
"Nenek, yang lu tabrak itu … Neneknya Ditha, Kak," sahut Jessy.
"Apa? Neneknya Ditha?" tanya Ezra untuk memastikannya.
"Iya," jawab Lula.
Ezra menatap Ditha tetapi, Ditha melihat ke sembarang tempat lalu Ditha keluar dari ruangan Neneknya di rawat. Sebelum pergi menyusul Ditha, Ezra terlebih dahulu mendekatkan dirinya pada Nek Yeyen.
Ezra meraih tangan Nek Yeyen. "Maafin saya ya,.Nek … jujur saya enggak ada niatan buat nabrak, Nenek dan saya juga enggak melihat kalau yang saya tabrak adalah, Neneknya Ditha. Saya minta maaf ya, Nek sekali lagi," ucap permohonan maaf Ezra pada Nek Yeyen.
Nek Yeyen tersenyum. "Saya udah maafkan kamu. Mungkin, ini semua udah menjadi jalan takdir kehidupan saya. Saya ikhlas tetapi, saya enggak yakin kalau, Ditha akan maafkan kamu, Nak."
"Kalau, Nenek mau bawa kasus ini ke jalur hukum tidak apa, Nek. Sa—"
Nek Yeyen menggelengkan kepalanya. "Enggak, Nenek enggak akan bawa masalah ini ke jalur hukum. Dengan kamu sudah meminta maaf ke, Nenek itu sudah jadi salah satu bentuk tanggung jawab kamu sebagai pelaku tabrakan. Sudah tidak usah."
"Hati Nenek, baik sekali. Mungkin, kalau saya di posisi, Nenek saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum," sahut Lula.
"Kak, mending lu samperin, Ditha deh. Lu jelasin fakta yang sebenarnya itu gimana," suruh Jessy yang langsung diiyakan oleh Ezra. Ezra pamit pada Nek Yeyen dan Mamahnya, setelah itu ia mencari keberadaan Ditha.
Ezra melihat Ditha baru saja keluar dari ruangan Dokter, dengan cepat Ezra menghampiri Ditha menggunakan kursi rodanya.
"Ditha …," panggil Ezra.
Ditha yang tau betul itu suara siapa ia malah mempercepat langkah kakinya dan ia tidak pedulikan akan panggilan itu. Ezra pun tidak mau kalah ia juga mempercepat kursi rodanya sampai-sampai ia hampir menabrak Suster yang tengah membawa nampan berisi makan dan segelas minuman.
"Maaf, Sus. Saya enggak sengaja."
"Iya, tidak apa-apa, Pak," jawab Suster tersebut.
Suster itupun pergi meninggalkan Ezra. Ezra terus berlanjut mencari Ditha hingga dimana ia kembali lagi balik ke taman yang ia datangi tadi. Ia melihat Ditha duduk di kursi taman itu sendirian, Ezra langsung menghampirinya.
"Saya tau kamu enggak akan mau maafin saya. Tapi, izinkan saya buat jelasin semuanya biar kamu enggak salah faham dengan saya," ucap Ezra.
"Pergi! Gua enggak mau dengar penjelasan lu!" sahut Ditha di sela-sela menangisnya.
Kursi roda Ezra berhadapan dengan Ditha "Ditha … saya mohon sama kamu dengarkan dulu penjelasan saya."
"Andai kemarin lu mau dengarin omongan gua, enggak akan terjadi sama, nenek gua. Andai, Om! Andai!" bentak Ditha. Mungkin saat ini emosi Ditha sudah meledak namun, Ezra tetap memaksa agar Ditha mau mendengarkan penjelasannya.
"Iya, saya tau saya salah. Saya minta maaf ya, Ditha … saya pulang ke rumah karena saya merasa sudah baik tapi, di pertengahan jalan kepala saya kembali pusing dan saya tidak melihat kalau ada, nenek kamu di jalanan tersebut. Pandangan saya sudah buram pada saat itu."
Ditha bangkit dari duduknya namun, Ezra mencegahnya.
"Kamu lihat saya sekarang ini duduk di kursi roda kenapa? Karena saya mengalami patah tulang di kedua kaki saya, mungkin ini karma yang saya dapatkan setelah menabrak, nenek kamu."
__ADS_1
Ditha menghela nafasnya. "Patah tulang lu ini enggak sebanding dengan yang di alami, nenek gua. Asal lu tau, nenek gua pun lumpuh kepalanya pun di operasi dan tadi kata, Dokter. Umur, Nenek gua enggak akan lama lagi. Gua enggak tau gua harus berbuat apa, gua enggak tau!" lirih Ditha. "Apa itu sebanding dengan apa yang lu lakukan ke, nenek gua? Sebanding dengan yang lu alami sekarang ini? Sebanding enggak? Enggak kan!" lanjutnya.
"Lumpuh?" gerutu Ezra.
Drettt! Drettt!
Ezra mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari ponselnya.
"Lagi di taman Mah sama aku."
"..."
"Iya, nanti akau kasih tau."
Tut … Tut …
"Kata Nenek kamu, dia nyariin kamu," ucap Ezra.
Ditha pun segera berlari menuju ruangan Neneknya di rawat dan ia meninggalkan Ezra.
Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Kasian sekali, Ditha, batin Ezra.
Ezra menjalankan kursi rodanya menuju ruangan Nek Yeyen. Saat sudah sampai di dalam suasana menjadi tegang entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Lula mendekati Ezra. "Kamu harus terima yah," ucap Ezra.
Ezra dan Ditha menautkan kedua alisnya. "Terima? Terima apa, Mah?"
"Kamu harus bersedia menikahi, Ditha."
DEG!
"Enggak! Saya enggak mau," tolak Ditha. Ditha menatap Neneknya. "Nek, aku enggak mau nikah sama dia, Nek. Please, Nek kalau, Nenek mau apa aku bakalan turutin. Tapi, untuk hal ini aku enggak bisa, Nek," mohon Ditha.
"Anggap saja ini permintaan terakhir, Nenek pada kamu. Kamu harus terima yah, Nenek mau kepergian, Nenek nanti sudah tenang melepas kamu bersama orang yang tepat."
Bak sudah mendapatkan isyarat akan kematiannya, Nek Yeyen merestui cucunya itu untuk di nikahkan oleh Ezra selaku pelaku penabrakan terhadap dirinya. Ia ingin kepergiannya dengan tenang dan damai sehingga ia bisa melihat untuk terakhir kalinya cucunya itu sudah menikah.
"Sebentar lagi, Pak penghulu mau datang. Ditha, kamu ganti baju dulu yuk," sahut Jessy.
Ditha menggelengkan kepalanya. "Enggak! Saya enggak sudi nikah sama dia. Saya benci dia!"
"Ditha cantik … apa kamu enggak mau menuruti permintaan,nenek kamu?" tanya Lula.
"Pasti kalian kan yang sudah mengompori keadaan ini supaya kasus penabrakan ini enggak di bawa ke jalur hukum? Iya kan!" tuduh Ditha. Tiba-tiba saja ada suara orang yang masuk ke dalam ruangan Nek Yeyen.
__ADS_1
"Permisi," ucap seorang pria setengah paruh baya yang menggunakan peci serta membawa tas di tangannya.
"Iya, Pak penghulu. Silahkan duduk dulu ya, Pak," sahut Lula diikuti tangan yang meraih kursi untu memberi duduk Pak penghulu.
"Mah … jangan ngaco deh. Ini pernikahan loh bukan main-main," ucap Ezra sewot.
"Sebentar ya, Pak," ucap Lula yang langsung diiyakan oleh Pak penghulu.
Lula menyuruh Jessy untuk membawa Ditha ke dalam toilet untuk mengganti baju sedangkan, Lula membawa Ezra keluar ruangan Nek Yeyen berada.
10 Menit kemudian ...
Semua sudah siap untuk menyaksikan acara sakral ini yang terjadi sekali dalam kehidupan mereka. Harapan kedua orang tua maupun keluarganya. Wali Ezra dan Wali Ditha juga sudah berada di dalam sana untuk mewakilkan Ayahnya yang sedang tidak ada di sana maupun yang sudah tidak ada di sana. Ditha kembali menitikkan air matanya Ezra yang melihatnya merasa kasian harus menerima keadaan ini. Ia pun sama seperti Ditha yang tidak menerima akan pernikahan ini.
Kenapa gua harus mengalami kejadian seperti ini? Gua menikah sama orang yang udah nabrak Nenek gua sendiri dan dia sendiri kayak enggak bisa berbuat apa-apa seolah-olah gua beneran mau menikah sama dia, batin Ditha.
SAH!
Serempak para saksi mengucapkan tiga kata yang penuh makna dan penuh arti itu. Pak penghulu dan saksi di sana saling berdoa memanjatkan doa untuk pernikahan mereka berdua agar langgeng seumur hidup dan selalu bahagia serta di karuniai keturunan yang lucu-lucu baik dan berbakti kepada orang tuanya. Setelah selesai berdoa keduanya saling menyematkan cincin kawin di tangan kanannya masing-masing kemudian, Ditha di suruh Neneknya untuk mencium punggung tangan Ezra namun, Ditha tidak mau. Ezra pun tak mempermasalahkannya karena ia sendiri pun tau untuk saat ini Ditha masih belum menerima akan pernikahannya ini.
Ezra mencium punggung tangan Mamahnya dan Neneknya Ditha dengan tulus.
"Setelah ini, Nenek serahkan semua tanggung jawab, Ditha sama kamu ya, Nak. Tolong jaga cucu saya baik-baik. Kalau, Ditha sedikit susah di aturnya wajar saja ia sudah lama tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setelah kepergian orang tuanya 14 Tahun yang lalu. Di saat umurnya baru menginjak 2 tahun."
Ezra tersenyum. "Saya tidak bisa janji. Tapi, saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik buat cucu, Nenek."
Entah perkataan itu tulus dari hatinya atau tidak, yang jelas Ditha sangat muak mendengarnya.
"Ditha … sini," suruh Nek Yeyen.
Ditha pun mendekat dan mencium punggung tangan Neneknya. "Apa, Nenek bahagia setelah aku menuruti keinginan, Nenek?"
"Kebahagiaan, Nenek belum sempurna kalau kamu tidak ikhlas menerima pernikahan kamu dengan Ezra."
"Aku butuh waktu, Nek. Enggak segampang itu. Apalagi dia yang udah bikin keadaan, Nenek begini."
"Iya, Nenek tau. Tapi, kamu janji ya sama, Nenek habis ini kamu harus menjadi istri yang baik, penurut setia dan bisa melayani suami kamu dengan sepenuh hati. Janji, ya?"
Ditha merasakan bahwa suara Neneknya itu sudah semakin melemah seperti sudah dekat dengan ajalnya.
"Iyah, aku janji demi, Nenek. Nenek, juga janji sama, aku kalau, Nenek harus bisa sembuh," lirihnya. Ditha kembali menitikkan air matanya yang dimana ia tadi sudah tidak menangis namun, kini kembali lagi bulir bening itu pecah.
Lula, Jessy dan Ezra sangat betul-betul merasakan apa yang Ditha rasakan saat ini. Bagi mereka tidaklah mudah untuk menerima pernikahan ini terlebih Ditha di paksa menikah dengan pria yang ia benci dan pria yang sudah membuat Neneknya lumpuh seperti ini. Nek Yeyen menitikkan air matanya di saat ia menutup kedua matanya. Tak di sangka obrolan tadi menjadi obrolan terakhir kalinya Nek Yeyen dengan Ditha. Dokter yang menangani Nek Yeyen datang setelah Ditha menangis histeris karena ia mengajak Neneknya berbicara tidak di respon oleh Nek Yeyen. Dokter memeriksanya namun, ia mengatakan bahwa pasien sudah tidak bisa di selamatkan.
TBC
__ADS_1