
3 Jam kemudian…
Ditha belum keluar dari dalam kamar mandi. Air yang mengalir dari shower pun masih terdengar jelas di luar pintu kamar mandi itu. Bibirnya kian pucat serta tubuhnya kini semakin dingin dan melemas di bawah derasnya air shower yang mengalir ke tubuhnya. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya kecuali denyut jantungnya. Ditha pingsan sekitar 2 jam yang lalu namun, tidak ada satu orang pun yang mengetahui hal tersebut.
"Kalau dari awal rencana, Mamah seperti ini, enggak pernah aku mau turutin. Biarkan aja aku di penjara yang terpenting aku mau bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa mendiang almarhumah Nek Yeyen," protes Ezra pada Mamahnya. Keduanya masih membicarakan perihal atas dasar apa Lula menikahi anaknya itu dengan cucu korban kecelakaan yang di lakukan oleh sang anak kandungnya.
"Zra, seharusnya kamu bersyukur, Mamah bantuin seperti ini. Kan kamu jadi, bebas dari hukuman yang mungkin mengharuskan kamu mendekam bertahun-tahun dalam sel penjara," sahut sang Mamah.
"Enggak begini juga, Mah caranya. Kasian Ditha harus mengalami hal seperti ini. Menikah di usia muda terlebih dia menikah sama orang yang udah bikin Neneknya kecelakaan. Aku suka heran pemikiran orang tua zaman sekarang."
Tak lama asisten rumah tangga menghampiri mereka berdua. Asisten rumah tangga yang bernama Pipin itu memberitahukan bahwa ia melihat Ditha sedang berada di kamar mandi dengan menyalakan air di shower serta ia juga mengatakan bahwa kondisi Ditha saat ini pucat sekali ia yang bingung langsung pergi meminta bantuan pada orang rumah syukur alhamdulillah Pipin bertemu majikan dan anak majikannya di bawah.
Memang saat ia ingin membersihkan kamar tamu tidak ada sahutan suara dari dalam kamar tersebut dari pada penasaran ia masuk ke dalam dan ia mendengar percikan air dari dalam kamar mandi tak lama ia masuk ke dalam dan melihat ada Ditha di sana yang sudah pingsan dengan keadaan wajah yang sudah pucat.
Ezra hanya menunggu di bawah karena, tidak bisa ke kamar tamu yang letaknya di atas. Ia membiarkan sang sopir yang membawa Ditha ke bawah untuk menuju ke rumah sakit yang sudah menjadi langganan keluarganya.
...ΩΩΩ...
"Lu sama Ditha, kapan mau ke sini? Gua kangen banget nih," ucap Adel melalui sambungan video call dari seberang sana.
__ADS_1
"Gua sama Ditha juga kangen lu, Del. Kangen kumpul bareng, hangout bareng, karaoke bareng di rumah gua. Semuanya deh hal yang kita bertiga lakuin, gua kangen banget. Sabar aja dulu nanti, deh gua bilang sama Ditha kapan mau ke sana," sahut Claudia.
"Jangan lama-lama. Bay the way, kemana sih, Ditha? Kok di video call enggak bisa."
"Mungkin sibuk."
Keduanya memang belum mengetahui kejadian yang menimpa Ditha hari ini. Tidak ada firasat yang mereka berdua rasakan karena, pada dasarnya jika ada temannya yang sakit bisa di pastikan teman yang lainnya akan ikut merasakan hal yang sama. Namun, untuk saat ini mungkin mereka belum merasakannya.
...ΩΩΩ...
Ditha sudah di tangani oleh Dokter kepercayaan keluarga Ezra. Mereka memilih Dokter kepercayaannya karena, sudah kesekian kalinya Dokter itu menangani keluarga Ezra saat sedang sakit dan berhasil sembuh dalam artian bukan berarti keluarga Ezra tidak mempercayakan pekerjaan Dokter yang lain namun, memang sifat keluarga mereka seperti itu. Mereka ingin memberikan perawatan yang terbaik setiap salah satu anggota keluarganya ada sedang terkena sakit. Kecuali pada saat Nenek Ditha kecelakaan serta Ezra mereka membawa ke rumah sakit yang beda dengan sekarang ini.
Lula terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit, setelah mendengar penuturan dari sang Dokter yang menangani Ditha.
"Terus, sekarang gimana keadaannya, Dok?" tanya Jessy.
Dokter tampan yang blasteran Pakistan Indonesia itu tersenyum. "Kita berdoa saja semoga ada keajaiban yang Tuhan berikan untuk gadis itu. Tadi saya cek kondisinya masih sangat mengkhawatirkan sampai pucat seperti itu lagi," jawab sang Dokter.
"Darrel, tolong yah kamu selamatkan menantu, Tante. Tante akan sangat berdosa sekali kalau melihat gadis itu kenapa-kenapa gara-gara, Tante," lirih Lula dalam keadaan menangis. Ezra langsung mengusap air mata Mamahnya itu serta mengusap punggung Lula.
__ADS_1
Dokter Darrel itu hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Kemudian, ia pamit untuk kembali ke dalam keruangan yang di mana Ditha tengah terbaring lemah.
"Kenapa bisa begini sih, Mah, Kak?" tanya Jessy.
"Dia ngambek gara-gara enggak gua beliin ponsel baru. Makanya jadi pingsan begini," jawab Ezra asal untuk mencairkan suasana.
Jessy menjitak kepala Ezra. "Enggak usah ngelawak. Pasti ini gara-gara lu."
"Seharusnya tadi, Mamah tidak dahulu menceritakannya. Kalau ada apa-apa dengan Ditha, Mamah akan berdosa sekali enggak menjaga amanah dari mendiang Neneknya Ditha," sahut Lula.
Sebenarnya aku kasian banget sama Ditha. Dia harus menerima semua kenyataan yang mungkin sangat pahit di hidupnya ini untuk selama-lamanya di dalam hidup dia. Tapi, di sisi lain aku enggak bisa bantu apa-apa. Ma'afin, aku ya Ditha. Kalau waktu itu aku ngomong yang sebenarnya pasti kalian enggak akan terjebak di dalam pernikahan tanpa cinta dan udah di pastikan Kak Ezra sekarang ini ada di dalam penjara, batin Jessy merenungi.
Jessy mengusir Kakaknya untuk berpindah posisi agar dirinya dekat sang Mamah. Jessy mengusap bahu sang Mamah tercinta.
"Mah, sabar, Mah. Kalau dari awal Mam—"
"Udah, Jes, udah. Kamu jangan bahas hal ini lagi!" bentak Lula. Jessy sendiri sampai terperanjat tidak menyangka bahwa Mamahnya akan mengeluarkan suara yang sangat ia tidak suka selama ini. Yah, Jessy sangat tidak suka jika ada yang membentak dirinya sekalipun ia salah jika kesalahannya itu masih bisa di bicarakan baik-baik kenapa harus dengan membentak? Siapapun itu Jessy sangat tidak menyukainya dan akan membenci bentakan yang keluar dari mulut seseorang yang membentaknya.
"Mah …," sahut Ezra. Ia mengkode Mamahnya agar ia tidak membentak Jessy karena hal itu akan membuat mental Jessy down. Lula yang sadar langsung meminta maaf pada Jessy atas bentakannya itu karena ia pun tidak ingin mendengarnya lagi. Pikirannya masih belum stabil karena memikirkan kondisi dari mantunya itu saat ini. Sedangkan, hati dan lisan Jessy tidak satu frekuensi sehingga Jessy masih butuh waktu jika harus memaafkan kesalahan sang Mamah.
__ADS_1
TBC