DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Sewot Banget Sih


__ADS_3

Weekend kali ini Ditha di temani dengan Mamah mertuanya di rumah mendiang Nek Yeyen. Tidak ada acara apapun di hari weekend membuat gadis itu bangun siang dan tentu saja kedatangan mertuanya itu membuatnya kaget serta malu karena, anak gadis baru bangun tidur saat ayam sudah mencari makan di mana-mana.


"Maaf, ya, Bu. Lama buka pintunya." Ditha datang dari arah dapur dengan membawa segelas air minum untuk ia berikan pada Lula.


"Enggakpapa, Mamah juga enggak buru-buru."


"Ibu, ada perlu apa datang ke sini?"


"Kok Ibu sih manggilnya? Mamah, dong. Sekarang kan kamu menantu, Mamah." Lula memanyunkan bibirnya dan itu membuat Ditha tersenyum.


"Saya masih butuh waktu, Bu."


"Jangan kelamaan, sayang."


Ditha hanya merespon dengan sebuah senyuman.


Lula menyerahkan paper bag untuk Ditha, yang ia beli beberapa hari yang lalu bersama Ezra di mall.


"Buat kamu, sekarang kamu mandi terus kamu pakai yang ada di dalam paper bag ya. No, komen!"


Baru saja Ditha ingin membuka mulutnya namun, Lula sudah berkata 'No komen' kalau sudah begitu Ditha hanya bisa menurutinya.


Hanya butuh lima menit Ditha sudah siap dengan pakaian yang tadi Lula berikan padanya. Satu paper bag pakaian yang Ditha pakai itu sudah ada yang di laundry dahulu selebihnya belum dan sudah di pastikan ini sudah termasuk ke dalam rencana baik Lula.


"Ibu, seharusnya eng—"


"Itu tadi semuanya pemberian dari Ezra untuk kamu, bukan dari, Mamah. Yasudah kita pergi sekarang." Lula beranjak dari duduknya kemudian, keluar rumah mendiang Nek Yeyen diikuti oleh Ditha yang sudah siap dengan tas selempangnya.


Di sela-sela perjalanan sang sopir yang mengantarkan mereka berdua melirik sekilas dari spion tengah di dalam mobil Lula.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Lula.

__ADS_1


"Belum, Bu."


"Ya, sudah. Nanti kamu tinggal minta aja sama, Ezra ya."


"Mi–minta? Maksudnya, Bu?" tanya Ditha yang tampak belum faham.


"Ini kan hari weekend nanti kalian berdua habisin hari weekend ini dengan jalan-jalan ya. Kalau kamu mau apa aja bilang sama, Ezra pasti nanti dia belikan. Mamah, ada acara reunian sama teman-teman semasa kuliahan, Mamah."


Tak lama mobil yang membawa mereka berdua sudah sampai di sebuah taman, Lula dan Ditha keluar dari mobil dan mereka melihat mobil Ezra sudah ada di sana. Keduanya pun menghampiri mobil Ezra. Lula menyuruh Ditha untuk masuk ke dalam mobil Ezra dan duduk di samping Ezra. Belum sempat menolaknya Lula sudah lari meninggalkan mereka berdua di dalam mobil. Mobil Ezra dan mobil Lula sudah berpencar ke lain arah.


Sungguh keadaan saat ini tidak sama sekali Ditha inginkan. Ia harus terus-menerus di paksa oleh Mamah mertuanya itu, ingin menolak secara halus tampaknya itu sia-sia karena, Lula lebih pintar untuk membuatnya merasa tidak enak hati. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.


"Apa kamu udah bisa memaafkan kesalahan saya?" tanya Ezra yang masih fokus menatap lurus depan kursi kemudi.


Tidak ada jawaban dan sudah di pastikan Ditha belum bisa memaafkannya, Ezra pun mengerti dan memakluminya. Saat sudah lampu hijau, mobil pun kembali berjalan ke tempat tujuan yang mereka ingin datangkan.


Tidak terasa mobil yang membawa mereka berdua sudah sampai mall mewah yang di kota Bogor. Sang sopir memarkirkan mobilnya di parkiran mall, Ditha dan sopir turun dari mobil kecuali Ezra ia menunggu sang sopir membantu dirinya menggunakan kursi roda. Saat sudah duduk di kursi roda keduanya tampak berdiam diri saja.


Ditha menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada sopir tersebut. Keduanya pun meninggalkan area parkiran dan memasuki ke dalam mall.


Seperti sepasang kekasih yang sedang musuhan berjalan sama-sama saling berjauhan hingga salah satu karyawan penjaga toko menegur Ditha.


"Kak, pacarnya kok di biarin jalanin kursi roda sendiri sih? Enggak sayang ya sama pacarnya?"


Ditha yang merasa di omongin menoleh kepada karyawan penjaga toko tersebut lalu berganti menoleh sekilas ke arah Ezra.


"Jangan sok tau ya, Mas. Dia itu bukan pacar saya," ketus Ditha.


"Oh … jomblo." Karyawan tersebut mengangguk-anggukan kepalanya.


Ditha pun kembali berjalan mengikuti langkah kursi roda yang membawa Ezra entah mau ke mana. Ezra yang menggunakan kursi roda elektrik sehingga ia tidak perlu menggunakan tangan atau bergantung pada orang lain. Itu lah yang menyebabkan Ditha tidak membantu mendorong kursi roda suaminya. Kursi roda elektrik dengan kualitas terbaik tentu saja yang di pilih Ezra demi kenyamanannya. Ezra memasuki restoran di dalam mall Ditha pun heran kenapa Ezra memasuki restoran ini.

__ADS_1


Saat sudah sampai di meja makan, Ezra memanggil pelayan restoran tak lama pelayan tersebut datang menghampiri mereka berdua dengan membawa buku menu serta buku note untuk mencatat pesanan yang ingin memesan.


"Mau pesan apa, Mas dan Mbanya?" tanya pelayan restoran itu.


"Tunggu apalagi? Katanya kamu belum sarapan," ucap Ezra saat tidak melihat respon dari Ditha.


"Enggak usah, gua sarapan di rumah aja," tolak Ditha.


"Tadi ‚Mamah ngomong apa aja sama kamu? Enggak kamu dengarkan?"


Ditha menatap Ezra jengah kemudian, beralih menatap buku menu dan mengambilnya lalu ia mulai memesan begitupula dengan Ezra dan pelayan restoran itu mencatat saat sudah selesai ia pergi ke seorang resepsionis untuk menyampaikan ke bagian dapur. Sambil menunggu pesanannya datang keduanya hanya saling sibuk memainkan ponselnya masing-masing.


"Ditha?"


Ditha mendongakkan kepalanya diikuti juga dengan Ezra.


"Kak Gino, lagi ngapain di sini?" tanya Ditha.


Gino melirik Ditha dan berganti melirik Ezra kemudian, ia mencium punggung tangan Ezra.


"Gua lagi jalan-jalan sama ponakan gua. Kalian berdua ngapain di sini?" Gino menatap Ditha curiga.


"Em … itu … gu—"


"Lagi mau makan, kamu enggak bisa lihat?" tanya Ezra dengan sedikit nada sewot.


Sewot banget sih jawabnya, heran gua, batin Ditha.


Gino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, Pak. Saya enggak lihat. Kalau gitu gua duluan ya Tha, Pak." Gino menganggukkan kepalanya dan tersenyum diikuti Ditha tersenyum juga. Setelah kepergian Gino datang pelayan restoran membawa pesanan Ezra dan Ditha lalu keduanya langsung menyantapnya hingga habis. Setelah itu keduanya berganti untuk menelusuri dalam mall kembali.


"Definisi orang jalan-jalan emang kayak begini ya? Jalannya jauh-jauhan kayak orang lagi berantem," gerutu Ditha yang masih bisa terdengar oleh Ezra.

__ADS_1


__ADS_2