
Lama tidak terdengar suara Ditha pun membalikkan tubuhnya dan ia melihat di sana masih ada Ezra, dengan posisi tangannya menyilang di depan dadanya.
Ditha akhirnya bangkit dari tidurnya kemudian, ia berjalan melewati Ezra dan sambil berkata.
"Oke, gua sarapan sekarang!" ucap Ditha. Ditha segera menuju meja makan. Ezra hanya menyunggingkan senyumnya dan ia juga ikut dengan Ditha ke meja makan.
Saat sudah sampai di meja makan, mereka berdua segera menyantap sarapan paginya. Di sela-sela sarapanya tiba-tiba ponsel Ezra berbunyi ia pun melirik ke ponselnya lalu ia ambil dan ia jawab.
"Morning … sayanggg …," sapa Rinda yang tak lain adalah pacar Ezra.
Rinda menghubungi Ezra lewat video call. Ditha yang mendengar sangat jelas ia pun sengaja memperlambat sarapan paginya, agar ia bisa mendengar pembicaraan Ezra dengan wanita di ponselnya itu.
Ezra tersenyum. "Pagi juga, udah sarapan kamu?" tanya Ezra.
"Udah kok tadi, ini juga lagi mau siap-siap kuliah," jawab Rinda tersenyum. "Kamu lagi sarapan ya? Sama siapa? Tante Lula?"
Ditha tersedak saat Rinda bertanya seperti itu pada Ezra. Ezra hanya melirik sekilas ke Ditha.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Kok seperti ada suara wanita sedang batuk? Siapa Zra?" tanya Rinda penasaran.
"Ah itu teman kuliahnya Jessy sayang," jawab Ezra bohong. "Aku lagi sarapan sama Jessy dan temannya, Mamah lagi pergi ke rumah Kakek," lanjutnya.
"Memangnya, Kakek kamu kenapa?"
"Sakit keras."
"Oh, gitu. Salam ya buat Kakek kamu, semoga cepat sembuh."
"Makasih sayang, nanti aku sampaikan. Kamu cantik banget si padahal cuman mau pergi kuliah."
"Ya harus cantik dong sayang, masa jadi pacar kamu aku enggak dandan. Malu dong aku."
"Kalau ada yang lirik-lirik kamu gimana? Ingat yah kamu masih jadi pacar aku."
Rinda tertawa. "Kamu posesif sekali sih Zra. Iya-iya aku tau, kalau ada yang lirik-lirik aku ya wajar dong mereka kan punya mata."
"Bukan itu maksud aku. Ya, aku enggak mau aja pacar aku di lirik-lirik orang lain."
"Lebay!" sahut Ditha. Jujur saja ia sudah sangat jijik dari tadi mendengar obrolan Ezra dengan pacarnya itu.
Ezra menatap Ditha sedangkan, yang di tatap seperti tidak punya salah apa-apa.
"Dia ngatain kamu lebay Zra?" tanya Rinda.
"Bukan, dia lagi ngobrol sama Jessy sayang."
"Yaudah deh. Udah dulu ya, aku mau ke kampus," ucap Rinda.
"Hati-hati, ya sayang."
Rinda tersenyum dan ia melambai-lambaikan tangannya pada Ezra kemudian, sambungan video call pun terputus.
"Maksud kamu a—"
"Maaf, permisi Mas Ezra."
Ezra menoleh. "Kenapa Bi?"
"Kata Ibu, malam ini enggak pulang ke rumah," jawab pembantunya.
"Nginep sama Jessy juga?"
"Iya, sama Mba Jessy juga enggak pulang."
__ADS_1
"Yaudah."
Pembantu tersebut pamit dari hadapan Ezra.
Ditha sudah menyelesaikan sarapannya ia membawa piring kotor ke dapur saat Ditha ingin mencucinya tiba-tiba ada yang mencegah dirinya.
"Mba, biar Bibi aja yang cuci piringnya," sahut pembantu Ezra.
Ditha menoleh ke belakang."Enggakpapa, saya udah biasa kok nyuci piring di rumah."
"Nanti saya di marahi sama Mas Ezra."
"Tenang aja Bi, nanti saya marahin dia balik," jawab Ditha seusai mencuci piringnya. "Saya ke depan dulu ya," lanjutnya.
"Iya, Mba."
Saat Ditha menuju ke ruang keluarga, Ditha melihat Ezra ada di sana. Namun, Ditha tidak berbicara apa-apa ia malah seperti tidak melihat keberadaan Ezra di sana. Ditha duduk di sofa yang berbeda dengan sofa yang di duduki oleh Ezra.
"Kalau kamu mau pulang sekarang, pulang aja," kata Ezra yang masih fokus pada laptopnya.
Tidak ada jawaban dari Ditha, Ezra memilih meninggalkan Ditha sendirian di ruang keluarga. Ditha melihatnya dan ia memasang wajah kesalnya.
"Kok gua di tinggalin sih! Terus gua pulang naik apa? Jalan kaki gitu? Uang gua kan udah habis," ucap Ditha.
Tak lama ada sang sopir melewati ruang keluarga Ditha yang melihatnya langsung memanggilnya.
"Pak …," panggil Ditha.
Sopir itu pun menoleh.
"Iya, kenapa Mba?"
"Boleh minta tolong enggak Pak?"
"Anterin saya pulang ke rumah."
"Maaf Mba, bukan saya enggak mau. Mobilnya masih di bengkel."
"Emangnya mobilnya cuman satu?"
"Ada tiga. Tapi, yang sering di pakai cuman dua Mba."
Banyak juga ya mobilnya. Tapi, buat apa banyak enggak ada yang bisa ngater gua pulang percuma, batin Ditha.
"Di garasi enggak ada motor ya Pak?"
"Ada Mba. Mba, mau pakai motornya?"
"Boleh."
"Tapi, izin dulu ke Mas Ezra. Jangan ke saya, saya kan cuman sopirnya."
Males banget, batin Ditha.
"Yaudah deh, saya izin dulu ke dia ya Pak." Sopir itupun menganggukkan kepalanya dan Ditha meninggalkan sang sopir itu di ruang tamu.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar Ezra, Ditha melihat pintu kamar Ezra tertutup.
"Kalau bukan karena gua butuh, gua males banget," gerutunya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" tanya Ezra bilik kamar.
"Gua."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Buka dulu ih pintunya," pinta Ditha.
Ezra pun menurutinya ia membuka pintu kamar dan Ezra berdiri diambang pintu.
"Kenapa?"
"Di garasi katanya ada motor ya? Gua pinjam boleh?"
"Mau buat apa?"
"Lu kan enggak mau nganterin gua pulang kan? Jadi, gua pulang naik motor punya lu aja."
"Memangnya saya sopir kamu."
Ditha memutar kedua bola matanya. "Bukanlah. Jadi, boleh apa enggak?"
"Naik taksi aja," saran Ezra.
"Uang gua habis. Lagian kalau pun masih ada juga enggak mau gua."
"Kenapa gitu?"
"Mahal, mendingan naik angkutan umum."
"Bukannya sama? Dari sini ke rumahmu kan sama aja."
"Enggak tau lah. Udah cepat boleh apa enggak? Jangan banyak ngomong kenapa sih," ucap Ditha sewot.
"Memangnya kamu sudah mandi?"
"Udah lah, enggak bisa ngebedain banget sih lu."
"Sepertinya sama aja."
"Ish! Udah sih cepat, mana kuncinya?" pinta Ditha.
"Yang simpan kuncinya Mamah. Kamu tanya saja sama Mamah."
"Hah? Gua? Kuncinya ada di Mamah lu? Kenapa enggak bilang dari tadi sih, nyebelin banget!"
"Kamu aja enggak minta kuncinya, gimana saya mau ngomong."
"Susah ya, kalau ngomong sama yang udah punya penyakit akut nyebelin kaya lo ini." Setelah mengatakan itu Ditha pergi dari hadapan Ezra.
"Enggak jadi minta kuncinya?" tanya Ezra yang sama sekali tidak di gubris oleh Ditha.
"Gua rasa pacarnya bertahan karena keterpaksaan deh, yakin gua. Habis cowok kaya begitu dipertahanin. Ny—"
"Cowok begitu maksudnya? Cowok seperti apa? Siapa yang kamu maksud?" potong Ezra yang tiba-tiba sudah ada di dekat Ditha.
Ditha tidak menoleh dan tidak menjawabnya. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Lu ngomong tuh sama Gucci! batin Ditha.
"Ditha … kalau di tanya jawab." Ezra melempar bantal yang ada di sofa itu ke Ditha.
Ditha mendongakkan kepalanya. "Enggak usah rese, mau gua jambak lagi?!"
"Kamu ngancam saya?"
Ditha tidak menjawabnya. Ia kembali fokus pada ponselnya. Ezra yang merasa di cuekin Ditha, ia langsung merampas ponsel milik Ditha. Tentu saja itu membuat Ditha sangat kesal.
"Mau lu apa sih! Sini balikin ponsel gua!"
__ADS_1