DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Cincin Nikah


__ADS_3

Seminggu berlalu semenjak kepergian sang Nenek, Ditha sudah kembali bersekolah. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam, tepat di hari ini juga kewajiban setiap siswa maupun siswi untuk menjalankan upacara bendera di hari Senin yang cerah ini.


Sudah beberapa menit yang lalu acara pengibaran bendera di kibarkan pada tiang bendera di sekolah SMA LAKSMANA BANGSA kini hanya terdengar beberapa amanat yang di sampaikan Kepala Sekolah untuk siswa dan siswi SMA LAKSMANA BANGSA. Ditha sengaja memilih barisan upacara paling belakang, entah tujuannya apa. Tanpa Ditha sadari ada sosok pria yang tengah berada di belakang ia yang tengah duduk di kursi roda.


Ditha yang merasakan tidak enak bertukar posisi dengan Claudia sehingga Claudia kini berada di belakang Ditha. Claudia mengubah posisinya menjadi istirahat di tempat saat dirinya menghadap belakang Claudia langsung tersentak saat ia melihat pria sedang duduk di kursi roda.


"Pak Ezra?" ucap Claudia pelan sehingga Ditha tidak mendengarnya.


Ezra hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis. Kemudian, Claudia merubah posisinya menjadi menghadap depan.


Pak Ezra, kenapa ya kok bisa jadi duduk di kursi roda gitu? Apa habis kecelakaan, ya? Tapi, kok enggak ada kasih tau? batin Claudia penasaran.


"CK, berisik banget sih lu jadi cowok. Bisa diam enggak sih!" bentak Ditha pada cowok-cowok yang berbaris di sampingnya. Kebetulan barisan Ditha bersampingan dengan barisan cowok di kelasnya. Zidan menatap Ditha sengit seperti tidak suka di bentak oleh Ditha.


"Biasa aja dong, enggak usah ngegas begitu," sahut Zidan. Ditha langsung menatap Zidan dengan tajam.


"Diam, lu!"


"Husstt! Kalian enggak lihat apa? Di belakang kita itu ada, Guru tau!" timpal Claudia berusaha menenangkan kedua temannya itu. Ditha tidak menoleh ke belakang hanya Zidan saja yang menoleh dan ia kaget saat melihat ada Pak Ezra di belakang sana.


Ditha yang merasa sangat gerah karena terik matahari yang sudah berada di atas kepalanya ia mengibaskan rambutnya ke belakang sontak saja itu membuat pengelihatan Reval jadi salah fokus pada jari manis kanan milik Ditha. Reval melihat ada sebuah cincin yang bisa ia tebak harganya ratusan juta rupiah.

__ADS_1


Reval memegang tangan Ditha. Ditha yang heran menyatukan kedua alisnya. "Eh … teman kita nikah diam-diam aja. Nih lihat jari manisnya udah ada cincinnya," tunjuk Reval pada jari manis Ditha ke teman-teman kelasnya. Sontak aja itu membuat Ditha membelalakkan matanya dan ia menarik tangannya yang berada di genggaman Reval.


"Ya Ampun, Ditha. Baru seminggu yang lalu, Nenek lu meninggal. Eh lu malah udah langsung menikah aja," sahut Zidan.


"Mungkin udah enggak sabar buat panas-panasan di ranjang," timpal cowok kelasnya yang lain.


Kesal tentu ada dan ingin membawa lari Ditha meninggalkan lapangan juga Ezra sebenarnya ingin namun, nyatanya itu tidak mungkin ia lakukan saat ini. Selain kondisinya yang belum bisa berjalan ia juga tidak ingin orang-orang di sana berfikir negatif tentang keduanya. Hanya Diam saja yang bisa Ezra lakukan di atas kursi rodanya dan menyaksikan keributan di hadapannya itu.


"Apa sih, Rev! Enggak usah sebar fitnah lu ya!" ucap Ditha tegas.


"Tapi, itu buktinya apa, Tha? Jelas-jelas itu cincin dan gua lihat-lihat harganya sekitar sampai ratusan juta. Enggak mungkin dong kalau itu bukan cincin nikah," ucap Reval.


"Cincin ini tuh banyak kali di tukang cincin mainan, jangan asal fitnah lu." Kini Claudia yang berbicara.


"Selagi itu benar gua bakalan dapat pahala. Dan kalian cuman dapet dosa karena udah fitnah, Ditha! " ucap Claudia.


"Kok bisa ya, Adel suka sama cowok nyolot kaya dia ini," sindir Ditha dengan menatap Zaky. Zaky memang selama ini tidak mengetahui jika teman kelasnya ada yang mempunyai rasa suka kepadanya. Ditha pun bertukar posisi kembali dengan Claudia namun, saat langkahnya berhenti di posisi Claudia mata Ditha dan mata Ezra bertemu.


"Eh sebentar deh tapi, kok gua kaya pernah lihat cincin, Ditha juga ada yang pakai cowok. Tapi, siapa ya?" ucap Reval pada Zidan.


Kebetulan Zidan dan Reval berada di barisan belakang Reval pun menoleh ke belakang Zidan dan ia mendapati Ezra di sana. Ia langsung mengingatnya. Kalau tadi pagi sebelum memasuki kelas ia sempat saliman dengan Ezra saat setelah keluar dari dalam mobil milik Ezra. Dan kini matanya menyoroti kedua cincin yang di pakai Ezra dan Ditha. Reval menghampiri keduanya. Tentu saja itu membuat tatapan keduanya teralihkan.

__ADS_1


Reval menunjuk tangan pada jari Ezra dan Ditha. "Kok cincinnya samaan?" tanya Reval.


Claudia juga ikut menyoroti kedua cincin yang berada di jari manis Ezra dan Ditha. "Iyah, kok bisa sama ya?" gerutu Claudia.


Ditha membuang pandangannya ke lain arah dan membalikkan tubuhnya menghadap depan. "Sekali lagi ada yang ngomongin gua, detik ini juga bakalan ada darah bercucuran!" Peringatan yang Ditha lontarkan tentu saja yang mendengar menjadi merinding. Karena, selain Ditha galak ia juga mempunyai sifat yang menyeramkan.


"Hayo … pada bungkam deh mulutnya sekarang. Macam-macam sih sama teman gua," ucap Claudia.


Mereka yang semula menghadap Ezra kini tubuhnya sudah berbalik menghadap depan tiang bendera. Kepala Sekolah pun sudah menyelesaikan amanat yang ia ucapkan tadi hingga di penghujung upacara. Doa kemudian hormat terakhir yang petugas upacara laksanakan.


"Pak Ezra, ngeliatin lu aja, Tha dari tadi," bisik Claudia pada telinga Ditha.


"Suka-suka dia lah kan dia punya mata. Mau dia lihatin janda, perawan tua atau mayat itu bukan urusan gua!" Ditha sengaja mengeraskan volume bicaranya agar yang ia sindir mendengar ucapannya. Tidak berbicara kencang saja Ezra mampu mendengarnya karena, posisinya keduanya tidak terlalu jauh. Tak terasa upacara bendera hari ini telah selesai di laksanakan para siswa dan siswi serta Guru-guru yang ada di sana membubarkan dirinya masing-masing dan meninggalkan lapangan. Saat Claudia dan Ditha ingin pergi dari lapangan tiba-tiba.


"Ditha, bisa kita bicara dahulu?" tanya Ezra.


Tentu saja membuat langkah kaki Claudia dan Ditha berhenti. Claudia menoleh pada Ezra berharap Claudia bisa membujuk agar Ditha mau berbicara dengannya.


"Ditha …," panggil Claudia.


Ditha melanjutkan langkah kakinya menuju kelas. "Gua lagi malas ngomong!"

__ADS_1


Claudia untuk saat ini tidak bisa membantu Ezra karena, kalau Ditha sudah malas ngomong siapapun yang mengajaknya ngomong akan ia cuekin. Claudia pamit pada Ezra, dan Ezra pun mengiyakannya.


Saya enggak akan menyerah, Ditha. Sebelum kamu mau menerima kata maaf saya, batin Ezra. Kemudian, Ezra meninggalkan sekolah SMA LAKSMANA BANGSA itu dan bergegas pergi entah kemana menggunakan mobil pribadinya.


__ADS_2