
Semenjak kemarin malam, Ezra maupun Ditha masih enggan mau berbicara satu sama lain. Benar-benar kejadian itu di luar pikiran mereka, sebelumnya tidak mereka berdua rencanakan dan semua itu terjadi begitu saja. Ditha bahkan tidak sempat untuk sarapan karena, selalu mengingat kejadian kala malam itu.
"Clau … kalau ada yang cium lu. Lu bakalan lakuin apa?
"Gua bakalan tendang bibirnya. Enak aja main cium-cium gua, kenal juga enggak." Claudia menelisik wajah Ditha. "Lu pernah di cium sama siapa emangnya? Terus … ciumnya bagian mana? Dahi, pipi atau … bib—
Ditha sontak langsung menatap Claudia. "Enggak ada. Gua enggak pernah di cium sama siapa-siapa kok."
"Masa?"
Ditha mengangguk cepat.
"Kelas, yuk!" ajak Ditha berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Keduanya bangkit dari duduknya dan meninggalkan kantin. Saat berada di lorong sekolah Ditha mendapatkan telepon dan dia menyuruh Claudia agar masuk ke kelas terlebih dahulu.
"Hallo, kenapa, Bri?"
" … "
"Bisa. Mau jam berapa?"
" … "
"Oke."
Ditha masuk ke dalam kelas dan langsung di serbu beberapa pertanyaan dari temannya.
"Telepon dari siapa?" tanya Claudia sambil berbisik.
"Dari teman," balas Ditha berbisik.
"Masa? Bukan … dari, pak Ezra?"
"Bukanlah. Mau ngapain juga dia telepon gua?"
"Ya, kali aja. Soalnya tadi pagi—"
Tling!
__ADS_1
Kedua mata Ditha beralih pada chat WhatsAppnya saat dia membuka kolom chatnya ada pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal sama sekali.
08xxxxxxxxxx: Nanti, kalau kamu sudah pulang rumahnya jangan lupa di kunci.
Kedua alisnya menyatu.
"Kenapa, Tha?" tanya Claudia penasaran.
"Ini ada orang chat, kayak begini," jawab Ditha seraya memperlihatkan isi chatnya pada Claudia. Claudia membacanya.
"Pak RT, kali," ujar Claudia.
Ditha mencubit pipi Claudia gemas. "Ngaco! Pak RT, bukan ini kali nomornya." Ditha baru saja mengetik tetapi, Claudia kembali bersuara.
"Balas aja begini, lo siapa? Jangan-jangan penguntit gue? Ngaku!"
Ditha mengangguk dan langsung membalas sesuai saran yang di berikan oleh Claudia.
Tling!
08xxxxxxxxxx: Saya suami kamu.
"Apa kata dia, Tha?"
Ditha menatap Claudia. "Ha? Belum di balas," jawab Ditha berbohong.
Tanpa Claudia sadari, sudut bibir milik Ditha melengkung sempurna. Ponselnya kembali berbunyi.
08xxxxxxxxxx: Mungkin nanti, saya pulang agak tengah malam. Jadi, jangan menunggu saya pulang.
"Ish! Percaya diri banget."
"Siapa yang percaya diri banget, Tha? Lihat dong lu lagi chattingan sama siapa sih?" Claudia berusaha untuk mendekat Ditha namun, Ditha segera menjauhkan ponselnya dari Claudia. Wajah Claudia memberengut.
"Pelit!" Selepas mengatakan seperti itu Claudia meninggalkan Ditha di dalam kelas.
"Dih. Baperan banget lu, Clau. Wkwk!" teriak Ditha.
...ΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara, di kediaman rumah Rinda kedua orang tuanya tengah berbincang-bincang hangat di taman belakang rumahnya. Taman itu dulu penuh dengan tempat permainan. Karena, mereka hanya mempunyai anak satu yaitu, Rinda makanya mereka akan memberikan apa saja yang di minta dari anaknya itu. Segala harta kekayaan adalah sepenuhnya milik Rinda, mereka rela tidak mendapatkan harta hanya untuk putri satu-satunya itu. Namun, jika suatu saat putrinya itu mengecewakan kedua orang tuanya maka jangan harap segala harta kekayaan maupun warisan jatuh ke tangannya.
"Dad, kemarin pas Rinda masih di sini. Aku sering lihat Rinda suka mual-mual," tutur Anzu— mommy Rinda.
Pria berambut hitam bercampur putih itu meletakkan gelas dari tangannya di meja yang ada di sana.
"Sehari bisa berapa kali?" tanya Zahn— daddy Rinda.
"Sometimes twice, sometimes three times, Dad. I suspect, perhaps, Rinda—"
"Don't talk like that, Mom. Rinda is not like that," potong Zahn.
"Tetapi, wajahnya seperti orang yang sedang hamil, Dad."
"Pucat sekali kah?"
"Enggak terlalu pucat."
"Mungkin dia cuman masuk angin, Mom."
"Tapi, masa iya tiap hari sih?" gerutunya yang masih bisa di dengar oleh Zahn.
"Sudahlah, mom jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita memikirkan acara makan malam nanti bersama keluarga Ezra."
Anzu tidak menjawabnya mungkin ada benarnya juga tetapi, di sisi lain hatinya masih menaruh curiga pada sang anak.
...ΩΩΩ...
"Clau—"
"Gua enggak mau!" potong Claudia cuek.
Wajah Ditha cemberut. "Ya, udah deh. Gua sendiri aja." Ditha meninggalkan Claudia terlebih dahulu. Keduanya berpisah di lapangan sekolah, Ditha segera mencari angkutan umum agar tidak terlalu sore sampai tempat yang dia mau kunjungi. Tidak membutuhkan waktu lama angkutan umum yang dia harapkan akhirnya datang juga.
...ΩΩΩ...
Jika sudah memasuki waktu sore akan sangat ramai orang baik itu di jalan maupun di toko pusat perbelanjaan. Contohnya saat ini lagi ada diskonan besar-besaran, yang membuat ratusan atau bahkan sampai ribuan masyarakat memadati pusat perbelanjaan di kota itu.
Ditha yang sudah sampai beberapa menit yang lalu kini dirinya sedang berlari-lari supaya mendapatkan barang incaran yang dia inginkan agar tidak dahulu di ambil orang. Kakinya yang lincah itu terus berlari-lari menerobos ribuan masyarakat yang berkerumun demi mendapatkan barang incarannya yang kini sedang ada diskon.
__ADS_1