DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Drama Mamah Lula


__ADS_3

"Cie … cie di lamar." Ledekkannya itu ternyata belum berhenti juga sampai saat ini. Dari semalam Claudia selalu mengganggunya dengan ledekkannya melalui via WhatsApp sampai sekarang mereka berada di sekolah.


"Gua harus jawab apa, Clau?"


"Iya. Jawab aja iya."


Ditha menoleh ke Claudia dengan tatapan sedih. "Jahat lu mah ih. Gua kan enggak ada rasa ke dia."


Reval dan Zidan kebetulan lewat di belakang Ditha dan Claudia langsung mendengar obrolan kedua temannya itu dan langsung menghampirinya.


"Siapa yang mau di lamar?" tanya Zidan.


"Aroma-aromanya sih, udah pasti Ditha," tuduh Reval. Dan tentu saja itu benar bukan fitnah namun, Ditha maupun Claudia tidak akan menjawabnya.


"Adel," jawab Claudia asal.


Zidan membelalakkan matanya. "Sama siapa? Kok enggak bilang di grup?"


"Kepo banget sih lu,"sahut Ditha.


"Cemburu, yaaa? Hahah nanti gua bilangin, Adel kalau lu cemburu buta." Claudia menggertak Zidan tentu saja raut wajah Zidan berubah menjadi datar.


"Biasa aja, cuman nanya doang gua." Setelah mengatakan itu Zidan meninggalkan ketiga temannya itu. Di susul dengan Reval karena, ia tidak mau ikut campur.


Keduanya menghembuskan nafasnya saat melihat kedua pria itu pergi dari hadapannya.


...ΩΩΩ...

__ADS_1


Lula berencana untuk berbelanja banyak keperluan sekalian ia ingin membeli sesuatu untuk menantunya saat dirinya datang ke rumah Nenek Ditha di hari weekend nanti. Tak lupa Ezra juga ikut dengannya karena, Lula ingin menanyakan beberapa pendapat padanya apa yang mau ia berikan untuk Ditha nanti. Mereka memasuki butik yang punya adalah teman SMA Lula yang sekarang mempunyai 10 cabang butik di kota-kota berbeda di Indonesia.


"Mah, mau ngapain sih ke sini?" bisik Ezra, pada mamahnya yang sedang sibuk melihat-lihat pakaian yang ada di sana.


"Tidur. Ya, beli lah."


"Beliin siapa?"


"Buat Ditha, kamu bantu pilihin ya. Mamah, mau ke sana dulu. Nanti, kalau udah selesai, Mamah ke sini. Dan kamu harus udah selesai memilih pakaian buat, Ditha."


Lula pergi meninggalkan Ezra mau tidak mau Ezra harus menuruti perintah Mamahnya. Ia berpindah tempat pada lemari pakaian yang sudah pasti di perkirakan harganya yang begitu mahal. Ezra pun bertanya-tanya pada karyawati toko butik tersebut untuk membantu memilihkan pakaian buat Ditha.


"Ada yang bisa kami bantu, Mas?" tanya karyawan toko tersebut.


"Style pakaian untuk anak SMA, cocoknya yang mana, Mba?"


"Saya rekomendasikan ya, Mas. Untuk gadis SMA itu cocoknya yang seperti ini, Mas," tunjuk karyawati toko tersebut. "Ini salah satu style Korea, Slip dress bermotif floral yang dipadukan dengan kemeja putih polos bisa bikin terlihat lebih fresh. Kalau untuk yang lebih feminin bisa gunakan mini handbag dan high heels. Tapi, buat yang suka style casual yang nyaman, sneakers juga bisa jadi pilihan yang pas. Tergantung seleranya masing-masing sih, Mas."


Karyawati itu tertawa kecil. "Kebetulan saya penyuka style Korea dan penganggum Oppa-oppa Korea."


Ezra mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada lagi nih, Mas. Mini dress ini modelnya flare dengan warna biru yang solid. Baju bahan polyester kombinasi ini memiliki kerah model V. Baju potongan regular fit ini memiliki 2 kantong samping dan ada kancing belakang untuk menutupnya."


"Oke, boleh juga. Dua itu dulu ya, Mba. Saya mau lihat-lihat lagi ke sana."


Karyawati itu menganggukan kepalanya. "Baik, Mas."

__ADS_1


Ezra berganti pada lemari kaca yang memperlihatkan pakaian yang di gantung di dalamnya. Di sela-sela memilih pakaian untuk Ditha, Ezra di ajak ngobrol sama karyawati butik tersebut.


"Kalau boleh tau … untuk adiknya ya, Mas?" tanya karyawati tersebut sambil menurunkan beberapa pakaian yang Ezra pilih tadi.


"Bukan. Buat istri."


Karyawati tersebut menyatukan kedua alisnya.


Istri? Masih SMA udah jadi istri? Hamil di luar nikah apa gimana sih? Kayaknya enggak mungkin. Secara dia kan ganteng banget ya, kali hamilin anak orang di luar nikah. Tapi, bisa jadi juga mau ganteng atau jelek kalau hasratnya enggak tertahankan mau gimana? batin karyawati itu berceloteh.


"Sebenarnya di toko ini memang hanya jual pakaian khusus anak remaja, Mas. Rata-rata yang datang ke sini selalu menanyakan pakaian model Korea. Pasti nanti istri, Mas tambah cantik terlebih yang milih langsung itu suaminya."


Ezra tak menanggapinya ia sibuk memilih pakaian hingga tidak terasa sudah ada 10 pasang pakaian yang sudah ia pilih. Lula menghampiri anaknya itu dengan raut wajah tersenyum. Jujur saja ia hanya ingin menemani putranya itu membelikan pakaian untuk menantunya karena, sudah di pastikan Ezra tidak mau membelikannya kalau tidak ada dorongan Mamahnya. Itu pun harus drama dulu baru bisa mengajak anaknya itu.


"Udah, Zra?"


"Udah."


Lula mengambil alih pakaian yang sudah di pilih Ezra.


Ezra mengeluarkan kartu kreditnya dari dalam dompet lalu menyerahkan pada Mamahnya. "Bayarnya pakai kartuku aja, Mah."


"Hmm, oke. Kamu tunggu sini, ya!" ucap Lula yang langsung di anggukkan Ezra. Lula pun segera membayar semua pakaian pilihan Ezra di kasir toko butik tersebut.


Drettt! Drettt!


"Rinda," gumam Ezra setelah melihat id panggilan video call di layar ponselnya. Tidak lama Lula kembali dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.

__ADS_1


"Ayok," ucap Lula. Lula mendorong kursi roda Ezra. Mau tidak mau Ezra terpaksa riject panggilan video call dari Rinda itu.


TBC


__ADS_2