DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Malu-maluin Saja


__ADS_3

Ditha dan Claudia terperanjat saat mereka berdua melihat mobil sedan berwarna biru tua terparkir di dekat gerbang sekolah. Bagi Ditha sudah tidak asing lagi jika ia melihat mobil sedan itu namun, bagi Claudia sungguh mengherankan.


"Ini mobil punya siapa sih? Dari pagi belum pergi-pergi juga," tanya Claudia berbisik pada Ditha.


"Tadi pagi gua lihat belum ada kok," sahut Ditha.


"Oh … mungkin itu mobil datangnya setelah lu masuk ke kelas kali, ya."


"Bisa jadi."


Setelah sekian lama keduanya terdiam, ada sebuah mobil sedan berwarna merah datang menghampiri keduanya.


"Eh, sebentar deh … kok gua kayak enggak asing sih lihatnya? Kayak pernah lihat. Tapi, di mana gitu," ucap Claudia.


Ditha terbelalak saat Claudia berusaha untuk mengingat sesuatu namun, ia segera mengalihkan topik pembicaraan agar Claudia bisa melupakan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia lontarkan selanjutnya.


"Ekhm … mobil itu banyak kali, Clau. Udah sana pulang, lu udah di jemput tuh!" sahut Ditha.


Claudia pamit pada Ditha dan Ditha mengiyakannya. Setelah itu mobil sedan berwarna merah itu pergi dari hadapan Ditha. Dan tinggalah Ditha dengan mobil sedan biru tua itu saja.


"Untung aja dia enggak ngeluarin omongan-omongan lainnya," gumam Ditha.


Ditha menghampiri mobil sedan itu dan mengetuk kaca mobil pengemudi. Sesaat kaca mobil bagian pengemudi itu terbuka dan menampakkan sang sopir yang tidak asing lagi baginya. Setelah mengobrol-ngobrol Ditha di suruh masuk ke dalam mobil dan ikut bersama sang sopir atas perintah bosnya.


...ΩΩΩ...

__ADS_1


Ezra dan Rinda sudah terpisah beberapa jam yang lalu di pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dengan tempat favorit mereka berdua. Rasanya Ezra kangen sekali dengan keadaan beberapa bulan yang lalu, saat dirinya masih bisa berjalan ke sana ke mari bersama sang kekasih hatinya. Namun, sekarang ia hanya bisa terduduk diam di kursi roda miliknya.


Ia ingin menyenangkan pacarnya sebelum Rinda pulang kembali ke luar negeri untuk melanjutkan perkuliahannya serta menebus kesalahan terbesarnya karena, ia sudah selingkuh sekaligus kini sudah resmi menjadi seorang suami Ditha. Walaupun masih sangat kurang untuk menebus kesalahannya, setidaknya Ezra sedikit demi sedikit mau bertanggung jawab atas kesalahannya. Dan saat ini ia masih berada di sebuah restoran pusat perbelanjaan. Rinda ia suruh pulang karena, besok ia sudah mulai Take Off keberangkatannya ke luar negeri. Ezra tidak ingin jika pacarnya nanti terlalu capek untuk menemani dirinya.


...ΩΩΩ...


Beberapa menit lagi mobil yang membawa Ditha sampai di sebuah tempat. Jujur saja ia hari ini masih sangat capek karena, tadi ia dan teman-teman kelasnya di hukum dan hukuman tersebut di suruh lari dari area sekolah sampai luar gerbang sekolah, 10x putaran.


Bagaimana tidak capek? Itulah akibat jika kelas sangat berisik dan di tambah pula tidak ada yang mengerjakan PR, padahal PR adalah tanggung jawab diri sendiri kenapa harus hukumannya di sangkut pautkan dengan orang lain juga? Ditha sangat kesal pada anak cowok yang tidak bisa di atur sama sekali.


"Pak, kita mau ke mana sih sebenarnya? Bisa enggak kita puter balik pulang ke rumah, saya mau tidur," keluh Ditha pada sang Sopir.


Sang sopir tertawa kecil karena, ia berasa sedang mengasuh anaknya sendiri yang sedang rewel padanya.


"Bukan saya enggak mau, Mba. Tapi, ini atas perintah, Mas Ezra!" sahut sang Sopir.


Srettt! Srettt! Srettt!


Habis sudah satu gelas minuman yang berisi jus itu Ditha minum karena, sangking hausnya. Ezra memperhatikannya sedangkan, Ditha ia tahu kalau dirinya sedang di perhatikan Ezra. Namun, ia tidak peduli Ditha pun memilih langsung menyantap makanan yang sudah di pesan dahulu oleh Ezra semenit yang lalu.


"Sudah berapa tahun kamu enggak minum dan makan?" tanya Ezra diikuti tangan yang menyendok makannya ke dalam mulutnya.


"Sepuluh tahun!" jawab Ditha asal tanpa menatap Ezra.


"Hebat sekali, ya. Bisa bertahan hidup sampai sekarang." Ezra mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mau minum lagi dong!" pinta Ditha di sela-sela mengunyahnya.


Ezra memberikan minuman miliknya pada Ditha karena, kebetulan ia memesan es teh dingin. Namun, Ditha menolaknya dengan cara mendorong pelan gelas yang berisi es teh itu.


"Yang baru lah, enak aja gua di suruh minum bekas lu," sambar Ditha.


"Saya belum meminumnya. Lagian semua ini baru datang enggak lama setelah kamu datang ke sini," sahut Ezra.


Ditha tidak peduli ia memanggil pelayan restoran tersebut tak beberapa lama ia sudah menerima pesanan minumannya itu, lalu ia segera meminumnya.


"Malu-maluin saja," gerutu Ezra.


"Apa, lo bilang?!" sahut Ditha. Tentu saja membuat Ezra terperanjat. Ditha mendengarnya namun, ia sengaja pura-pura tidak mendengarnya. Karena, ia ingin tahu apa jawaban Ezra kali ini.


"Enggak bilang apa-apa."


"Baru tau, ya kalau gua malu-maluin?" Ditha tertawa miris. "Nyesel kan lo nikahin gua? Dan sekarang baru tau sifat asli gua ini kayak apa. Emang sih enggak pantes gua men—"


"Saya enggak bermaksud buat menghina kamu, Ditha."


"Ya, terus tadi apa yang lu bilang! Kalau gua ngerasa bikin lu malu, yaudah cerain gua detik ini juga."


Mood makan Ditha seolah-olah sudah di rusak oleh Ezra. Hanya karena, Ezra mengatakan seperti itu sudah membuat hatinya menjadi sangat kesal. Ezra memilih untuk bungkam, ia tidak mau jika ia menjawab akan memperbesar masalah ini. Karena, tujuan ia mengajak makan Ditha di restoran itu ia sedang berusaha lebih mendekatkan dirinya dengan Ditha. Supaya Ditha mau menerima pernikahan ini walaupun ia sendiri masih belum bisa menerimanya. Namun, mau sampai kapan mereka berdua seperti ini? Salah satu diantara mereka harus mengalah dan harus bisa merencanakan hal baik dalam hubungan pernikahan mereka berdua ke depannya menjadi lebih baik lagi.


Keheningan masih terjadi sampai mereka sudah berada di rumah. Ditha memilih langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan Ezra.

__ADS_1


TBC


__ADS_2