
Ezra mendekati sebuah lemari piring kayu yang terpasang di atas ia ingin mengambil mangkuk untuk nanti ia makan dengan sayur sup daging sapi. Ditha memperhatikannya namun, ia seolah belum faham apa yang Ezra akan lakukan. Sedangkan, Ezra berusaha untuk meraih knop lemari piring itu tidak berhasil. Karena, ia juga masih kesulitan untuk berdiri dari kursi roda miliknya. Tidak ingin menambah pekerjaan rumah Ditha mendekati dan membantu Ezra untuk mengambilkan apa yang dia inginkan walaupun dalam hatinya masih ada rasa dongkol namun, ia tetap peduli akan suaminya itu.
"Mau ambil apa?" tanya Ditha
"Mangkuk," jawab Ezra.
Ditha segera membuka lemari piring itu dan mengambil mangkuk yang Ezra inginkan setelah itu ia berikan pada Ezra dan Ezra menerimanya diikuti senyumnya.
"Terima kasih. Maaf, kalau saya merepotkan kamu," ucap Ezra
Ditha kembali ke kursi yang ia duduki tadi. "Sama-sama. Yang seharusnya merepotkan itu saya. Udah menyusahkan merepotkan pula."
Ezra menghampiri meja makan dan mengambil beberapa lauk pauk di sana. "Apa pernah ada yang bilang, kalau kamu menyusahkan dan merepotkan?"
Ditha menggelengkan kepalanya sebagain tanda jawabannya.
"Itulah. Saya sangat tidak suka sama wanita yang sok-sokan merendahkan dirinya hanya untuk meroket."
Ditha menatap Ezra. "Siapa yang merendah untuk meroket? Gua cuman sadar diri jadi orang. Udah hidup susah tapi, malah tambah menyusahkan orang lain. Mungkin kalau gua enggak nikah sama, Om tua kayak Anda itu. Gua enggak akan merasa di repot kan oleh siapa-siapa."
"Sudah menjadi takdir kita menikah," sahut Ezra polos.
Ditha menatap sewot Ezra. "Takdir matamu! Umur gua masih muda banget di bilang takdir? Kalau enggak gara-gara lu kecelakaan gua juga masih berstatus lajang, kali!"
"Enggak ada gunanya kita berdebat kembali soal pernikahan sedangkan, pernikahan kita pun sudah terjadi. Yang terpenting bagaimana kita berdua bisa memberikan kebahagiaan pada kedua orang tua saya dan kedua mertua kamu," ucap tegas Ezra.
Pakai ngomongin kebahagiaan segala, selagi gua masih merasakan sakit hati dan penderitaan yang amat begitu mendalam. Jangan harap! Gua bakalan membahagiakan keluarga lu termasuk lu, Om, batin Ditha.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Ditha kembali ke dalam kamarnya.
"Kalau di sini cuman bikin gua tambah pusing dan emosi, mending gua tinggal di kuburan sekalian!" gerutunya.
Ezra sudah menyelesaikan makan siangnya, ia membereskan bekas makan milik Ditha serta wadah untuk menempatkan lauk pauk yang sudah habis ia taruh di wastafel tempat cuci piring. Saat dirinya ingin menuju ruang tamu tiba-tiba.
Tok … Tok …
__ADS_1
Ditha membuka pintu kamarnya dan ia menuju pintu rumah utama. Saat ia bukan siapa sangka yang datang adalah Claudia dengan membawa beberapa buah-buahan dan satu kantong plastik kecil yang berisikan es krim.
"Hai, sahabat gua! 3 hari enggak ada lu di sekolah berasa 20 tahun gua menjomblo tanpa pasangan. Sepi bangettt …," ucapnya sekaligus curhat.
Ditha menatap Claudia jengah. "Enggak usah lebay. Emang sekarang umur lu berapa sih, Clau? Tua banget 20 tahun jomblo. Enggak boleh gitu nanti jadi kenyataan loh."
Claudia tertawa. "Jangan lah gua juga masih mau nikmatin pacaran dan nikah kali. Bay the way, gua enggak di suruh masuk nih?" Langkah kaki Claudia baru saja ingin masuk ke dalam rumah Ditha namun, Ditha segera mencegahnya.
"Ma–mau, ngapain?"
"Ya Tuhan, Ditha. Masa kita ngobrolnya di luar? Tega lu ya sama gua? Ish, parah ban—"
"Bukan begitu."
"Terus?"
Gimana ya jelasinnya? Sedangkan, di dalam kan ada, om Ezra. Orang mah kalau jenguk atau main kabarin dulu dong, kan biar gua siap-siap usir itu manusia, batin Ditha.
Ditha menoleh ke belakang punggungnya lalu ia mengedarkan pandangannya memastikan jika Ezra tidak ada di ruang tamu dan tidak ada di dapur.
Ezra tidak jadi ke ruang tamu saat dirinya tahu jika ada teman Ditha yang datang, sehingga ia memilih untuk memasuki kamar almarhumah Nek Yeyen. Walaupun tidak enak karena tidak izin pada Ditha namun, apa jadinya jika ia ketahuan oleh Claudia jika dirinya berada di rumah Ditha.
Di dalam kamar itu, Ezra memandangi satu persatu foto yang terpajang di dinding maupun yang di taruh di atas meja rias. Di dalam foto berbingkai itu ada seorang anak kecil perempuan yang tengah tersenyum riang sambil menatap matanya ke arah kamera. Tak hanya itu, anak kecil itu di gendong oleh kedua orang tuanya. Ezra sangat tahu di dalam foto itu siapa saja orang-orangnya.
"Mamahnya, memang sangat cantik. Pantas saja kecantikannya itu menurun pada, Ditha." Ezra tersenyum. "Tapipi, kalau galaknya kira-kira nurun dari siapa ya? Enggak mungkin dari, mamahnya. Kalau di lihat sih, mamahnya sangat anggun dan nampaknya beliau bersikap sangat baik dalam hal mendidik anaknya."
Pandangan matanya menyusuri setiap sisi kamar itu terlihat kamar yang sudah lama tidak terurus. Dari temboknya saja sudah banyak yang mengelupas catnya. Dan kasurnya juga seperi sudah bertahun-tahun tidak di ganti. Entah tidak punya uang atau belum ada waktu untuk mendekorasi supaya lebih bagus di lihatnya serta nyaman untuk di tempati.
Ditha dan Claudia keluar dari kamar.
"Tadinya gua mau nginap. Tapi, di rumah, mamah gua ada kakak ipar gua yang lagi hamil. Jadi, gua di suruh temani," ucap Claudia tidak rela jika ia harus pulang ke rumah dengan cepat.
Lebih baik begitu, Clau. Bukannya gua jahat tapi, emang keadaannya yang sulit buat gua jelasin, batin Ditha.
"Ya, udah sih enggak masalah. Lagian besok gua masuk sekolah, kita bisa melepas rindu di sekolah kali," sahut Ditha dengan percaya dirinya seolah-olah ia paling di rindukan di kelasnya.
__ADS_1
Claudia sudah berada di luar rumah dan hendak menuju gerbang rumah Ditha.
"Percaya diri banget lu, Tha. Emang sih anak-anak pada kangen lu tapi, dia kangen—"
"Kangen galaknya gua, iya gua juga tau. Selama gua masuk enggak ada yang gua jadiin bahan kemarahan gua, iya kan?"
Claudia tertawa. "Nah, itu tau. Wkwk, gua pulang ya! Jangan lupa besok masuk," pamit Claudia.
"Oke, hati-hati. Awas nabrak, om-om ganteng," sahut Ditha diikuti gelak tawanya. Begitupun Claudia.
Ditha menutup pintu rumah saat Claudia sudah menghilang dari rumahnya. Saat ia ingin membalikkan tubuhnya tiba-tiba saja ia terpentok kursi roda yang menyerong ke arah meja yang berada di ruang tamu.
"Semenjak lu ada di sini, kayaknya gua bakalan terus-terusan kena penyakit struk dan darah tinggi deh," ucap Ditha kesal.
Ezra yang mendengar temannya Ditha mau pulang segera ia keluar dari kamar mendiang Nek Yeyen dan kebetulan ia mau mengambil jam tangannya yang ada di atas meja ruang tamu saat itu juga Ditha membalikkan tubuhnya sehingga lututnya terpentok sisi kursi roda milik Ezra.
"Makanya jalan lihat-lihat. Siapapun itu yang kamu tabrak kalau kamu enggak hati-hati, ya tetap saja kamu yang salah," sahut Ezra.
Ditha yang kesal tidak menanggapi ucapan Ezra ia memilih untuk memasuki kamarnya. Namun, baru ingin melangkah tangannya sudah di pegang Ezra.
"Apa lagi sih! Belum selesai ceramahnya?"
"Saya mau ngomong serius," ucap Ezra.
DEG!
Jangan-jangan dia mau nyatain cinta ke gua? Ah … ngawur aja lu, Tha. Ya, kali dia cinta sama gua sedangkan, dia aja udah punya pacar yang seksi itu, batin Ditha.
"Apa? Buru!"
Setelah sekian lama menunggu jawaban Ezra karena, dibuat penasaran Ezra pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal serius pada Ditha saat itu.
"Besok saja ngomongnya, waktunya belum tepat."
Ditha langsung beralih pada kamarnya. Ia menutup kasar pintu kamarnya sungguh ia sangat-sangat di buat darah tinggi oleh sikap ngeselin Ezra. Ezra yang melihat sekaligus mendengar perbuatan Ditha hanya menahan tawanya dalam-dalam, ia memang hobi membuat Ditha kesal padanya.
__ADS_1
TBC