DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Udah Berani Menggoda


__ADS_3

Sesuai ucapannya kemarin siang, Ezra benar-benar berbicara serius empat mata dengan Ditha di ruang tamu. Namun, karena sifat ngeselinnya yang sudah melekat di diri Ezra membuat Ditha sangat malas untuk mendengarkannya. Ia malah sampai memakai headset di kedua telinganya tak hanya itu ia juga mengeraskan volume suara pada ponselnya supaya tidak terdengar suara ocehan dari mulut Ezra.


"Ditha, sebentar saja saya mau ngomong serius." Sudah berkali-kali Ezra mengatakan itu pada Ditha namun, Ditha tidak peduli bahkan sekalipun suara Ezra terdengar ia pura-pura tidak mendengarnya.


"Egois banget anak ini. Apa selama ini dia juga begitu dengan almarhumah, nek Yeyen?" gumamnya.


Ezra terus saja memperhatikan Ditha yang dari tadi tidak mau mendengarkan perkataannya. Ezra yang sudah capek, memilih untuk meninggalkan Ditha di ruang tamu sendirian. Ditha melihatnya baru lah dari situ ia melepas kedua headsetnya dari kedua telinganya.


"Emang dia mau ngomong apa sih? Serius banget kayaknya. Bay the way, kalau hari ini gua sekolah yang ngurusin dia di sini siapa dong?" ujarnya, diikuti langkah kaki menuju meja makan untuk sarapan pagi.


...ΩΩΩ...


Hari terakhir di Indonesia membuat Rinda enggan untuk meninggalkan kekasih tercintanya. Meskipun baru beberapa hari namun, baginya serasa satu jam bertemu dengan orang-orang yang ia rindukan di Indonesia. Rinda tadi sudah menelepon Ezra agar dirinya mau datang ke tempat favorit keduanya. Anggap saja ini adalah pertemuan terakhir mereka berdua sebelum Rinda kembali berkuliah ke luar negeri.


"Sayang … nanti jangan lupa ajak, Ezra ke sini. Mommy, sudah lama tidak bertemu dengan dia, apalagi sekarang dia mengalami kecelakaan dan mengharuskan dia duduk di kursi roda," ujar Mommy Rinda.


Rinda menganggukkan kepalanya. "Iya. Nanti aku ajak, Ezra ke sini. Kalau begitu aku pergi dulu, Mom!" pamit Rinda. Setelah itu ia pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya itu dan berangkat menuju tempat tujuan.


...ΩΩΩ...


Setelah sarapan Ditha langsung membasahi tubuhnya di dalam kamar mandi. Ia tidak peduli jika nanti Ezra tidak ada yang mengurusnya karena, itu sudah menjadi resiko bagi Ezra kenapa ia harus tinggal di sini bersama dirinya.

__ADS_1


Di rasa sudah sangat segar Ditha menyudahi aktivitas mandi paginya, ia melilitkan handuk di tubuhnya yang putih nan mulus itu. Kebiasaan setiap harinya memang seperti itu jika, habis mandi ia akan berganti pakaian di dalam kamarnya bukan di dalam kamar mandi.


Ditha keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamarnya namun, saat baru mau melewati kamar mendiang neneknya. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan ia melihat Ezra yang hendak keluar dari kamarnya. Kedua mata Ditha membulat sempurna kala Ezra sedang memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah hanya menggunakan handuk di tubuhnya. Dan itu membuat tubuh Ditha seketika seakan di setrum listrik, ia pun mengeratkan handuknya pada tubuhnya agar tidak ada hal yang tidak ia inginkan sama sekali terjadi.


Haduhh! Gua kok bisa lupa begini sih, kalau di rumah ini ada dia. Argh, batin Ditha menyesalinya.


"Jangan tegang begitu, kita ini sudah jadi suami istri bukan orang lain lagi. Jadi, santai aja," sahut Ezra tanpa dosa.


Tentu saja itu membuat Ditha kesal dalam hatinya. Namun, ia tidak ingin meluapkannya saat ini bisa-bisa ia terlambat ke sekolah. Ditha melegang begitu saja dari hadapan Ezra dan memasuki kamar miliknya.


Ezra menyunggingkan sudut bibirnya. "Jadi, dia sekarang udah mulai berani menggoda gua?" tanyanya pada diri sendiri.


Di dalam kamar, Ditha belum berhenti juga merutuki kekesalannya pada dirinya sendiri. Akibat ia ceroboh tidak mengingat jika di rumah ini ada Ezra.


Memang benar Ezra pria dewasa apalagi di usia yang hampir mau menuju kepala tiga, gairah seksualnya pada dirinya mungkin sedang tinggi-tingginya. Dan tadi malah sudah di suguhkan pemandangan yang membuat gairah para laki-laki di pagi hari semakin semangat, entah semangat untuk melakukan apa Ezra sendiripun belum mengetahuinya.


Tidak butuh waktu lama Ditha sudah siap untuk berangkat sekolah. Baru saja ia membuka pintu kamarnya sudah bertemu kembali dengan Ezra dan itu membuat Ditha menjadi canggung padahal dirinya bisa saja langsung melupakan kejadian tadi tapi, ada apa dengan dia saat ini? Sama dengan halnya biasanya Ezra mengatakan sesuatu pada Ditha namun, setelah kejadian tadi pagi membuat dirinya enggan berbicara. Tak lama terdengar suara Ditha langsung melegang pergi dari rumah dari pada ia terus-terusan di buat seperti orang gila lebih baik segera meninggalkan rumah.


...ΩΩΩ...


Rinda dan Ezra sudah sampai di tempat favorit mereka yang berada di Kota Bogor. Tempat favorit mereka cukup terkenal dan sangat cocok untuk di jadikan tempat pacaran bagi anak muda. Pemandangan pagi hari memang tidak seindah pemandangan ketika malam hari namun, tidak mengurangi keindahan dekorasi aesthetic di tempat tersebut.

__ADS_1


Bahkan tempat itu selalu ramai pengunjung muda-mudi apalagi jika malam minggu tempat tersebut akan selalu penuh dengan para pengunjung sehingga keterbatasan kursi membuat beberapa pengunjung yang tidak kebagian duduk merasa kecewa. Padahal sudah di ingatkan jika, tidak ingin kehabisan tempat mereka harus datang lebih awal. Kecuali hari-hari biasa mungkin tidak terlalu ramai.


"Sayang …," panggil Rinda pada Ezra dengan nada manjanya.


Ezra tersenyum menatapnya. "Kenapa, sayang? Hmm?"


"Kamu kapan sembuhnya?"


"Belum, tau. Dokter, bilang sih enam bulan ke depan. Tapi, itu juga kan butuh proses. Aku harus belajar berdiri, kalau bisa berdiri pasti aku bisa juga berjalan," sahut Ezra.


"Aku jadi pacar enggak berguna banget, ya? Di saat pacarku sakit, aku enggak bantu merawatnya buat sembuh. Atau aku berhent—"


"Sebentar lagi kamu mau lulus dan jadi sarjana, Rinda. Jangan memikirkan aku yang kondisinya kayak begini."


"Tapi, aku merasa bersalah dan enggak berguna jadi pacar kamu, Zra."


Yang seharusnya merasa bersalah itu aku, Rinda. Karena, aku sudah selingkuh dari kamu bahkan sekarang aku sudah menikah dengan gadis SMA yang enggak sama sekali aku cinta, batin Ezra.


Ingin sekali mengatakan itu di hadapan Rinda saat itu juga namun, lidahnya seperti diikat oleh tali tambang yang sangat tebal sehingga tidak bisa untuk di lepaskan.


"Kita di sini kan mau menikmati pemandangan di sini untuk terakhir kalinya kamu di Indonesia sebelum kamu balik ke luar negeri buat lanjutin studi kuliahmu. Bukan, mau membahas hal-hal sedih, kan?" tanya Ezra berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


Rinda menganggukkan kepalanya. "Iya."


Keduanya melanjutkan obrolan yang lebih mengarah ke masa-masa pdktan mereka dahulu dan sampai di mana keduanya kini telah resmi berpacaran selama 3,5 tahun. Entah hubungan mereka akan mau di bawa sampai mana, yang jelas cinta Ezra untuk Rinda seperti sudah ambyar tidak ada lagi rasa cinta yang benar-benar melekat di awal-awal ketika mereka pacaran.


__ADS_2