
Kedua matanya mengerjap dan langsung di suguhkan dengan cahaya matahari yang menembus vitrase jendela kamarnya. Rasanya seperti beda karena, kedua matanya yang masih bengkak akibat dirinya kemarin menangis.
Ditha meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian, dia menggeser vitrase sesaat di luar jendela kamarnya menampakkan Ezra yang tengah berjemur di perkarangan rumahnya. Rasanya hari ini dia tidak ingin melihat keberadaan Ezra.
Ditha segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu dia berangkat sekolah tanpa sarapan sedikit pun. Kebetulan Ezra sudah tidak ada di luar rumah entah, pergi ke mana pun yang jelas Ditha tidak peduli.
"Bagus deh, kalau dia enggak ada di luar. Gua juga malas banget harus ngeliat muka dia," gerutunya, seraya menutup gerbang rumahnya.
...ΩΩΩ...
Upacara di SMA GAMTAR 2 sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Ditha memang sengaja tidak ingin ikut upacara karena, dia masih tidak mood untuk mengikuti apa-apa.
Di kantin ini lah dirinya berada, di hadapannya sudah ada sarapan pagi beserta teh hangatnya.
"Neng Ditha, kenapa enggak ikut upacara?" tanya Ibu-Ibu kantin.
"Lagi sakit, Bu," jawab Ditha berbohong.
"Sakit hati, ya, Neng? Itu sampai bengkak begitu matanya."
"Emang masih keliatan, ya, Bu?
"Masih, Neng. Tapi, udah mulai hilang sedikit demi sedikit."
Ditha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau habis di putusin tinggal cari yang baru lagi, Neng Ditha. Neng, kan cantik. Pasti ratusan cowok udah ngantri buat dapetin cintanya, Neng Ditha."
Ditha tersenyum. "Saya bukan habis di putusin kok, Bu. Cuman ada masalah kecil aja."
Ya, masalah kecil. Yang enggak ada artinya bagi dia, batin Ditha.
"Kirain habis di putusin pacar, Neng."
"Enggaklah, Bu."
Mereka masih ada hutang penjelasan sama gua. Pokoknya nanti bagaimana caranya, gua harus bisa dapetin penjelasan itu dengan sendiri, batinnya.
Saat dirinya sibuk membatin tiba-tiba, ada yang memegang bahunya. Ditha pun menoleh ke arah si pelaku.
"Kok lu ada di sini? Kenapa, enggak ikut upacara?" tanya Zaky.
Ditha menghelas napasnya. "Suka-suka gua lah, lagian ini kan kantin. Siapa pun aja boleh dateng."
Zaky duduk di sebelahnya seraya menenggak air botolnya. "Itu mata kenapa? Habis di putusin lu?"
__ADS_1
Entah, itu sebuah pertanyaan atau sebuah ejekan yang jelas Ditha merasa kalau Zaky ini hanya ingin tahu bukan peduli.
"Enggak."
"Terus?"
"Mau tahu aja lu! Mending lu pergi deh, gua lagi malas di ganggu dan lagi enggak mau debat," usir Ditha.
Zaky tersenyum meledek lalu dia bangkit dari duduknya kemudian, pergi meninggalkan Ditha di kantin.
...ΩΩΩ...
Di kediaman rumah mending nek Yeyen. Ezra yang tadinya ingin sarapan namun, dia tunda dahulu. Saat melihat berbagi macam sarapan di atas meja tidak berkurang sedikit pun. Lantas Ezra berpikir bahwa Ditha tidak sarapan pagi ini.
"Semua ini gara-gara gua tapi, mamah juga terlibat ini semua. Dan gua harus ekstra sabar menghadapi bocah SMA kayak Ditha. Yang pikirannya masih labil banget."
Drettt! Drettt! Drettt!
Ezra menjawab panggilan telepon dari mamahnya itu.
"Aku di rumah. Kenapa, Mah?"
" … "
"Ya, udah. Hati-hati."
...ΩΩΩ...
Claudia merasa heran sejak tadi pagi Ditha sudah tidak mengikuti upacara dan sekarang temannya itu terlihat seperti orang yang sedang banyak masalah. Hanya sebuah kesunyian yang ia dapatkan dari diri Ditha di hari ini. Ingin rasanya memaksa Ditha agar mau bercerita dengannya namun, Claudia tidak tega. Biarkan dahulu jika, Ditha butuh teman cerita maka Claudia akan selalu siap siaga.
Zaky menyenggol lengan Claudia. "Teman lu kenapa itu? Diam aja," sahut Zaky.
Claudia menggeleng. "Enggak tahu."
Keduanya sama-sama berada di ambang pintu kelas sedangkan, Ditha ia berada di dalam kelas yang lagi memainkan ponselnya menggunakan headset.
Zaky menyentil telinga Claudia dan yang di sentil pun menunjukan ekspresi kesal.
"Lu gimana sih teman dekatnya aja enggak tahu."
"Lu ngapain sih sentil telinga gua? Sakit tahu! Kuku lu kan, panjang-panjang kayak Vampir!" sungut Claudia. "Lagian meskipun gua teman dekatnya, bukan berarti semua kehidupannya gua ikut campur. Enggak kayak lu, selalu ikut campur di kehidupan orang lain," lanjutnya.
"Jangan sok tahu. Gua ini mencoba jadi teman yang baik. Kalau gua suka penasaran itu berarti gua peduli sama teman. Emangnya lu, sensi terus bawaannya. Positif thinking dong!"
Claudia memutar kedua bola matanya malas. Entah kenapa kalau dirinya mendengar Zaky yang sok bijak itu rasanya ingin langsung mengguyur Zaky dengan air garam.
__ADS_1
"Peduli lu palingan sehari dua hari aja. Selanjutnya gila lu kambuh!" sindir Claudia.
"Ap—"
"Ky … lu di cariin sama, pak David!" potong Reval.
"Ngapain?"
"Bersihin WC, mungkin?"
Zaky mentonyor kepala Reval. "Terus, tugasnya petugas kebersihan apaan? Aneh lu." Zaky pergi dari kedua hadapan temannya itu.
"Ngapain lu di sini? Kayak penguntit aja," sindir Reval.
Claudia langsung menabok lengan Reval.
"Mulut lu enggak bisa kontrol banget. Gua tuh lagi liatin, Ditha. Dia hari ini banyak diamnnya, enggak kayak kemarin-kemarin."
"Mungkin lagi PMS."
"Ngomong sama lu mending ngomong sama mayat sekalian!" Claudia langsung pergi meninggalkan Reval.
"Woi! Gila lu!" teriak Reval.
...ΩΩΩ...
Di tempat kediaman rumah keluarga Ezra Wiley dan Lula habis pulang dari sebuah yayasan. Mereka berdua berharap supaya anaknya itu bisa berdiri dan berjalan supaya bisa kembali menjalankan aktivitas seperti sedia kala.
"Pah, kamu beneran enggak mau ikut?" tanya Lula.
"Bukan enggak mau, belum sempat aja waktunya. Papah, habis ini mau cek perusahaan."
"Oke deh, lain kali aja. Kamu makan siang di sini?"
"Di luar aja, belum lapar juga. Ya, udah aku pergi dulu." Wiley mengecup kening istrinya itu dan hal itu yang sangat di rindukan oleh Lula. Karena kepergian suaminya ke luar negeri membuat dirinya harus jauh dari sang suami. Lula membalas kecupan suaminya itu di pipinya.
"Hati-hati, Pah."
"Iya."
Setelah kepergian Wiley, Lula memasuki kamarnya untuk bersiap-siap menuju rumah mendiang nek Yeyen. Tidak lupa juga dia akan membawa beberapa makan untuk anaknya dan menantunya makan nanti. Setelah siap Lula menelepon dahulu seseorang yang ingin dia ajak juga ke rumah mendiang nek Yeyen.
...ΩΩΩ...
Seharian tanpa suara bagaikan malam tanpa bulan akan gelap di lihatnya. Seperti Ditha aneh rasanya jika gadis itu berdiam tanpa banyak suara. Tidak marah-marah dan tidak terlihat aktif. Bukan hanya teman-temannya saja yang heran Guru-guru di sana pun sama karena, dia sangat menonjol di mata Guru-guru di sana sehingga jika mereka melihat anak didiknya seperti diam dan tidak banyak suara akan aneh rasanya.
__ADS_1
"Claudia!" panggil Pak David.