
Keluarga Ezra menyambut kedatangan pak Wiley yang baru saja pulang dari luar negeri. Terkecuali Ditha, ia tidak ikut menyambut di karenakan ia harus mengikuti kegiatan wajibnya di sekolah yaitu ekskul. Ezra dan keluarga pun memakluminya. Kini Wiley dan keluarga sudah tiba di rumah sekitar 2 jam yang lalu. Mereka sedang makan siang bersama di ruang makan.
"Zra, Papah enggak nyangka kamu bisa nikahin bocah SMA," celetuk Wiley, di sela-sela makannya.
"Ya, kalau udah jodoh mau bagaimana lagi, Pah!" sahut Lula.
"Terus, Rinda bagaimana, Zra? Kamu sudah ngomong ke dia?" tanya Wiley pada Ezra.
"Belum, Pah. Nanti, kalau udah tepat waktunya aku pasti ngomong ke dia."
"Oh iya, Mamah baru ingat. Keluarga Rinda ngajakin makan malam bersama kita di restoran dekat kantor kamu, Yang!" sahut Lula.
"Kapan?" tanya Wiley.
"Besok malam."
Ezra mendongakkan wajahnya dan menatap sang mamah. "Kayaknya aku enggak bisa ikut."
"Cie … ada janji ya sama, Ditha!" goda Jessy, seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
Lula menatap ke Jessy kemudian, beralih menatap Ezra. "Benar, Zra?"
"Baru ada rencana, Mah. Belu—"
"Wah … tanda-tandanya udah mulai kelihatan nih," ledek Jessy.
"Jess …," panggil Ezra geram.
Jessy hanya cengengesan saat melihat kakaknya itu sudah terpancing emosi.
"Kan baru rencana belum janji, mending kamu ganti hari apa gitu, Zra. Enggak enak juga mereka udah ngundang kita itu berarti mereka berharap kedatangan kamu juga," sahut Wiley.
Lula mengangguk-anggukkan kepala. "Nah, iya, Zra. Ganti Hari Rabu aja, kayaknya tanggal merah deh," usul Lula.
"Oke, lah. Lihat nanti aja. Aku mau ke kamar dulu," pamit Ezra pada keluarganya.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Di kediaman rumah nek Yeyen. Ditha baru sampai rumah saat magrib, rumah itu gelap pertanda tidak ada orang di dalamnya. Namun, di depan gerbang rumahnya terdapat dua cowok yang sudah di pastikan bahwa mereka berdua adalah sewaan Ezra. Ditha melangkahkan kakinya menuju teras rumah tak lama ada sebuah mobil yang berhenti di sana. Ditha menoleh ke belakang ternyata itu adalah Ezra. Ditha masuk ke dalam rumah duluan setelah itu di susul oleh Ezra. Sebelum masuk ke dalam rumah Ezra sempat berbicara pada pengawal bahwa mereka di suruh pulang saja karena, sudah ada dirinya di sana.
Ditha keluar dari kamarnya hendak mandi namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Ezra sedang kesulitan untuk mengambil gelas di dalam lemari yang terletak di atas.
"Mau ambil apa?" tanya Ditha basa-basi. Padahal dirinya sudah tahu jawabannya.
Ezra yang tidak sadar kedatangan Ditha menoleh ke sampingnya. "Gelas. Oh iya, kamu dari mana aja kenapa baru pulang?"
Apa-apaan kenapa dia malah jadi sok perhatian begini. Mau gua pulang telat atau enggak pulang sekalian, toh bukan urusan dia ini. Aneh banget, batin Ditha.
Ditha tidak menjawabnya, ia sibuk membatin dalam dirinya saja. Usai mengambilkan gelas untuk Ezra Ditha mau menuju ke kamar mandi namun, langkah kakinya kembali terhenti. Saat Ezra mengambil handuk dari tubuh Ditha yang di sampirkan di bahunya.
Ditha yang mengerti apa maksud dari Ezra ia pun menjelaskan.
"Saya habis esksul—"
"Saya tahu."
Ezra menahan tawanya dalam-dalam. "Oke-oke, silahkan di lanjut."
"Saya habis ekskul terus, capek tuh. Nah, saya nginep di rumah, Zaky sebentar. Ada Claudia juga kok di sana."
"Kenapa bukan di rumah, Claudia aja?"
"Ya, kan rumah, Claudia itu jauh banget. Jadi, kami milih yang dekat sama sekolah. Yaitu rumah, Zaky."
"Kenapa enggak telepon saya aja? Kan, kamu punya nomor saya."
"Masa sih?" Ditha mencoba mengingat-ingat kembali. Setahunya ia pernah meriset ponsel gara-gara memorynya penuh. "Oh iya, ponsel saya pernah ke riset, hehehe. Kayaknya nomor situ hilang."
Ezra melempar handuk ke wajah Ditha dan meninggalkan Ditha sendirian di dapur. Ditha langsung tersulut emosi ia pun mengoceh yang tidak-tidak.
"Biasa aja dong! Kalau cemburu bilang! Dan kalau enggak suka bilang juga! Jangan apa-apa ngambek begini!" Ia pun memilih masuk ke dalam kamar mandi dari pada harus mengoceh tidak jelas yang berujung hanya capek saja.
__ADS_1
Ngeselin banget sumpah! Tadi ngapain tuh gua jawab. Di jawab bikin kesal enggak di jawab apalagi. Bisa di terkam kali ya gua, batin Ditha. Saat dirinya sudah melepaskan semua pakaian di tubuhnya.
Ezra tahu bahwa Ditha tadi sedang kesal padanya karena, ia melemparkan handuk tepat di wajah sang istri. Namun, ia tidak peduli akan hal itu. Karena, itu bukanlah masalah besar. Ezra kini tengah berada di kamar Ditha ia melihat-lihat benda yang berada di ruangan kamar istrinya itu. Dan mulai mengambil satu persatu untuk ia lihat.
"Matanya mirip dengan laki-laki yang ini," tunjuk Ezra pada sebuah bingkai foto. "Sepertinya dia bukan, papahnya Ditha. Terlihat tua sekali di banding foto yang ada di kamar sebelah."
Ceklek…
"Astaghfirullah!" Kedua mata Ditha rasanya ingin loncat. Bagaimana tidak ia dibuat kesal oleh keberadaan Ezra yang ada di dalam kamarnya. Untung saja tubuhnya sudah terbalut pakaian jika tidak? Ia akan merasa sangat bodoh karena sudah ceroboh ketiga kalinya.
"Kayak lihat setan aja kamu, pakai segala istighfar," sahut Ezra tanpa dosa.
"Emang gua habis lihat setan dan setannya itu lagi duduk di kursi roda!" ucap Ditha kesal.
"Kamu ngatain saya?" tanya Ezra, yang masih fokus pada bingkai foto.
"Ngatain tetangga rumah lo! Udah deh keluar sana, gua mau tidur, om!" ucap Ditha, sambil membenarkan kasurnya.
"Tidur tinggal tidur. Saya masih mau lihat-lihat ruangan kamar kamu."
Ezra meletakkan bingkai foto itu pada tempat yang semula. Kemudian, tangannya beralih pada laci. Ia membukanya dan menemukan sebuah album foto serta— beberapa gelang couple dan jam tangan. Kemudian, Ezra ambil dan saat dirinya ingin bertanya, Ditha sudah merebut kembali dan memasukkannya ke dalam laci serta menutup laci tersebut.
"Udah, stop! Jangan banyak nanya. Ini udah malam gua capek badan gua juga pegal-pegal mau istirahat, om."
"Malam?" Ezra melihat jam tangannya kemudian, beralih melihat Ditha. "Baru jam tujuh. Memangnya kamu udah makan?"
"Gampang. Tengah malam juga bisa. Udah sana keluar!"
"Sebentar. Tadi, apa kata kamu … badan kamu pegal-pegal?
Ditha mengangguk. Seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ezra mendekatinya dan refleks tangannya menyentuh tubuh Ditha. Ditha terperangah saat ada tangan yang memegang tubuhnya.
"Mau ngapain?"
"Lebih baik kamu tengkurap, biar saya pijitin badan kamu."
__ADS_1
Ditha pun juga refleks merubah posisi tubuhnya menjadi tengkurap. Entah karena terhipnotis atau terbawa suasana ia mudah saja menurut perkataan Ezra.