DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Cafe Asmara


__ADS_3

Setelah kedatangan Ezra kemarin ke rumah mendiang Nenek Ditha, Lula sudah mencecar beberapa pertanyaan pada anaknya itu. Ekspresi wajahnya berubah berharap mendapat jawaban yang menyenangkan namun, nyatanya hanyalah sebuah harapan yang belum berujung dengan kepastian. Tetapi, Lula memakluminya karena jika ia di posisi Ditha mungkin akan sama halnya yang Ditha rasakan sampai saat ini.


"Kasian Ditha, dia sekarang udah enggak punya siapa-siapa lagi. Niat Mamah kan baik mau mengajak dia tinggal sama kita tapi, dia malah nolak kaya e—"


"Mah … Ditha masih butuh waktu, jangan buat dia enggak nyaman Mah," sahut Jessy yang sudah duduk di sebelah Ezra.


Lula menghela nafasnya. "Iyah-iyah … Mamah tau. Nanti hari weekend Mamah mau ke rumah Nenek Ditha. Mamah mau bicara sama dia."


"Jangan di paksa Mah, anak seumuran dia fikirannya masih labil. Nanti juga dia pasti akan mau tinggal di sini." Sungguh Ezra pusing kalau sudah berurusan dengan Mamahnya yang susah untuk di bujuk agar tidak memaksakan keinginan orang lain.


"Enggak Mamah paksa, Mamah cuman mau bicara lebih dekat aja sama Ditha," ujar Lula.


Baiklah Ezra akan menunggu hari itu tiba. Ia sendiri pun juga tidak akan pernah memaksakan kehendak Mamahnya untuk mengajak Ditha tinggal bersamanya karena, ia fikir Ditha berhak memilih terlebih ia masih berkabung setelah kepergian Neneknya.


...ΩΩΩ...


'Terkadang kita butuh waktu yang sangat panjang untuk benar-benar menerima semua keadaan ini yang menimpa pada diri kita sendiri.'


Ditha membaca kalimat bijak itu pada mading yang ada di sebelah perpustakaan sekolah. Kata bijak itu seakan benar-benar menggambarkan kehidupan ia yang jalani saat ini. Kemudian, mata Ditha beralih pada kata bijak di sebelah tulisan tadi.


'Kamu berhak bahagia, walaupun kebahagiaan itu tidak semata-mata keinginan kamu.'


Ditha tersenyum miris setelah membaca kedua kata-kata bijak itu pada kertas yang berbeda. Memang kedua kata-kata bijak itu sangat menggambarkan kehidupan ia saat ini. Di paksa untuk tersenyum, padahal hatinya sedang menangis. Menutupi luka demi melihat seseorang bahagia.


"Hai, Ditha." Suara berat itu membuat pandangan Ditha teralihkan. Ditha menoleh ke samping kanannya di sana ada Gino Kakak kelasnya yang katanya menyukai dirinya.


Ditha tersenyum tipis. "Kenapa, Kak?"


"Sorry, gua nganggetin lu ya?"


"Enggak, santai aja."


"Gua mau ngomong serius sama lu." Gino to the poin ia tidak ingin berbasa-basi pada Ditha.


"Yaudah, ngomong aja."


"Tapi, enggak di sini."


Ditha menautkan kedua alisnya. "Terus, mau dimana? Di tolitet?"


Gino tertawa renyah. "Ya, kali. Kalau itu mah nanti aja, kalau kita udah nikah."

__ADS_1


Ditha menabok lengan Gino. "Jangan taruh harapan sama gua Kak, nanti lu sakit habis itu lu enggak terimah eh … bunuh diri deh. Gua enggak mau tanggung yah!" Ancam Ditha tetapi, dengan nada bercanda.


"Harus tanggung jawab lah, kan lu yang bikin gua taruh harapan sama lu."


"Dih, apa-apaan. Yang naksir gua kan lu, bukan gua."


"Tapi, serius nih gua."


"Dari tadi gua juga serius. Lunya aja Kak, yang bercanda mulu."


"Nanti malam lu bisa dateng enggak?"


"Dateng, ke mana? Gua usahain deh."


"Cafe asmara."


"Cafe asmara." Ditha mengulang kembali perkataan Gino. "Mau ngapain? Gua kan jomblo, ngapain dateng ke sana? Yang ada nanti gua jadi lalat lagi."


"Kan nanti gua ada di sana, pokoknya lu dandan cantik aja. Oke? Jam delapan gua tunggu di sana." Gino pergi begitu saja dari hadapan Ditha tanpa menunggu jawaban dari mulut Ditha.


"Dasar buaya, gua udah cantik kali. Buang-buang uang aja pakai dandan segala," gerutunya. Ditha pun memilih kembali ke dalam kelas yang di mana ia habis dari perpustakaan.


Claudia mencari-cari Ditha dari tadi dan kini ia melihat anak itu datang dengan tampang seperti tidak punya dosa. Serius dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.


Ditha mendongakkan kepalanya dan melihat temannya mengatakan itu di saat ia mau memasuki kelas. Ditha melewati Claudia tanpa mengucapkan sepatah katapun Claudia yang merasa di cuekin Ditha langsung mengikutinya dari belakang.


"Barusan ada yang ngatain gua gila deh tapi, sekarang malah deket-deket gua," sindir Ditha tentu saja sindiran itu untuk Claudia. Karena, Claudia kini duduk di sebelahnya.


"Tau ah, ngeselin lu," sahut Claudia.


"Tadi Kak Gino ngajak gua dinner, lu ikut ya Clau." Ditha menghadap tubuhnya di depan Claudia.


"Cie … mau di lamar kali lu sama dia. Kalau gua ikut nanti jadi tawon dong." Gelak tawa pun pecah dari bibir Claudia.


"Gua takut di perkosa aja sama dia, gara-gara gua tolak dia." Ditha memelankan ucapannya.


"Emang dia mau ngomong apa sih?"


"Ngomong serius tapi, gua enggak tau."


"Fix! Dia mau lamar lu atau enggak nembak lu. Siap-siap ya wkwk."

__ADS_1


"Enggak mau gua, pas itu gua lihat dia sama cewek seksi di cafe."


"Siapa tau itu Tantenya apa sepupu, kan lu enggak tau Tha."


Obrolan itu pun masih berlanjut sampai kedatangan Guru di kelasnya barulah keduanya menyudahinya.


...ΩΩΩ...


Malam pun tiba Ditha sudah hampir sampai di cafe asmara, cafe yang terkenal di daerahnya sering sekali menjadi para perkumpulan muda-mudi untuk berduaan di cafe itu. Saat sudah mendekati meja nomor 15 Ditha melihat Gino yang sudah datang Gino yang melihatnya mempersilahkan Ditha duduk dan keduanya memesan minuman. Sebelum memesan Gino sempat bertanya apa Ditha sudah makan karena kalau belum mereka akan memesan makanan juga. Sambil menunggu minuman mereka datang Gino mengajak ngobrol dahulu Ditha untuk menghilangkan rasa nervesnya.


"Bah the way, gua turut berduka cita ya."


"Iya, gua terima bela sungkawa lu."


"Tadinya gua mau ngelayat ke rumah Nenek lu tapi, gua enggak tau." Gino cengengesan.


"Iya udah, enggakpapa. Santai aja Kak. Lu mau ngomong apa si?"


Sebelum Gino menjawab pelayan cafe yang membawa minuman mereka datang dan menaruh minuman di atas meja makan mereka setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan cafe, pelayan cafe tersebut kembali ke dapur.


Ditha meminum minumannya Gino pun sama melakukannya.


"Enak banget minumannya, kayaknya minuman keluaran baru ya?" Ditha mencobanya berkali-kali sampai tidak ingin menjauhi bibirnya dari sedotan yang ada di dalam gelas minumannya.


Gino memperhatikannya. "Kayaknya sih, gua juga baru ini ke sini."


Ditha mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gua langsung to the poin aja ya …" Gino menjeda ucapannya. "Gua mau ngelamar lu, apa lu bersedia jadi istri gua?" tanya Gino hati-hati. Dan detik itu juga jantung Ditha berdegup kencang entah karena kaget atau karena merasakan hal lainnya.


Kedua pasang mata mereka saling menatap satu sama lain.


"Serius?" Hanya suara itu yang terlontar dari mulut Ditha.


"Iyah, gua serius."


"Enggak terlalu cepat?"


"Kita lamaran aja dulu nanti, setelah lu tamat SMA baru kita nikah."


Tapi, gua udah nikah Kak. Menikah sama orang yang enggak sama sekali gua suka maupun gua cintai, batin Ditha.

__ADS_1


Setelah hening lama keduanya memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Ditha di antar Gino pulang ke rumah di sela-sela perjalanan, Gino mengajak berbicara Ditha dengan tidak usah terburu-buru menjawabnya. Karena, sudah di pastikan Ditha masih syok atas ucapannya tadi di cafe. Tak lama motor yang mereka berdua tumpangi sampai di rumah Ditha, Gino pamit dan Ditha memasuki ke dalam rumah.


__ADS_2