DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Jangan Tinggalin Aku …


__ADS_3

Ezra memejamkan matanya sambil menunggu selesai di periksa Dokter. Sedangkan, Ditha hanya memperhatikannya dari jauh. Saat sudah selesai memeriksa Ezra Dokter UKS itupun menghampiri Ditha.


"Dia sakit apa, Dok?" tanya Ditha.


"Darah rendahnya kambuh dan Pak Ezra sepertinya masuk angin," jawab Dokter.


"Mungkin gara-gara kena air hujan kali ya," gerutu Ditha. Namun, Dokter itupun mendengarnya.


"Nah, bisa saja. Kalau mau, di bawa aja ke rumah sakit," saran Dokter sambil menulis resep pada kemasan obat yang ingin ia berikan pada Ditha.


"Kalau itu sih biarin jadi urusan dia aja, Dok. Saya cuman murid doang."


Dokter tersebut memberikan obat itu pada Ditha, Ditha pun menerimanya. "Ini obatnya dihabiskan ya, nanti kamu kasih tahu, Pak Ezra kalau belum ada perubahan langsung ke rumah sakit saja."


Ditha tersenyum. "Iya. Terima kasih, Bu Dokter."


"Sama-sama. Kalau begitu saya mau ke toilet dulu ya," pamit Dokter yang langsung diiyakan oleh Ditha.


Setelah kepergian Dokter yang menangani Ezra tadi, kini hanya mereka berdua saja di dalam UKS itu. Ditha menghampiri BED UKS dan ia berdiri di samping BED.


"Om …‚" panggil Ditha.


Masih belum ada jawaban, Ditha kembali mencoba memanggilnya. Saat sudah lima kali ia panggil, Ezra akhirnya membuka kedua matanya.


"Apa?"


"Lu tuh tidur beneran, apa pura-pura sih? Sengaja ya biar bikin gua kesal!"


"Betul, saya memang sengaja."


"Rese banget sih lu!"


"Kata, Dokter. Saya kenapa?"


"Enggak tau, tanya aja sendiri!" ketus Ditha.


Ezra turun dari BED UKS dan ia melangkahkan kakinya menuju keluar UKS namun, baru saja ia sampai pintu UKS Ditha sudah memanggil namanya.


"Kata, Dokter darah rendah lu kambuh dan kayanya lu masuk angin." Ditha meraih tangan Ezra dan ia memberikan obatnya. "di habiskan, amanah dari, Dokternya," lanjutnya.


Ezra menggenggam obat miliknya. "Terima kasih." Hanya itu kata yang Ezra ucapkan.


"Iya. Lu mau kemana? Pulang?"


"Ya," jawab Ezra diikuti tangan yang memegang keningnya.


"Kalau masih pusing di sini aja dulu, bahaya loh nyetir dalam keadaan pusing."


Seperti yang Ditha lihat Ezra nampak tidak mendengarkan saran Ditha. Ezra meninggalkan Ditha sendirian di UKS dan Ezra memilih untuk pulang ke rumah dalam keadaan kepalanya yang masih pusing.


...ΩΩΩ...


Cuaca hari ini yang tadinya sangat cerah kini terlihat awan mendung menghiasi di sepanjang jalan perkotaan itu. Tanda-tanda mau hujan pun sudah diperkirakan oleh BMKG. Nek Yeyen yang baru keluar dari pintu minimarket ia harus masuk kembali ke dalam karena, hujan turun dan terdengar suara petir yang sangat begitu jelas membuat para pembeli serta karyawan maupun karyawati merasa was-was, takut terjadi hal yang tidak di inginkan.


Setengah jam menunggu akhirnya hujan sudah reda, begitupun dengan Nek Yeyen ia pergi meninggalkan minimarket tersebut. Di sela-sela perjalanan pulang Nek Yeyen melewati jalanan yang jarang sekali ada kendaraan lewat namun, baginya tidak masalah karena itu adalah jalan pintas jalan yang tidak terlalu jauh untuk menuju rumahnya. Di jalanan itu banyak sekali genangan air bekas hujan tadi, tentu saja itu membuat yang lewat harus berhati-hati di tambah jalanan itu sangat licin akan sangat bahaya jika kendaraan yang melintas tidak hati-hati.


Dari kejauhan Nek Yeyen, melihat sebuah mobil sedan berjalan kencang namun, Nek Yeyen melihat kejanggalan. Mobil itu berjalan oleng ke kanan dan ke kiri, Nek Yeyen pun sempat was-was takut ia akan di tabrak mobil itu. Mobil itu semakin mendekat ke Nek Yeyen, Nek Yeyen pun berjalan menepi ke trotoar jalan yang ada di sana tak lama mobil itu pun berjalan menjadi sangat kencang dan akhirnya.


JGEEER!


Mobil sedan tersebut menabrak Nek Yeyen hingga Nek Yeyen terpental sekitar 5km dari tempat kejadian, Nek Yeyen dan si pelaku sama-sama sudah pingsan di tempat kejadian. Berhubung di jalan tersebut jarang sekali ada yang lewat mereka berdua pun masih belum ada yang membantu mereka berdua. Mobil pelaku kedua lampu sein depan hancur dan spion mobilnya penyok karena, akibat menabrak pohon yang ada di sana.


...ΩΩΩ...


PYARRR!


Sebuah ponsel milik Ditha tiba-tiba jatuh begitu saja dari genggamannya. Firasat hatinya pun mengatakan bahwa ada kejadian buruk yang sudah terjadi.


"Ditha, punya ponsel itu jangan di banting-banting," ucap Claudia sambil memungut ponsel Ditha yang terjatuh itu.


Ditha memegangi jantungnya. "Firasat gua, Cla—"


"Kenapa Firasat lu?"


Ditha menatap Claudia. "Firasat gua enggak enak, enggak tau tiba-tiba kaya ada sesuatu yang terjadi. Gua takut."

__ADS_1


Claudia mengusap punggung Ditha. "Cuman firasat doang kok,.Tha. Do'ain aja semoga enggak terjadi apa-apa."


"Tapi, gua ngerasa gua bakalan nerima berita buruk, Clau."


"Udah, Tha tenang aja. Jangan mikirin yang enggak-enggak."


Ditha mengambil ponselnya dan mengaktifkan ponselnya yang tadi sempat mati. Saat sudah hidup Ditha mencari nama kontak yang ia tuju adalah Nenek Ke 1 yang berarti adalah Nek Yeyen.


Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


Hanya suara dari operator yang Ditha dengar.


"Nelfon siapa, Tha?" tanya Claudia.


"Nenek gua tapi, enggak ke sambung."


"Coba lagi, Tha."


Ditha mencobanya Namun, hasilnya tetap nihil hanya suara operator saja yang ia dengar dari tadi.


"Gua takut terjadi sesuatu sama Nenek gua, Clau," lirih Ditha.


"Lu jangan mikirin yang macam-macam, Tha. Berdoa aja semoga, nenek lu baik-baik aja atau mungkin aja enggak ada sinyal apa sibuk. Kan, nenek lu kerja."


Ditha menyandarkan kepalanya di atas meja kelasnya. "Semoga aja semua baik-baik aja."


"Aamiin."


Tak lama ponsel Ditha berbunyi, Ditha pun segera melihatnya ia melihat nomor panggilan telepon dari nomor yang ia tidak kenal.


"Siapa, Tha?"


"Nomor enggak di kenal."


"Angkat aja, siapa tau nomor majikan, nenek lu."


"Males ah."


"Ih si Ditha, siapa tau penting. Angkat aja."


"Ditha … kenapa? Lu baik-baik aja kan?" Tidak ada respon sungguh itu membuat Claudia semakin panik. Tidak lama Ditha menjatuhkan ponselnya begitu saja dari genggamannya dan ia terduduk di kursi miliknya.


Ditha tersenyum dan ia menatap Claudia. "Enggak … enggak … enggak mungkin. Enggak mungkin kan ini? Ini pasti cuman prank."


Claudia yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa memberi semangat untuk Ditha.


"Ditha …," panggil Claudia pelan.


"Enggak … ini enggak mungkin terjadi kan, Clau?"


"Apa? Apa yang enggak mungkin terjadi, Tha?"


Ditha beranjak dari duduknya dan ia mengambil tasnya kemudian berlari meninggalkan kelas dan pergi meninggalkan area sekolah, entah tujuan Ditha untuk kemana.


"DITHA … LU KENAPA? MAU KEMANA? JANGAN PERGI GITU AJA KALAU LAGI ADA MASALAH!" teriak Claudia yang sama sekali tidak di gubris oleh Ditha.


...ΩΩΩ...


Garis polisi sudah terpasang mengitari tempat kejadian kecelakaan mobil sedan biru tua dengan seorang Ibu-ibu paruh baya. Korban serta pelakunya pun sudah di bawa ke rumah sakit. Pihak rumah sakit pun sudah menghubungi keluarga korban yang kemungkinan akan datang sebentar lagi. Keduanya pun sedang dalam proses penanganan oleh Dokter. Masih dalam tahap menangani tiba-tiba saja ada yang menggedor-gedor pintu ruang rumah sakit tersebut. Seorang suster yang melihatnya pun langsung mencegahnya.


"Maaf, Mba ini rumah sakit tolong jangan berbuat kegaduhan," ucap sang Suster.


"Nenek, saya ada di dalam, Sus" teriak wanita tersebut dengan histeris. "Saya mau lihat Nenek saya," lanjutnya.


"Sabar sebentar ya, Mba. Dokter, lagi menangani pasien. Mbanya, tunggu di sini saja dulu."


HIKS! HIKS! HIKS!


Gadis yang berseragam SMA itupun terduduk di lantai rumah sakit sambil menangis.


"Nek … jangan tinggalin aku … plis," lirih wanita tersebut.


"Apa Mba, keluarga dari korban yang ada di dalam?" tanya Suster.


Gadis tersebut menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baik. Nama, Mba siapa? Dan ke sini dengan siapa? Apa ada pihak keluarga selain, Mba?"


Gadis SMA tersebut menggelengkan kepalanya. "Enggak ada. saya doang, Sus. Nama saya Ditha dan saya ke sini sendirian."


Ya, wanita tersebut adalah Ditha. Sebelumnya Ditha sudah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan Neneknya mengalami kecelakaan parah sehingga Ditha segera berlari menuju ke rumah sakit itu tanpa memperdulikan Claudia temannya itu


Suster tersebut membantu Ditha untuk berdiri agar Ditha duduk di kursi tunggu dekat ruangan yang menangani Nek Yeyen. Suster tersebut sudah mencatat biodata keluarga korban yang mengalami kecelakaan. Tak lama Dokter yang berada di dalam ruangan itu keluar. Ditha beranjak dari duduknya dan menghampiri Dokter itu.


"Nenek, saya baik-baik aja kan, Dok?" tanya Ditha.


"Apa Mba, keluarga dari korban kec—"


"Iya, saya cucu dari korban di dalam, Dok. Gimana, nenek saya?"


"Begini, Mba. Korban kecelakaan mengalami pendarahan yang sangat banyak di area kepalanya."


"Tolong, lakukan yang terbaik buat kesembuhan nenek saya, Dok."


"Iya, Mba kami mengerti. Kami akan berusaha sebisa dan semampu kami. Kami akan melakukan operasi pada area kepala korban. Apa, Mba bersedia?"


"Kalau itu yang terbaik buat, nenek saya. Saya bersedia, Dok."


"Baik."


"Biaya operasinya berapa, Dok, kira-kira?"


"Sekitar 75 juta, untuk lebih jelasnya, Mba langsung saja tanya ke petugas administrasi rumah sakit."


DEG!


"75 Juta?" Ditha mengulang kembali pernyataan Dokter.


"Iya. Dan kami tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan nyawa korban."


"Ta–tapi uang sebanyak itu dari mana, Dok? Saya enggak punya uang sebanyak itu," lirih Ditha.


"Mb—"


"Dok, pasien di dalam terus mengeluarkan banyak darah, Dok," sahut sang perawat yang membantu Dokter itu menangani Nek Yeyen.


Dokter itupun pamit pada Ditha dan masuk ke dalam ruangan itu kembali. Sedangkan, Ditha ia berjalan lesuh menuju meja resepsionis. Saat sampai di sana ia bertanya pada petugas administrasi saat sudah mendapatkan penjelasan, Ditha semakin bingung untuk mendapatkan uang sebanyak itu dari mana.


"Mba … ruangan korban yang baru saja mengalami kecelakaan ada di mana ya?" tanya Ibu-ibu pada petugas resepsionis tepat di hadapan Ditha.


"Atas nama siapa ya, Bu?"


"Ezra Arsenio Lewend."


Ditha yang semula menunduk kini ia mendongakkan kepalanya setelah mendengar omongan orang di hadapannya itu.


"Oh, Pak Ezra. Ada di ruangan nomor 11, Ibu," jawab petugas resepsionis.


"Baik. Terima kasih ya, Mba."


"Iyah, Ibu, sama-sama."


Ditha menunjuk jarinya pada Ibu-ibu di hadapannya. "Ibu Lula?"


Ibu-ibu itu pun menoleh Ditha saat dirinya mau pergi dari meja resepsionis. "Ditha? Kamu lagi apa di sini?"


"Nenek, saya habis menjadi korban kecelakaan, Bu," ucap Ditha.


"Astaga, terus keadaannya gimana sekarang?"


"Belum tau, Bu. Kata, Dokter mau di operasi. Tap–tapi saya terkendala dengan biaya operasinya," lirih Ditha diikuti air mata yang berjatuhan menyentuh kedua pipinya.


Lula pun mendekati Ditha dan mengusap punggung Ditha. "Sabar cantik, sabar. Memangnya biaya untuk operasi, nenek kamu berapa?"


"75 Juta."


"Kalau, Tante bayarkan operasi, nenek kamu. Kamu bakalan nolak enggak?"


Ditha menatap Lula dengan tatapan yang penuh banyak sekali pertanyaan.


Ternyata, masih ada ya orang baik di jaman ini. Tapi, enggak tau kenapa kata hati gua menyuruh gua untuk menolak kebaikan Ibu Lula ini, sebenarnya apa yang akan terjadi nanti? Feeling gua selalu merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi setelah ini, batin Ditha.

__ADS_1


TBC


__ADS_2