
Waktu terus berjalan tidak ada hari tanpa tidak bertengkar maupun adu mulut. Pikirannya yang masih labil membuat siapapun yang berhadapan dengannya pasti tidak ingin mau mengalah ataupun kalah. Terkadang rasa kesal jika sudah mencapai puncak ingin rasanya meluapkan langsung dihadapannya tetapi, rasanya sangat tidak tega karena usianya masih sangat labil. Namun, jika dipendam saja terus-terusan mengalah apa tidak akan menimbulkan penyakit hati? Kesabaran seseorang memang tidak ada batasnya jika seseorang itu terus saja di uji apalagi ujian tersebut tidak ada jalan keluarnya.
Kesembuhan Ezra yang kian hari kian membaik sepertinya menjadi kabar yang luar biasa bagi keluarganya. Melihat perkembangan Ezra yang sedikit demi sedikit sudah bisa berdiri walaupun masih harus dibantu dengan tongkat agar tidak terjatuh membuat keluarganya senang akan kabar bahagia itu. Tak hanya Ezra dan keluarganya saja yang merasa senang mendengar kabar tersebut, Ditha pun sama.
Dia merasa jauh lebih bahagia setelah beberapa bulan yang lalu Ezra duduk di kursi roda saja kini dirinya bisa melihat Ezra sudah bisa menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Meskipun ada rasa jengkel di dalam dirinya akibat kelakuan suster pada Ezra nyatanya rasa bahagia itu mampu menghilangkan rasa jengkelnya pada Ezra.
"Tha … liburan mau ke mana nih?" tanya Claudia, seraya menyeruput minuman jusnya.
Mereka berdua kini tengah berada di restoran mall, kalau saja bukan Claudia yang mengajaknya sudah dipastikan dirinya sangat malas pergi ke mall terlebih jika tidak ada urusan yang sangat penting atau mendesak baginya.
"Enggak tahu."
Claudia berdecak. "Lu gimana sih, Tha. Emangnya lu enggak bete sendirian di rumah terus?"
"Enggak bete lah. Kan, di rumah ada sua—"
"Sua? Suami maksud lu?"
Ditha tersedak setelah mendengar pertanyaan Claudia, buru-buru dia mengambil segelas jus lalu dia segera meminumnya.
Sialan! Hampir aja keceplosan. Bay the way, apa gua cerita sekarang aja kali, ya? Rasanya capek banget gua cuman bisa pendem sendirian saat ada masalah inilah itulah, batin Ditha.
"Kok diam?"
Ditha sudah menyelesaikan makannya dia pun duduk bergeser mendekati Claudia yang masih menyantap seporsi somaynya.
__ADS_1
"Gua mau jujur tapi, ini serius banget. Please, ya, lu jangan kasih tahu ke siapa-siapa?"
Claudia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Kenapa jadi gua yang deg-degan, ya?" gumam Ditha.
Dia pun menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.
"Jadi … tepat di hari yang sama setelah kepergian nenek gua. Gu–gua udah resmi jadi, istri."
Kedua mata milik Claudia membulat sempurna seperti bakso yang sedang di bawa pelayan restoran yang tengah mengantarkan pesanan milik pengunjung di sana. Antara percaya dan tidak percaya, sungguh rasanya sulit baginya percaya omongan temannya itu barusan.
"Serius? Lu enggak lagi bercanda, kan?" Ditha mengangguk yang artinya dia tidak bercanda. "Sama siapa, Tha? Gila nenek lu meninggal udah lama juga astaga ...."
"Syok, kan lu? Apalagi gua yang di posisi pas itu setelah nika, nenek gua langsung meninggal. Enggak kebayang, Clau …."
"Kenapa enggak cerita sama gua sama Adel juga? Pantesan aja pas itu gua—" Claudia yang ingat sesuatu langsung meraih tangan kanan Ditha dan dia melihat masih ada cincin yang melingkari jari manis temannya itu. "Jangan-jangan … lu nikah sam—" Ucapannya terpotong karena Ditha sudah mengangguk duluan karena dia sudah tahu siapa yang ingin Claudia ucapkan.
"Iya. Tuduhan pas itu yang di bilang, Reval emang benar. Gua udah nikah dan gua nikahnya sama … ya, sama dia sama, pak Ezra." Ditha menundukkan kepalanya seraya memainkan jari-jarinya entah apa yang sedang dia rasakan yang jelas rasanya semua ini tidak adil baginya.
"Gua merasa masih ada hal yang ganjal lainnya yang belum lu kasih tahu ke gua. Tapi, gua siap kok dengerin curhatan lu kapan aja. Enggak harus sekarang." Claudia yang mengerti keadaan Ditha saat ini makanya dia tidak ingin memaksa Ditha langsung bercerita dengannya.
Sore menjelang malam akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Claudia yang sudah pulang duluan sedangkan, Ditha dia masih menunggu angkutan umum. Meskipun tadi Claudia memaksa agar dia pulang di antar dengannya tetap saja Ditha tidak ingin merepotkan Claudia.
"Gua harus kasih tahu Adel ini mah. Siapa tahu aja liburan sekolah nanti dia liburan ke sini dan kita bisa pergi ke mana aja. Kalau bisa keliling dunia sekalian. Anggap aja ini sebagai kado pernikahan Ditha sama pak Ezra. Eh, tapi enggak adil dong, ya, masa hadiahnya cuman buat Ditha doang. Pak Ezra, gimana? Enggak tahu lah nanti aja pusing gua!" Claudia terus saja menggerutu di dalam mobil selama perjalanan pulangnya.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Sudah jalan lumayan jauh dari mall yang dia datangkan tadi masih saja belum ada angkutan umum lewat. Hari sudah semakin gelap kondisi jalan kebetulan sepi karena, habis di guyur hujan. Tanpa Ditha sadari ada mobil sedan putih yang sedang mengikuti dirinya dari belakang. Memang tidak ada firasat apa-apa yang dirasakannya, Ditha masih terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang karena memang posisinya saat ini dia tengah memainkan ponselnya sambil berjalan. Tidak terasa dia berjalan di jalan yang di mana cukup sepi sekali bahkan tidak ada satu orang pun pejalan kaki maupun kendaraan yang melintas di tempat yang dia lewati saat ini.
"Ya ampun, horor banget sih hawanya. Kenapa gua bisa milih jalan ini, ya?"
Ditha kini baru merasakan jika ada yang sedang mengikuti dirinya entah mengikuti atau kebetulan saja lewat jalan itu yang jelas dia merasakan bahwa lampu pencahayaan mobil itu masih saja stay muncul dari arah belakangnya.
Akhirnya Ditha memberanikan diri untuk menoleh ke belakang yang di mana lampu mobil itu sudah tidak menyala lagi. Heran tetapi, di sana dia melihat ada mobil yang terparkir entah itu punya seseorang atau mobil yang tadi tengah mengikuti dirinya. Ditha pun segera berlari meninggalkan tempat itu.
Siapapun itu, tolongin gua. Please! Gua takut, gua takut di apa-apain sama penjahat! Gua masih pengen jadi perawan, gua enggak mau di jebol sama penjahat! Nanti suami gua gimana, kalau gawang gua ternyata udah di jebol buka sama dia? Bisa-bisa di golok gua, batin Ditha menjerit.
Dia masih dalam keadaan berlari sampai di mana suara klakson mobil yang begitu keras mengagetkan dirinya hingga dia terjatuh dan lututnya mencium aspal.
"Argh! Sialan, kenapa pakai jatuh segala sih. Gara-gara klakson mobil itu bikin gua jatuh begini, kampret!" gerutunya.
Lampu mobil yang telah membuat Ditha terjatuh masih saja menyala hingga membuat pengelihatan Ditha menjadi silau akibat cahaya mobil itu.
"Mba Ditha, kenapa tadi lari-lari?"
"Hah? Lo siapa?" tanyanya heran. Akibat lampu pencahayaan mobil itu terang sekali sehingga tidak menampakkan orang yang sedang mengajaknya berbicara.
"Saya sopirnya, mas Ezra, Mba."
"Sopirnya?" gumamnya. Akhirnya Ditha berdiri dan menuju ke mobil itu. "Pak, saya numpang, ya? Sampai depan gang rumah aja!" pinta Ditha.
__ADS_1
"Enggak usah numpang, Mba. Biar saya antar sekalian saya juga ingin bertemu, mas Ezra," sahut sang sopir.
Keduanya akhirnya meninggalkan tempat itu dan bergegas menuju rumah Ditha. Hanya butuh waktu beberapa detik saja keduanya sudah sampai di depan rumah Ditha.