
Ditha menyuruh sopir Ezra ikut masuk ke dalam rumah saat tangannya meraih gagang pintu kamar tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan dirinya.
"Astaghfirullah … sejak kapan di rumah ini ada suara kucing?"
Ditha menuju dapur dan ternyata benar suara erangan tadi berasal dari kucing yang saat ini tengah memakan duri ikan yang diberikan oleh Ezra. Setelah duri ikan itu sudah habis Ditha segera membawa kucing itu keluar rumahnya, tentu saja Ezra yang melihatnya keheranan.
"Kalian kok bisa bareng?" tanya Ezra pada sopirnya.
"Tadi, mba Ditha lagi berjalan di jalan yang sangat sepi. Untung bertemu dengan saya kalau dengan penjahat entah gimana nasibnya nanti, mba Ditha," jawab sang sopir.
"Oke, baiklah. Kamu bisa pulang sekarang."
Sang sopir tersenyum lalu dia langsung pamit pada Ezra dan Ditha.
"Om—"
"Mas! Panggil saya, Mas!" potong Ezra tidak terima.
Ditha menyusul Ezra ke kamar sebelahnya sebelum itu dia sudah menutup pintu rumahnya terlebih dahulu.
"O—"
"Kamu kenapa bisa berjalan di jalan sepi begitu? Memangnya tidak ada taksi? Kalau kamu kenapa-kenapa saya yang akan kena marah kedua orang tua saya."
"Saya nungguin angkutan umum enggak ada yang lewat. Saya juga enggak sadar kalau lewat jalan yang sepi itu."
"Kenapa enggak hubungi saya? Mau alasan lagi kalau kamu tidak punya nomor telepon saya?"
"Kok kenapa jadi, Om yang kesal? Seharusnya saya dong. Seumur hidup rumah ini tidak ada kucing, tetapi semenjak, Om tinggal di sini seenaknya saja memasukkan kucing ke dalam rumah! Besok-besok masukin aja janda sekalian!"
Setelah berkata seperti itu Ditha masuk ke dalam kamarnya dengan kasar dia tutup pintu kamarnya bahkan Ezra mendengarnya sangat jelas.
"Capek banget gua sumpah! Ternyata dampak dari nikah muda itu kayak begini, ya. Heran aja gua kenapa orang-orang suka banget nikah muda yang ujung-ujungnya belum tentu pernikahannya bakalan langgeng seumur hidup." Ditha membanting tubuhnya di atas ranjang.
Tok! Tok! Tok!
"Ditha buka pintunya sebentar saya mau ngomong."
Ditha yang hendak memejamkan matanya urung setelah mendengar suara dari luar pintu kamarnya.
"Basi! Ngomong sana sama kaki lu!" sungutnya. Tidak ada sedetik setelah itu listrik di rumahnya padam di saat itu juga Ditha kelabakan karena, dirinya belum membersihkan diri sehabis pulang tadi dari mall.
"Yah … mati lampu. Tubuh gua lengket banget lagi ada air enggak, ya?"
Segera Ditha pergi ke kamar mandi namun, saat baru sampai di depan pintu luar kamarnya dia menabrak tubuh Ezra sontak saja Ditha malah memeluk tubuh Ezra. Ezra yang tidak melihat jika Ditha ada di sana keduanya sama-sama terjatuh ke lantai dengan posisi Ezra mengungkung Ditha. Sudah gelap dan dalam posisi mengungkung bagi suami istri yang sudah halal pastinya sang suami mengambil kesempatan yang sangat bagus ini, tetapi tidak untuk Ezra.
"Ditha … bisa lepas pelukannya? Saya tidak bisa bernafas dengan lega."
Ditha yang baru sadar atas apa yang dia lakukan, segera saja tangannya melepaskan pelukan dari tubuh Ezra keduanya mengubah posisi menjadi terduduk.
"Sorry, enggak sengaja. Saya kira enggak ada orang di sini."
"Tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa, kan?"
"Enggak, biasa aja."
__ADS_1
Setelah berkata demikian Ditha segera menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya untung saja di dalam bak mandi sana masih ada air yang cukup untuk baginya membersihkan diri.
"Astaga! Gua lupa bawa baju ganti!" pekiknya setelah menyadari jika dirinya tidak membawa apa-apa ke dalam kamar mandi selain handuk. "Haduh gimana, ya? Masa gua keluar dalam keadaan begini sih nanti kalau dia ngeliat gua begini hasratnya muncul gimana? Mana baju tadi udah gua rendam air lagi."
Tidak ada pilihan lain mau tidak mau Ditha meminta tolong pada Ezra untuk mengambilkannya pakaian ganti.
"Om! Om, boleh minta tolong enggak? Sebentar aja!" panggil Ditha. Tak lama Ezra datang.
"Tolong apa?"
"Tolong ambilkan pakaian saya di lemari kamar, ya?"
"Oke."
Hanya membutuhkan waktu 48 detik Ezra sudah kembali dengan membawa pakaian ganti Ditha. Saat Ditha ingin memakainya dia baru sadar jika masih ada du barang yang belum Ezra berikan.
"Itunya ke mana? Kok cuman baju sama celana doang?" gumamnya. "Om? Itunya kok enggak diambil sekalian?"
"Maksudnya?"
"Itu lho … masih ada dua barang lagi yang belum."
"Apa?"
Ditha berdecak kesal sangat tidak peka sekali jadi pria.
"****** ***** sama … sama b—"
"Oke-oke saya ambilkan, tunggu sebentar."
"38. Kalau saya tidak disuruh mengambil pakaian ini mungkin saya tidak tahu ukuran bh istri saya sendiri itu berapa." Ezra menciumi kedua pakaian itu. "Wangi seperti orangnya," gumam Ezra.
...ΩΩΩ...
Setelah urusan membersihkan tubuh selesai, kini Ditha tengah menonton tv yang menampilkan acara bernyanyi.
"Kamu sudah makan?" tanya Ezra dari dapur dengan tangan membawa sebuah piring yang berisikan nasi serta lauk pauknya.
Ditha tidak menoleh dia masih fokus pada acara tv maka dari itu dia hanya merespon dengan sebuah gelengan kepalanya saja.
"Itu saya sudah ambilkan nasi dan lauknya kamu makan sekarang," perintah Ezra yang langsung diiyakan oleh Ditha.
Ditha mengambil piring yang ada dihadapannya dan mulai memasukkan beberapa suapan ke dalam mulutnya.
"Om … udah makan?"
"Belum."
Ditha menghentikan aktivitas makannya saat mendengar jawaban Ezra.
"Kenapa belum? Di belakang masih ada nasi sama lauk enggak?"
"Enggak ada, sudah habis. Tadinya saya ingin beli, tapi malas untuk keluar."
"Kenapa enggak bilang dari tadi. Tahu begini mending saya yang enggak usah m—"
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Ditha. Kamu lanjutkan saja makannya."
Ditha pindah ke sofa yang sama dengan Ezra tubuhnya mendekati suaminya agak condong supaya tidak susah jika menyuap makanannya ke dalam mulutnya.
"Ya, udah. Satu piring berdua aja gimana?"
"Kalau kamu enggak keberatan, saya enggak masalah."
"Oke. Saya ambil sendok dulu."
Saat ingin berdiri lengan Ditha ditahan oleh Ezra bermaksud untuk menyuruh Ditha duduk kembali.
"Enggak usah. Pakai bekas punya kamu aja, saya suka kok."
Deg!
Seketika Ditha hampir mau pingsan mendengar pernyataan dari suaminya itu. Kelamaan melamun yang entah sedang melamun kan apa Ezra menuntun tangan Ditha untuk segera menyuapi dirinya.
"Cepat suapi saya!"
"Hah? Enggak apa-apa emang? Ini jorok lho bekas saya terus, saya juga dua hari ini enggak gosok gigi." Bukan Ezra namanya yang tidak tahu akan tipuan yang Ditha ucapkan barusan.
Dengan tangan yang bergetar seperti sedang tersengat listrik, sendok itu mulai memasuki ke dalam mulut Ezra. Saat sampai di dalam tangan Ditha sudah kembali normal.
"Enak."
"Hah? Enak?"
Ezra mengangguk. "Iya, enak. Apalagi kalau misalnya suapan tadi itu pakai cinta, rasanya pasti enak sekali."
Ditha tersedak air liurnya. Apa dia bilang? Suapan dengan cinta pasti lebih enak sekali rasanya? OMG! Ditha rasanya ingin jungkir balik entah gara-gara apa yang jelas jika Ditha benar-benar menyuapi Ezra dengan rasa cinta mungkin dia akan guling-guling dihadapan Ezra beneran. Ezra mengambil alih sendok yang dipegang Ditha mulai dia sendok kan dengan nasi serta lauknya juga.
"Sekarang gantian saya yang menyuapi kamu! Buka mulut kamu, aaaa!" Sendok itu sudah berada tepat di hadapan mulut Ditha namun, si yang empunya belum juga membukanya.
"Saya bisa makan sendiri." Ditha berusaha merebut sendok itu dari tangan Ezra namun, Ezra segera menghindarinya.
"A!"
Ditha terpaksa menerima suapan yang diberikan oleh Ezra kepadanya. Setelah Ditha menerima suapannya kini bergantian Ezra yang mendapatkan suapan yang diberikan oleh Ditha. Begitu pun seterusnya gelas minum pun hanya ada satu di atas meja ruang tamu itu. Ezra tidak membiarkan Ditha untuk mengambil minuman dan makan kembali sebab dia sedang merencanakan sesuatu yang entah itu apa yang jelas Ezra berharap rencananya itu akan berjalan lancar.
Suapan terakhir itu jatuh pada Ditha namun, saat Ezra ingin memasukkan sendok tersebut ke dalam mulut Ditha dia salah fokus pada pemandangan sesuatu yang menempel di tengah bibirnya. Di taruh piring serta sendok itu di atas meja kemudian, Ezra mendekati Ditha.
"Om, mau ngapain? Jangan macam-macam, ya!"
"Kamu diam dulu sebentar, jangan bergerak saya mau sesuatu."
"Hah? Sesuatu apa?"
Bibir Ezra semakin dekat dengan telinga Ditha dibisikkan lah sesuatu kepadanya.
"Kamu jangan bergerak dan nikmati saja, oke?"
Ditha hanya menjawab dengan anggukan. Kini wajah Ezra tepat berada dihadapan wajah Ezra spontan saja kedua mata Ditha terpejam entah apa yang sedang Ditha lakukan sampai-sampai memejamkan matanya. Ezra mulai melancarkan aksinya dengan perlahan dia dekatkan bibirnya pada bibir ranum Ditha dan ditempelkan kedua bibir itu. Niat hati Ezra ingin mengambil nasi yang berada di tengah bawah bibir Ditha menggunakan tangan namun, ide liciknya merasuki otaknya dan kini Ezra sudah mengambil nasi itu menggunakan bibirnya tadi karena, gejolak di tubuhnya meronta-ronta tangannya beralih menarik tengkuk leher Ditha lalu dia lumatkan. Dapat dilihat jika Ditha menikmati tanpa menolak sedikit pun permainan yang dipermainkan suaminya itu. Sebelum bertukar lidah Ezra menjauhkan bibirnya dari bibir Ditha kemudian, dia berbisik sesuatu.
"Ditha … apa saya boleh meminta hak saya malam ini?" bisik Ezra tepat di telinga Ditha.
__ADS_1
TBC