
Ezra berdecak sebal. Karena, pak David malah meledeknya. Tetapi, ada benarnya juga kebanyakan laki-laki mencari pasangannya itu lebih muda darinya. Adapun yang sudah masuk fase di mana mendekati ajalnya masih saja mencari daun muda. Entah apa yang diinginkan para laki-laki sehingga mereka tidak sadar dengan umurnya yang sudah mendekati ajalnya.
"Intinya lu mau apa ke sini, Bang? Gua enggak bisa lama-lama."
Ditha mendekati pak Ezra. "Pak, saya mohon jangan bilang ke siapa-siapa soal ini. Saya takut dikeluarkan dari sekolah," mohon Ditha. Ezra memperhatikan wajah Ditha melas sekali dan itu membuatnya sangat lucu di matanya. Apalagi kalau sedang marah akibat ulahnya sungguh detik itu juga dia ingin melahapnya.
"Kenapa harus takut? Memangnya kamu hamil di luar nikah? Lagian menikah di saat masih berstatus pelajar tidak ada yang salah. Tidak perlu ada yang kamu takuti," sahut Ezra. Ditha langsung menoleh pada Ezra.
"Bisa diam enggak sih?! Saya lagi ngomong sama pak David. Nyambung aja kayak petir!" sungut Ditha.
Pak David tertawa kecil. "Kalau kalian bilang dari awal, ya, saya bisa saja merahasiakan pernikahan kalian berdua. Tetapi, kalau sudah berakhir seperti ini? Saya tidak bisa menjaminnya."
Tatapan Ditha beralih pada pak David. "Maksudnya? Pak David, mau bocorin pernikahan saya dengan dia ini?"
"Mungkin."
Ditha kembali menatap Ezra dengan tajam. "Ini semua gara-gara lo! Mulut ember lo kalau enggak bocor enggak akan jadi begini jadinya!" sungut Ditha, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.
Helaan nafas kasar terbuang kasar begitu saja dari lobang hidungnya. Seandainya waktu bisa diputar seperti memakan oreo maka akan Ezra lakukan. Tetapi, nyatanya itu hanyalah sebuah makanan dan tidak bisa di samakan dengan sebuah waktu di dalam kehidupan nyatanya.
"Sorry, Zra. Gua enggak bermaksud buat lu jadi berantem begini sama Ditha, tapi—"
"Udahlah, Bang. Lebih baik lu pergi dari sini gua lagi sibuk."
Pak David beranjak dari duduknya. "Oke, sekali lagi sorry. Gua pergi dulu," pamit Pak David yang langsung diiyakan oleh Ezra.
...ΩΩΩ...
Di dalam kamar sana Ditha membuka album foto yang di dalamnya terdapat foto-foto saat dirinya masih kecil bersama kedua orang tuanya dan keluarga besar lainnya. Dengan diiringi sebuah lagu Bunda yang di nyanyikan oleh Melly Goeslaw Ditha membuka lembaran-lembaran foto itu. Satu persatu menampakkan foto yang bayi yang sedang dalam balutan kain menyeluruh dari lehernya sampai ujung kakinya.
Jika Tuhan memberikan kesempatan kepada kedua orang tuanya untuk hidup kembali, Ditha berjanji akan selalu membuat kedua orang tuanya tersenyum dan bahagia saat bersamanya tetapi, itu tidak akan terjadi sampai kapan pun itu. Kedua orang tuanya sudah bahagia di surga sana. Tetapi, apakah mereka benar-benar bahagia melihat dirinya yang kini sudah berstatus istri orang? Apa mereka akan bahagia seandainya mereka masih hidup di dunia ini? Rasanya itu tidak mungkin. Bulir bening itu pecah dan mengahasilkan jejak-jejak air mata di kedua pipinya.
"Enggak adil banget rasanya hidup gua jadi kayak begini. Pernikahan yang enggak pernah sama sekali gua inginkan sampai kapan pun itu." Ditha menatap foto yang menampakkan wajah ayah dan mamahnya serta dirinya. "Sampai kapan pun tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah di keluarga ini, yah. Sekalipun itu suami aku yang tidak aku cintai dia enggak akan bisa seperti ayah. Cintanya kasih sayangnya perhatiannya atau apapun itu tidak bisa, yah!"
__ADS_1
Ditha menyeka air matanya.
"Mah … aku kangen banget sama mamah. Walaupun aku pernah menemukan sifat baik mamah di diri mertua aku, tetapi itu enggak bisa menggantikan posisi mamah sebagai ibu kandung aku …," lirihnya.
...ΩΩΩ...
Tidak terasa tugas suster Mila hari ini sudah selesai, dia pamit ingin pulang ke rumah. Namun, langkahnya baru sampai di depan gerbang rumah Ditha, sudah ada suara yang memberhentikan langkahnya itu. Suster Mila menoleh ke belakang terdapat Ditha tengah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
"Sus … saya minta kalau besok-besok masih mau bekerja di sini. Usahakan pakai pakaian yang lebih agak longgar lagi. Pasti ukuran seragam perawat ada yang lebih longgar dari ini kan?"
Suster Mila memperhatikan seragam yang dia kenakan di tubuhnya itu. Memang benar seragamnya cukup ketat apalagi di bagian bokongnya tercetak sekali bentuk lekukan bokongnya itu.
Suster Mila tertawa kecil. "Ah, iya. Baik, Mba besok saya akan ganti. Sebenarnya seragam ini seragam di mana saat saya masih di tugaskan di rumah sakit tempat saya bekerja dahulu. Berhubung masih masih muat jadi, saya pakai sampai detik ini."
What? Apa dia bilang?Jadi, ini yang dibilang masih muat … cetakan bokongnya keliatan banget ketat begitu. Situ mau kerja apa mau ngelont* si? Enggak bisa ngaca kali, ya! Jelas-jelas ketat begitu di bilang masih muat. Dasar suster abal-abal, batin Ditha kesal.
Ditha berusaha tersenyum agar suster itu melihat Ditha tidak terlalu kesal kepadanya. "Oke, Suster bisa pulang sekarang."
Suster Mila mengangguk. "Saya permisi dulu, Mba." Ditha hanya merespon dengan anggukkan, sedangkan suster Mila sudah berbalik badan dan keluar dari area rumah Ditha.
Di dalam rumah sana Ditha tampak kesal sekali masih pagi ada saja yang buat mood paginya hancur total. Dia pun meraih toples kaca yang berisi sebuah permen bulat yang bagian luarnya di cat dengan macam-macam warna tak lupa juga isinya berisi coklat yang padat. Tidak ada yang tahu jika memakan coklat mood yang semula hancur kini mulai membaik menit demi menit. Dengan ditemani acara komedi dari salah satu stasiun TV Ditha tertawa berkali-kali sampai-sampai tawanya sangat terdengar jelas di telinga Ezra saat dirinya berada di dapur.
"Cara balikin mood dia ternyata gampang juga. Cukup di sogok dengan makanan, moodnya kembali membaik," gumam Ezra di sela-sela memainkan ponselnya.
Drettt! Drettt!
"Hal—"
"Halo, sayang! Kamu apa kab— sebentar ini kayak bukan lagi di rumah kamu? Kamu lagi di mana sayang?"
Ezra menerima panggilan video call dari seseorang dan seseorang itu mengamati latar belakang Ezra yang di mana seseorang itu tidak mengenali sama sekali tempat di mana itu. Ezra mulai sedikit panik dan dia harus jawab apa.
"Ak–aku lagi di dapur. Kabar aku baik, bagaimana dengan kabar kamu, Rinda?"
__ADS_1
"Rinda?" gumam Ditha. Tadi dia ingin mengambil minum karena sangat haus namun, saat ini dia urungkan niatnya itu. Dia lebih baik menguping pembicaraan suaminya itu dengan sang pacar.
"Kabar aku baik. Tetapi, kenapa gelagat kamu seperti panik begitu? Apa jangan-jangan a—"
"Panik gimana? Di sini panas sayang tidak ada kipas angin," potong Ezra berbohong. "Kamu ada apa video call jam segini? Memangnya tidak ada kuliah?" tanyanya.
Di dekat lemari sana Ditha ingin rasanya melempar Ezra menggunakan panci detik itu juga.
"CK, sayang-sayang. Sama gua aja istri sahnya belum pernah tuh manggil gua sayang," gumam Ditha sebal.
Sebentar, apakah Ditha sekarang sedang menaruh harapan pada Ezra? Mengapa dia makin ke sini makin sering seperti orang sedang cemburuan? Dan tidak terima jika hanya pacarnya saja yang di panggil sayang, sedangkan dirinya tidak? Apa perasaan Ditha pada Ezra sudah berubah menjadi cinta? Entahlah.
"Sayang sudah dahulu, ya? Aku ada urusan."
"Oke."
Sambungan video call terputus.
Ezra menoleh ke kiri di sana dia melihat Ditha yang entah sedang apa dia pun tidak tahu, sedangkan Ditha yang ketahuan Ezra membelalakkan matanya panik? Tentu saja takut jika Ezra mengetahui dirinya bahwa sedang menguping pembicaraan dia dengan sang pacar.
Ditha berusaha menetralkan kondisinya sebelum dirinya benar-benar menuju dapur untuk mengambil minum. Di rasa sudah agak tenang tidak begitu panik seperti tadi dia pun mulai mengambil teko yang berisikan air minum.
"Sepertinya ada yang sedang menguping," sindir Ezra.
Sempurna! Kedua mata Ditha melotot, apa dia tidak salah dengar? Apakah Ezra tengah menyindir dirinya? Memangnya di sana selain dia dan dirinya ada siapa lagi? Fix. Memang benar Ezra tengah menyindir dirinya.
"Enggak usah fitnah tanpa adanya bukti!" sahut Ditha yang masih menuang air ke dalam gelasnya.
Ezra beralih menoleh Ditha. "Kenapa kesal? Kamu merasa ke sindir dengan ucapan saya?"
Sialan! Udah tahu, kenapa harus pura-pura nanya begitu sih? Pertanyaan yang menjebak, batin Ditha.
"Bodoh ah." Acuh tak acuh itulah yang Ditha tunjukkan saat ini. Dia malas ribut kembali dengan Ezra setelah terisi penuh gelasnya dengan air, Ditha kembali ke ruang tamu meninggalkan Ezra sendiri di dapur.
__ADS_1
"Kenapa, ya? Dia semakin hari semakin bikin gua penasaran aja," gumam Ezra.
TBC