DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Ditha Sakit?


__ADS_3

Keberangkatan pesawat yang membawa Rinda nyatanya di percepat, entah dengan alasan apa yang jelas keberangkatan Rinda awalnya adalah malam kini menjadi siang hari. Hal itu justru membuat Ezra tidak bisa mengantar Rinda sampai bandara padahal hari ini adalah hari terakhir pertemuan mereka berdua di Indonesia. Karena, ada masalah di kantor papahnya membuat Ezra harus langsung ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa masalah di kantor papahnya itu. Tetapi, sebelum itu mereka berdua sudah saling menghubungi via telepon kemudian, Rinda dapat memakluminya dan tidak terlalu di permasalahkan.


"Oh iya, Rur. Apa belum ada yang melamar kerja di perusahaan ini?"


"Belum ada, Pak. Mungkin masih belum ada yang sesuai kriteria."


Ezra menganggukkan kepalanya. "Oh, kalau begitu saya pulang dulu."


"Hati-hati, Pak di jalan."


Ezra hanya menanggapinya dengan senyuman kemudian, ia sudah meninggalkan kantor perusahaan milik papahnya itu.


Di sela-sela kemacetan yang melanda di kota Bogor Ezra sempat melihat sekilas wanita di dalam mobil seperti mirip Ditha tidak hanya sendiri di dalam mobil sedan berwarna kuning itu ada seorang cowok yang kemungkinan usianya sepantaran dengan wanita tersebut. Namun, Ezra segera menepis fikiran yang terlintas di otaknya itu.


"Mirip sih tapi, enggak mungkin deh," gumamnya, sambil melirik ke arah mobil sedan berwarna kuning tersebut.


Mobil Ezra berhenti di depan rumah mendiang nek Yeyen. Ia turun dari mobilnya di bantu sang sopir. Tak lama ada sebuah mobil taksi yang ikut berhenti di belakang mobilnya. Keluarlah Lula dari mobil taksi tersebut. Lula menghampiri Ezra dengan membawa beberapa paper bag dan dua kantong plastik ukuran besar.


"Mah, kenapa enggak bilang mau ke sini?" tanya Ezra.


"Massa mau main ke rumah menantu harus bilang-bilang dulu," jawab Lula, seraya membuka gerbang rumah nek Yeyen. "Ayok, masuk!" ajaknya. Ketiganya memasuki rumah tersebut.


"Bukan begitu, Mah. Kalau nanti enggak ada orang kan, Mamah sendiri yang capek harus bolak-balik," timpal Ezra, saat keduanya sudah berada di ruang tamu.


"Ya, enggak apa-apa. Itung-itung olahraga lah," sahut Lula, dari dapur.


Ezra menghampiri mamahnya di dapur.


"Mamah, langsung pulang? Atau mau menginap di sini?"


"Nanti, Mamah pulangnya malam aja. Oh iya, kamu tidur di kamar mana, Zra?" tanya Lula, sambil dirinya sibuk menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Di kamar dekat dapur," sahut Ezra.


"Berani?"

__ADS_1


"Ya, beran—"


Tidak lama terdengar suara wanita memasuki rumah.


"Mba!" sapa sang sopir.


Ditha menoleh dan tersenyum. "Iya, nungguin siapa, Kang?"


"Bu Lula, Mba. Barangkali mau langsung pulang makanya saya menunggu beliau," sahut sang sopir.


Ditha setelah mendengar perkataan sopir itu langsung memilih masuk ke kamarnya namun, baru tangannya memegang handle pintu kamarnya sudah terdengar suara dari Lula.


"Eh, sayang! Kamu dari mana?" tanya Lula, melangkah mendekati Ditha setelah dari dapur diikuti Ezra di belakangnya.


Ditha menatap kedua orang di hadapannya itu. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.


"Dari teman, Mah," jawab Ditha.


Ezra mengernyitkan dahinya.


"Udah, makan belum?"


Ditha menggelengkan kepalanya.


Lula menarik tangan Ditha menuju dapur. "Ayok kita makan bareng," ajaknya pada Ditha dan Ezra.


Mereka bertiga segera menuju meja makan. Dan menyantap makanannya masing-masing. Masih dalam suasana hening hingga di mana suara muncul dari mulut Ditha membuat Lula dan Ezra terperangah.


HOEEEK! HOEEEK!


Ditha menutup mulutnya menggunakan tangannya. Kemudian, ia berlari menuju wastafel tempat cuci piring dan memuntahkan air liurnya di sana. Lula dan Ezra segera menghampiri Ditha mereka berdua nampak cemas.


HOEEEK! HOEEEK!


"Sayang, kamu kenapa? Sakit?" tanya Lula, seraya mengusap tengkuk leher Ditha.

__ADS_1


Ditha menggelengkan kepalanya. Ia kembali memuntahkan isi perutnya padahal tadi ia baru makan hanya sedikit tetapi, sekarang malah ia tumpahkan kembali makanan yang masuk ke dalam perutnya itu.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja!" sahut Ezra.


"Enggak! Enggak usah! Saya cuman mau istirahat, permisi!" pamit Ditha meninggalkan mereka berdua di dapur.


"Mamah, kayaknya pulangnya besok aja deh. Lihat kondisi, Ditha kayak tadi, Mamah jadi khawatir, Zra!" ujar Lula, seraya duduk kembali di kursi meja makan.


"Mamah, pulang aja. Ditha, biar aku yang urus. Justru ini kesempatan aku supaya, Ditha mau menerima semua ini, Mah." Ezra menenggak segelas air minumnya.


Hening, hanya terdengar suara dentingan alat makan Lula saja. Sedangkan, Ezra ia memainkan ponselnya. Usai selesai makan Lula pamit pada Ezra memang ada benarnya apa yang Ezra katakan lebih baik ia pulang, dari pada ada di sana.


"Kalau ada apa-apa hubungi, Mamah!" ujar Lula, saat dirinya sudah sampai gerbang rumah mendiang nek Yeyen.


"Iya, Mah. Hati-hati di jalan, Kang hati-hati ya!"


"Iya, siap. Mas Ezra!" sahut sang sopir.


Mereka bertiga berpisah, mobil yang membawa Lula sudah meninggalkan rumah mendiang nek Yeyen. Ezra memasuki rumah dan mengunci pintunya lalu ia membereskan sisa-sisa makan mereka bertiga tadi. Setelah selesai semua ia menuju ruang tamu menonton televisi dan hanya bersantai sejenak memikirkan kondisi Ditha yang ia lihat tadi.


"Gua kenapa ya? Kok tiba-tiba mual kayak tadi sih?" gerutu Ditha, di dalam kamarnya. Tak lama ia sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan, Ezra ia masih berada di ruang tamu takut nanti ada hal yang tidak ia inginkan terjadi.


Sudah hampir mau menjelang malam namun, Ditha belum juga keluar dari kamarnya. Semenjak tadi Ezra terus menatap pintu kamar Ditha berharap si yang punya kamar keluar namun, nyatanya belum juga. Ditha juga belum membersihkan diri apalagi habis berpergian pasti lengket sekali tubuhnya. Ezra baru saja mau memejamkan kedua matanya harus urung karena, ia mendengar suar mual dari dalam kamar Ditha.


"Kayaknya, Ditha memang sakit beneran," gumamnya.


HOEEEK! HOEEEK!


Ezra mendekati pintu kamar dan mengetuknya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Ia mencoba membuka pintunya untung saja tidak di kunci segera ia masuk ke dalam dan menghampiri Ditha di ranjang tidurnya.


"Perasaan tadi gua dengar suara orang muntah deh tapi, kok sekarang, Ditha masih tidur?" Heran Ezra. Setelah itu tangannya terulur memegangi kening milik Ditha. Dan betapa terkejutnya kening yang ia pegang panas sekali.


"Ditha … bangun! Hey, Ditha bangun!"


Ezra menyenggol lengan Ditha berusaha untuk membangunkan gadis itu. Namun, belum berhasil juga. Ia pun pergi ke dapur lalu mengambil wadah dan mengisinya dengan air dan es batu yang ia ambil dari dalam kulkas. Kemudian, ia balik ke kamar sebelum ia kompres kan ke ke dahi Ditha ia mengambil handuk kecil yang berada di tempat meja rias milik Ditha setelah itu Ezra baru melakukan mengompres di dahi Ditha.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Ezra tertidur di dalam kamar Ditha dalam kondisi tangan yang masih memegang wadah air yang berisikan es batu.


__ADS_2