap Pipin asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja pada keluarga Ezra.
"Oke, Bi makasih."
__ADS_1
Pipin pun pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain di bawah sana.
Saat sudah berada di meja makan ia melihat Ezra tengah memainkan ponselnya. Ezra yang merasa sedang di perhatikan matanya pun menatap Ditha.
"Baru bangun?"
"Iya," jawab Ditha bohong.
"Belum sarapan kan? Sarapan aja dulu enggakpapa, saya ada urusan. Saya ke sana dulu, "pamit Ezra yang langsung diiyakan oleh Ditha.
Ditha menatap kepergian Ezra itu sambil bibir yang berkomat-kamit seperti sedang menahan kesal.
Sok perhatian! Giliran di belakang gua aja, ugh! Rasanya mau gua untal deh tuh orang, batin Ditha.
Ditha segera menyantap makanan yang ada di atas meja sana karena, ia sudah lapar sekali di tambah melihat pemandangan tadi pagi yang sungguh merusak pengelihatan kedua matanya.
...ΩΩΩ...
Kepulangan Rinda ke Indonesia tentu saja membuat kedua orang tuanya sangat senang. Jujur saja setelah kepergian sang Kakak yang sudah tidak tinggal lagi di rumah, keduanya merasa kesepian seperti sudah tidak mempunyai anak lagi. Rinda mengabarkan orang rumah agar tidak usah menjemputnya di bandara karena, ia ingin menginap di hotel dahulu sebelum pulang ke rumah, ia tadi pun sempat mampir ke rumah sang kekasih hatinya itu.
"How are you, Mom and Dad?" tanya Rinda pada kedua orang tuanya setelah melepaskan pelukannya.
"Daddy and Mommy, baik sayangku," jawab Mommynya.
"Kamu baik kan, sayang?" tanya Daddynya.
"Aku selalu baik Dad," jawab Rinda tersenyum palsu.
Mereka bertiga memasuki ruang tamu dan berbincang-bincang lebih banyak untuk mengetahui sang putrinya itu bagaimana ia menjalani kehidupan di luar negeri sana sendirian.
...ΩΩΩ...
Ditha yang masih menyimpan rasa kesalnya itu berusaha terlihat baik-baik saja saat di hadapannya Lula. Lula belum mengetahui kalau Rinda sudah pulang ke Indonesia dan tadi sempat datang ke rumahnya. Karena, Ezra juga belum cerita dengannya. Kini keduanya sedang berada di ruang keluarga.
"Kamu semalam tidur di kamar mana, Ditha?" tanya Lula penasaran. Padahal ia sudah tau jawabannya.
__ADS_1
"Kamar tamu, Bu," jawab Ditha.
Lula menoleh ke Ditha. "Kamar tamu kan ada dua, di atas sama di bawah. Kamu di mana?"
"Di atas, Bu."
"Enggakpapa, kalau kamu belum siap buat satu ranjang dengan Ezra. Tante masih memakluminya, semua memang butuh proses."
Ditha tersenyum. "Oh iya, Bu. Saya, mau tanya. Boleh?"
"Boleh, dong."
"Apa alasan, Ibu menikahi, Om Ezra dengan saya?" tanya Ditha.
DEG!
Sejujurnya ia sangat penasaran mengenai hal sepenting ini karena, tidak harus saling menikahkan kedua manusia yang tidak saling menyukai maupun mencintai. Kalaupun Ditha menuntut keadilan atas kecelakaan yang di alami sang Nenek, ada kemungkinan bagi Ditha untuk membicarakan kejadian tersebut secara kekeluargaan.
Lula sudah mempersiapkan mentalnya untuk menjelaskan ia sudah siap jika harus menerima kekecewaan dari menantunya dan ia menatap lekat sorot mata Ditha.
"Begini ya, Ditha. Mamah sebetulnya awalnya ragu untuk menikahkan kalian berdua karena, Mamah mikirin perasaan pacarnya Ezra juga begitupun perasaan Nenek kamu dan diri kamu. Cuman Mamah enggak mau egois dan belum siap jika anak Mamah ini masuk ke penjara atas kasus kecelakaan yang di alami Nenek kamu. Karena, pada saat itu Mamah takut … Mamah takut kamu membawa masalah ini ke jal—"
"Jadi … Ibu menikahi kami berdua hanya karena, ingin terlepas dari masalah pada saat itu, iya? Ibu terpaksa merencanakan ini untuk agar bebas dari hukuman, iya? Terus, semua ini dari awal memang sudah Ibu dan keluarga Ibu rencanakan?"
Tepat sekali saat Ditha bertanya seperti itu pada Mamahnya, Ezra ada di sana namun ia tidak langsung menghampiri ia hanya ingin mendengar dahulu obrolan apa yang di bicarakan Mamahnya itu dengan istrinya.
Lula menggelengkan kepalanya. "Enggak … sayang, bukan seperti itu maksud Mamah. Mamah hanya ingin menebus kesalahan besar Ezra yang ia lakukan terhadap Nenek kamu. Makanya Mamah memilih untuk menikahkan Ezra dengan kamu. Dan pada saat itu, Nenek kamu merestuinya. Beliau juga mengatakan kalau umur dia enggak panjang, lantas bagaimana dengan kamu nanti? Kehidupan kamu kedepannya nanti bagaimana? Kalau beliau meninggal yang akan menjaga kamu siapa? Nanti kalau kamu sakit, siapa yang akan merawat kamu? Siapa yang akan memberi kamu makan? Dia lebih memikirkan kebahagiaan dan keselamatan juga kesehatan kamu sayang."
Ditha meneteskan butiran-butiran air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Kalau, nenek sayang sama aku, kenapa harus dengan cara ini sih? Lebih baik aku putus sekolah terus cari kerja untuk menghidupi kebutuhanku sehari-hari, di banding harus menikah di usia yang seharusnya aku masih bisa bebas-bebasnya bermain ke sana ke sini bareng teman-teman," gumam Ditha.
Ditha beranjak dari duduknya kemudian ia memilih meninggalkan Mamah mertuanya itu sendiri saat dirinya ingin menuju kamar tamu ia melihat sekilas di sana ada Ezra namun, ia memilih melanjutkan berlari menuju kamar tamu.
Saat di dalam kamar, Ditha memasuki kamar mandi lalu ia mengunci pintu kamar mandi kemudian ia duduk di bawah shower sambil menyalakan air shower tersebut agar ia lebih leluasa menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Gua enggak pernah nyangka kalau kehidupan gua bakalan berubah seperti ini," ucapnya di sela-sela menangisnya. "Enggak mudah buat menerima keadaan semua ini. Semua hadir, semua datang secara tiba-tiba begitu aja di kehidupan gua. Demi menghindari proses hukum mereka seenaknya melakukan ini semua ke gua, dan lebih bodohnya Nenek malah merestui pernikahan gua dengan dia," sambungnya. Ditha menangis sejadi-jadinya.