
Setelah merasa sudah sembuh total, keesokkan harinya Ditha sudah bisa kembali pulang. Ia memaksa agar Dokter Darrel mengizinkannya untuk pulang ke rumah karena, Ditha sudah sembuh dan ia juga bosan dengan aroma bau rumah sakit tempat ia di rawat. Ditha pulang ke rumah mendiang Neneknya, saat sampai depan pagar kedua matanya terbelalak ketika ia melihat dua orang pria berbadan kekar berada di rumah Neneknya itu.
"Kalian … siapa?" tanya Ditha diikuti mata yang menelusuri tubuh mereka dari atas sampai bawah.
Kedua pria berbadan kekar itupun tidak menjawabnya.
Ditha yang kesal langsung meninggalkan kedua pria itu di luar rumah. Ditha mengunci rapat-rapat pintu rumah agar dua pria itu tidak masuk ke dalam rumah mendiang sang Nenek.
"Percuma di kunci rapat-rapat, mereka berdua kan badannya gede. Sekali nonjok tuh pintu langsung copot semua baut-bautnya. Bay the way, nyeremin ih badannya kekar-kekar banget," ucapnya saat ia berada di dalam kamar.
Setelah lama berkutik dengan ponselnya Ditha merasa sangat lapar, ia mencari bahan-bahan di dapur ternyata kosong. Dan Ditha baru sadar jika rumah ini sudah lama tidak ia tempati. Ditha beralih menatap keberadaan pria berbadan kekar itu masih di luar pagar rumahnya. Seketika ide jail pun muncul di otaknya.
"Kalian berdua di sini di suruh keluarganya, om Ezra kan?"
Kedua pria itu masih tidak menjawab. Ditha yang kesal meninju lengan kedua pria itu.
BUG!
Ekspresi wajah kedua pria itu nampak datar-datar saja. Karena, bagi mereka tinjuan Ditha tidak ada apa-apanya. Seperti di tinju tangan bayi menurut mereka berdua.
"Mending pergi deh kalian berdua! Gua enggak butuh pengawal atau pengabdi setan, enggak butuh gua. Udah sana cepat pergi!" usir Ditha kasar. Dengan mendorong tubuh kedua pria itu dari belakang namun, baru selangkah tergeser Ditha sudah ngos-ngosan.
"Gua teriakin maling nih kalau kalian enggak pergi!"
__ADS_1
Kedua pria itu masih saja terdiam seperti orang bisu dan tuli tidak bisa berbicara dan mendengar.
Niat mau suruh mereka supaya mereka kesal, malahan gua yang kesal begini jadinya. Argh! Ngeselin banget, batin Ditha.
Tidak lama suara mobil yang sangat tidak asing di telinga Ditha berhenti di depan rumah mendiang Neneknya. Mata Ditha teralihkan pada mobil sedan di hadapannya itu saat pintu mobil bagian penumpang sudah terbuka. Dan menampakkan sosok pria yang ia sangat tidak sukai. Ditha membuang tatapannya ke lain tempat.
"Kalian pergi saja, biar saya yang berada di sini," ucap pria itu dari dalam mobilnya.
"Siap, Tuan Ezra!" sahut kedua pria berbadan kekar itu. Kedua pria itu meninggalkan rumah mendiang Neneknya Ditha.
Ezra turun di bantu oleh sang sopir, saat Ezra mau menghampiri Ditha. Ditha sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.
Mau ngapain sih dia ke sini? Niat gua pulang ke rumah Nenek kan, emang mau menghindar dari keluarganya dia. Eh malah sekarang dia ke sini. Sebal banget gua, batin Ditha menggebu-gebu.
"Hah? Bawa koper? Jangan-jangan dia mau ngi—"
"Kopernya sama plastiknya di taruh di mana, Mas Ezra?" tanya sang sopir.
"Taruh di dekat tv saja kopernya. Kalau plastiknya di meja makan ya. Habis ini kamu boleh langsung pulang," jawab Ezra.
Sopir itupun langsung menuruti arahan yang barusan Ezra katakan padanya. Dan ia pamit pada Ezra untuk pulang kembali ke rumah majikannya. Ezra mengiyakannya. Untung saja pintu kamar Ditha tertutup jika tidak mungkin ia akan beradu tatapan dengan Ezra secara langsung. Ezra ke dapur membongkar isi yang ada di dalam plastik tadi sopirnya bawa.
Sebagian isinya adalah makan siang yang sudah di masak oleh sang Mamah tercinta. Ezra sudah memindahkan makanan masakan itu pada sebuah piring dan mangkok yang ada di dapur sana. Aroma dari masakan yang di buka oleh Ezra masuk sampai ke dalam kamar tidur milik Ditha. Cacing di perut Ditha sudah tidak bisa diatasi lagi namun, Ditha masih enggan untuk membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Bisa mati kelaparan ini gua, kalau harus gedein gengsi," gerutunya.
Tok … Tok …
"Di meja makan sudah ada makan siang, kamu kalau enggak lapar langsung mandi aja," ucap Ezra di depan pintu kamar Ditha. Ditha menatap pintu kamarnya itu dengan sewot
"Bodo amat! Terserah lu," gumamnya.
Tidak ada jawaban dari bilik pintu kamar, Ezra memilih untuk menonton tv yang ada di ruang tamu sana.
Ceklek…
Ditha membuka pintu kamarnya dengan hati-hati berharap Ezra tidak melihat kehadirannya namun, nyatanya Ezra melihatnya. Tetapi Ezra Lang membuang tatapannya ke tv saat sosok Ditha sudah berada di luar kamar. Kaki Ditha melangkahkan ke arah dapur, ia berjalan dengan santai seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Saat sudah sampai di meja makan kedua mata Ditha berbinar-binar saat dirinya melihat ada makanan favoritnya di atas meja makan yang sudah di susun rapih oleh Ezra di dalam sebuah mangkok. Ditha pun segera duduk di kursi dan meraih makanan favoritnya.
"Ceker mercon! Terakhir makan pas, Adel belum pindah ke luar negeri," ucap Ditha antusias. Dengan cepat ia menyantap beberapa lauk pauk lainnya yang ada di atas meja makan itu. Saat sedang lahap-lahapnya makan tiba-tiba.
"Makannya jangan buru-buru, nanti keselek," ujar Ezra yang habis datang dari ruang tamu.
UHUK! UHUK!
Ezra melirik Ditha. "Tuh kan, keselek beneran. Pasti tadi enggak baca doa." Bukannya mengambilkan minum untuk istrinya malah Ezra terus saja mengomeli Ditha. Ditha yang kesal di buatnya memilih mengambil air minum yang ada di teko lalu ia tuangkan ke dalam gelas setelah itu ia menenggaknya.
Emang dasarnya kalau orang udah nyebelin, ya nyebelin terus sampai tua! Bay the way, kok dia bisa tau kalau gua enggak baca doa tadi? batin Ditha usai menenggak minumnya. Ia pun kembali menyantap makan siangnya tidak seperti tadi sangat lahap kini ia makan pelan-pelan agar tidak di sindir lagi oleh Ezra.
__ADS_1
Ezra memang sengaja tidak mengambilkan air minum untuk Ditha yang tadi sedang tersedak karena, ia ingin tau apakah Ditha membutuhkan pertolongannya atau tidak. Ternyata setelah ia mengoceh seperti tadi, Ditha tidak kunjung juga meminta bantuan dirinya untuk mengambilkan minum untuk Ditha yang sedang tersedak.