
Jam 2 dini hari Ditha terjaga dari tidurnya, cacing-cacing di dalam perut mengganggu di sepanjang tidurnya. Sebab kemarin dia tidak sempat makan malam karena, tidak mood makan. Ditha keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengisi perut kosongnya itu. Namun, apalah daya di meja sana hanya ada nasi saja dan bisa dipastikan nasi tersebut sudah basi. Tudung saji itu dia banting dengan kasar. Tangannya pun beralih pada sebuah kulkas dia buka pintunya namun, di dalam sana sama saja tidak ada stok makanan semua habis. Ditha lupa kalau belum belanja untuk kebutuhan makan dia sehari-hari.
"Jam 2 warung mana coba yang udah buka? Nyusahin aja lu!" gerutu Ditha, sambil memukul-mukul perutnya.
Ditha terduduk lemas di sofa ruang tamu tangannya meraih remote tv yang ada di sana. Mencari-cari tayangan tv yang bagus menurutnya tetapi, yang di cari tidak ada malah menampilkan pertandingan bola asal luar negeri.
Ditha mendengus kesal. "Bete-bete! Gua bete banget! Kesal banget gua!" teriak Ditha.
Dia tidak sadar bahwa suaranya barusan mampu membuat Ezra terjaga. Ezra keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tamu dia melihat Ditha tengah terpejam lalu seperti menahan sakit pada perutnya. Dia hampiri lalu tangannya ikut menyentuh perut millik Ditha. Ditha terperanjat akibat ada tangan yang ikut menyentuh perutnya.
Ezra tersenyum saat Ditha menatapnya.
"Kenapa teriak-teriak? Perut kamu sakit?" tanya Ezra yang masih setia tangannya menempel di perut Ditha.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Ezra, Ditha menyingkirkan tangan Ezra dari perut miliknya. Lalu membuang tatapan matanya ke lain arah.
"Enggak," jawab Ditha cuek.
"Yakin?"
Ditha mengangguk cepat, dia tidak ingin ketahuan bohong jika dirinya kini sedang menahan laparnya.
"Tapi kok muka kamu pucat begitu?"
Ditha langsung meraba seluruh wajahnya berharap ucapan Ezra tadi hanya candaan.
__ADS_1
"Masa sih?" tanya Ditha sedikit panik. Ezra terkekeh saat melihat Ditha seperti itu. Menurutnya lucu juga kalau sedang dikerjai apalagi sampai panik seperti itu.
Ezra meraih tangan Ditha untuk dia genggam. "Ditha … saya ada satu permintaan. Kamu bisa turuti permintaan itu?"
Ditha menatap Ezra. "Apa? Asal jangan yang aneh-aneh, gua enggak mau."
"Mulai sekarang dan seterusnya, saya minta sama kamu. Tolong kamu ubah nama panggilan diri kamu ke saya yang tadinya gua dan manggil saya lu kamu ubah jadi lebih sopan. Terserah, mau saya, kamu atau aku yang penting sopan. Saya enggak mau di saat kamu ngomong seperti itu pada saya nanti, tiba-tiba ada mamah atau papah yang mendengarnya." Ditha melepaskan tangannya dari genggaman Ezra. "Terus, satu lagi. Bisa enggak kamu ubah panggilan om jadi—"
"Begini deh, kalau yang pertama gua bisa aja turuti. Tapi, buat yang terakhir. Gua masih belum bisa kalau nanti gua keceplosan pas lagi di sekolah atau lagi sama teman-teman gua, gimana?"
Ezra mengangguk-anggukkan kepala. "Oke, enggak apa-apa. Kalau yang terakhir kamu belum bisa turuti tapi, bisakah kamu mulai belajar memanggil saya dengan panggilan, Mas?"
Ini orang maksa banget sih. Agak geli ya manggil dia, mas Ezra. Lebih enak juga, om. Enggak ngerti bahasa gua apa gimana sih? Tadi kan gua udah ngomong, batinnya. Ditha memutar kedua bola matanya, sungguh ia kesal sama permintaan Ezra kepadanya.
"Mas Ezra, udah makan? Kayak gitu?"
Ezra mengangguk dan mengacak-acak rambut Ditha. "Iya, seperti itu. Untuk seterusnya kamu pasti bisa dan mulai terbiasa dengan memanggil saya dengan sebutan, Mas." Ezra pergi meninggalkan Ditha yang masih seperti patung tidak bergerak sedikit pun. Setelah kepergian Ezra barulah Ditha mengedipkan kedua matanya.
"Eling, Ditha, eling." gumamnya. "Agak geli, ya, kalau gua yang manggil. Tapi, sumpah! Tadi itu senyum dia manis banget! Gua baru lihat kali ini dia senyum semanis dan sesempurna kayak tadi. Kalo ada, Adel sama Claudia auto minta di senyumin terus sama dia."
Ditha memegang pipinya gemas. Dia tidak tahu saja bahwa kelakuannya itu sempat Ezra lihat. Ezra belum benar-benar pergi, dia mengintip dan mendengar dari belakang lemari yang menjadi pembatas antara dapur dengan ruang tamu.
Ezra berharap permintaannya kali ini bisa Ditha turuti. Mungkin permintaan Ezra kali ini cukup sederhana dan tidak sulit bukan? Baginya tidak sulit tetapi, beda lagi dengan Ditha yang harus berfikir seribu kali.
...ΩΩΩ...
__ADS_1
Claudia hari ini tidak masuk sekolah dan tentu itu membuat hati Ditha menjadi dongkol. Karena, tidak ada teman untuk dia ajak berantem maupun saling ejek satu sama lain. Mau tidak mau Ditha harus bergabung dengan anak cowok di saat jam istirahatnya berlangsung.
"Lesu banget itu muka," sindir Reval.
"Enggak di kasih jatah kali," sahut Zidan.
"Atau … suaminya selingkuh?" timpal Zaky.
"Bisa diam enggak sih? Gua lagi malas ribut sama lu bertiga!" sungut Ditha.
"Kalau udah kumpul sama kita-kita, jangankan sejam sedetik pun enggak enak rasanya kalau enggak bersuara," ujar Zidan.
Ditha tidak menyahuti ucapan Zidan, dia malah sibuk memainkan game pada ponselnya itu. Tak lama dia harus menyudahi kegiatan bermain pada ponselnya karena, dia di suruh datang ke ruangan Gurunya itu.
"Wakili gua dong, Wan!" pinta Ditha pada Ridwan— Ketua Kelasnya.
"CK, mana boleh. Udah sana, pak David perlunya sama lu," ucap Ridwan.
Ditha terpaksa harus meninggalkan kantin, jalannya pun malas-malasan. Kalau tahu hari ini Claudia tidak masuk sekolah mungkin Ditha juga tidak akan masuk ke sekolah. Dan dia juga harus terpaksa bergabung dengan geng cowok-cowok yang cuman bisa bikin mood Ditha hancur, contohnya seperti tadi.
Ditha mengetuk pintu ruangan pak David. Sahutan dari bilik pintu pun menuntun Ditha untuk masuk ke dalam setelah mendapat jawaban dari sang punya ruangan. Pak David menyuruh Ditha duduk berhadapan langsung dengannya, dengan di batasi meja kerja.
Dari tatapan, pak David firasat gua udah ngerasa gimana-gimana. Semoga aja dia enggak nanya yang aneh-aneh, batin Ditha, sambil membenarkan posisi duduknya.
"Langsung intinya aja, ya." Ditha mengangguk ragu-ragu. "Ada hubungan apa kamu sama, Ezra?"
__ADS_1
Deg!
Tuh kan! Benar. Maksud, pak David apa sih nanya kayak begitu. Kalau gua jawab nanti misalkan dia nanya sama, om Ezra gimana? Terus, jawaban kita sama nanti dikiranya gimana-gimana lagi. Ahk! Serba salah deh, batin Ditha.