
Claudia menoleh ke belakang punggungnya saat dirinya baru saja keluar dari perpustakaan.
"Eh, iya. Ada apa, Pak?"
"Itu si, Ditha kenapa dia? Seharian ini banyak diam."
"Saya juga kurang tahu sih, Pak. Mau maksa dia buat cerita ke saya, ya saya enggak enak."
"Ya, enggak harus di paksa juga dong. Masa kamu teman dekatnya enggak tahu?"
Ini Guru ngeselin banget sih! Sama kayak si, Zaky. Biar pun gua teman dekatnya juga kalau itu urusan pribadi, apa boleh gua buat? Jambak rambutnya biar, Ditha mau cerita sama gua gitu? Aneh, batin Claudia.
"Kok malah diam?"
"Mungkin urusan pribadinya, Pak. Atau ini ada hubungannya sam—"
"Sama siapa?" potong Pak David.
"Sama, pak Ezra. Soalnya kemarin, pak Ezra ke sini terus minta nomornya, Ditha."
"Ke sini cuman minta nomornya, Ditha?"
__ADS_1
Claudia mengangguk.
"Kalau gitu saya pulang dulu, Pak," pamit Claudia seraya mengecup tangan Pak David.
"Makasih infonya, Claudia."
Claudia tersenyum. "Sama-sama, pak."
...ΩΩΩ...
Lula sudah sampai di depan rumah mendiang nek Yeyen. Dia tidak sendirian, ada seseorang yang tadi dia ajak juga ke rumah itu. Keduanya turun dari mobil dan memasuki rumah itu.
Suster? Kenapa, mamah bawa suster ke rumah? batinnya bertanya-tanya.
Ditha berpindah posisi menjadi di dekat pohon yang bersampingan dengan rumahnya agar mempermudah mendengar pembicaraan mereka di sana.
"Lama banget sih buka pintunya," canda Lula saat mereka masih di ambang pintu rumah.
Ezra malah tidak menanggapi omongan mamahnya itu, dia di buat heran dengan kedatangan wanita yang berdiri di samping mamahnya.
"Kenapa ada suster di sini, Mah?" tanya Ezra heran.
__ADS_1
"Oh iya, Mamah lupa. Kenalin ini, suster Mila dia yang akan membantu kamu berdiri dan berjalan."
Suster Mila tersenyum seraya membungkukkan setengah tubuhnya. "Perkenalkan saya, suster Mila. Saya yang akan membantu proses pemulihan kesembuhan Anda," ujar sang suster memperkenalkan diri.
Ezra hanya menanggapi sebuah senyuman tipis dan dia menyuruh mamahnya serta suster Mila untuk masuk ke dalam rumah.
"Jadi, suster itu yang bakalan bantuin proses pemulihan dia," gumamnya.
Sekarang Ditha tengah memikirkan apakah dia langsung masuk ke dalam rumah? Atau menunggu kepulangan mamahnya barulah dirinya masuk ke dalam? Sungguh bingung! Sibuk kelamaan berfikir sampai-sampai dirinya tidak menyadari bahwa mamahnya sudah pulang. Hingga menyisakan sang suster dan Ezra di dalam rumah sana.
"Ah! Kelamaan. Mending masuklah terus, gua harus bersikap sok cuek aja. Iya!" Ditha menjentikkan jarinya.
Langkah kakinya memasuki rumah kediaman mendiang nek Yeyen. Baru saja ingin membuka pintu kamarnya sudah terdengar suara canda tawa suster itu yang berasal dari arah dapur. Ditha menoleh dan dia merasakan seperti ada rasa yang mengganjal di hatinya yang entah itu apa. Setelah berada di dalam kamarnya Ditha hanya mengenakan tank top serta celana jeans pendek saja.
Tangannya bergulir pada jejaring sosial media yaitu, WhatsApp. Ditha membuka foto profil milik Ezra, Ditha kembali harus merasakan sakit yang dia pernah rasakan pada malam kemarin. Foto profil milik Ezra itu menampakkan 2 orang yang sudah di pastikan itu adalah Ezra dan pacarnya. Mereka berdua bergandengan tangan membelakangi kamera serta berlatarkan senja dan itu tentu memberikan kesan sederhana namun, penuh dengan keindahan dan kebahagiaan.
Sebuah senyuman miris tercipta di sudut bibirnya. Kemudian, Ditha memilih untuk mematikan ponselnya itu. Dengan kedua mata yang terpejam diikuti pula dengan air yang mengalir dari pelupuk matanya. Entah, selanjutnya apa yang akan terjadi setelah kehadiran suster Mila itu di dalam kehidupan rumah tangganya mereka berdua.
"Dari cara suster itu pakai seragam aja, gua udah bisa tebak apa rencana suster itu selanjutnya," ujarnya.
TBC
__ADS_1