
Gara-gara cincin ini, sampai-sampai teman gua fitnah gua udah nikah. Walaupun faktanya benar, setidaknya gua masih belum bisa terima pernikahan paksa macam ini, batin Ditha bergemuruh. Ia sampai tidak memperdulikan temannya itu sedang mengoceh atas perlakuan Ditha tadi pada Ezra.
"Ditha … lu dengerin gua ngomong enggak sih?" tanya Claudia di ambang pintu kelas saat mereka dari lapangan.
Ditha menoleh ke belakang. "Enggak!" Kemudian, Ditha memilih duduk di kursinya sembari mendengarkan lagu menggunakan headsetnya.
Claudia mengerucutkan bibirnya, kesal karena ocehan ia tadi tidak Ditha dengarkan. Claudia pun duduk di sebelah Ditha semenjak kepindahan Adel ke luar negeri Claudia kini duduk satu bangku bersama dengan Ditha.
"Apa lu!" Claudia menatap sewot saat Zaky mendekati meja miliknya dan hendak membuka suara namun, ia langsung potong.
"Gua cuman penasaran aja," ucap Zaky yang masih berdiri di sudut mejanya.
"Penasaran sama cincin yang, Ditha pakai ini?" tunjuk Claudia pada jari Ditha. Ditha yang sibuk dengan ponselnya matanya kini teralihkan pada kedua temannya itu.
"Bukan," jawab Zaky sembari menatap Ditha yang sedang menatapnya dengan tatapan sewot.
"Terus?"
Zidan duduk di kursi bagian barisan depan dan ia duduk menghadap Claudia.
"Adel, suka sama gua?" tanya Zaky pelan.
"Ya."
"Udah lama? Suka doang kan, bukan cinta?"
"Kayaknya sih udah lama, iya dia cuman suka. Jadi, lu jangan kepedean berharap, Adel cinta sama cowok nyolot kayak lu ini." Pedas sekali penjelasan Claudia diikuti sindiran itu.
"Wajar sih ya, Adel bisa suka sama gua. Secara gua kan ganteng sendiri di kelas ini," ucap Zaky dengan bangganya.
"Idih! Percaya diri banget lu," sambar Ditha. Walaupun ia menggunakan headset tetapi, obrolan kedua temannya masih bisa terdengar di telinganya.
"Harus lah," sahut Zaky. Zaky bangkit dari duduknya dan keluar kelas meninggalkan Ditha dan Claudia.
"Ada ya, cowok kayak dia," gerutu Claudia yang masih bisa di dengar Ditha.
"Adalah, dan itu teman lu doang kayak gitu," sahut Ditha.
__ADS_1
Claudia menoleh. "Kalau ini aja dengar, giliran tadi gua nyerocos kali lebar lu pura-pura enggak dengar," sindir Claudia. Ditha hanya menahan tawanya dalam-dalam karena berhasil membuat temannya itu kesal oleh sikapnya.
...ΩΩΩ...
Selepas meninggalkan SMA LAKSMANA BANGSA, Ezra menyusuri ruangan rumah orang tuanya itu. Terlihat sepi tidak ada keberadaan Mamahnya dan hanya terlihat asisten rumah tangga saja. Wika yang melihat anak majikannya itu tengah sendiri di ruang keluarga ia pun menghampiri Ezra.
"Mas Ezra, sudah pulang, Mas? Apa mau saya buatkan teh hangat?" tawar Wika pada Ezra.
Ezra melihat keberadaan Wika. "Tidak usah. Mamah, kemana kok enggak keliatan?"
Wika tersenyum menanggapinya. "Tadi, Ibu lagi ada acara arisan bareng teman-teman sosialitanya."
"Oh."
Wika pun pamit ke dapur untuk kembali bekerja, Ezra mengiyakan. Lalu Ezra pergi ke depan teras untuk mengobrol dengan Sopirnya.
"Mas Ezra, mau kemana, Mas?" tanya sang Sopir saat melihat anak majikannya itu keluar dari dalam rumah.
"Nanti jam tiga antarkan saya ke rumah almarhumah neneknya, Ditha ya."
Dengan senang hati sang Sopir itu pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Baik, Mas."
...ΩΩΩ...
Restoran terkenal di kota Bogor ini selalu mencuri perhatian pengunjung yang selalu berdatangan ke restoran tersebut. Sehingga banyak sekali anak muda dan mudi maupun lanjut usia memilih tempat restoran tersebut sebagai tempat bersenda gurau.
"Jeng Lula, dengar-dengar anak kamu habis mengalami kecelakaan ya?" tanya wanita yang penuh sekali perhiasan di kedua tangannya.
"Sekarang keadaannya gimana, Jeng?" sahut teman arisan lainnya.
"Alhamdulillah, keadaannya baik. Walaupun dia masih belum bisa berjalan tapi, dia selalu sabar menjalaninya," jawab Lula.
"Syukurlah Jeng. Semoga secepatnya anak kamu bisa kembali berjalan ya Jeng."
"Iya, kamu harus support anak kamu terus Jeng."
Lula menjadi terharu mendapatkan dukungan dari teman-teman sosialitanya itu. Namun, di balik itu semua ia juga harus merahasiakan sesuatu yang seharusnya Lula umumkan namun, nyatanya ia harus merahasiakannya sampai menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan pernikahan Ezra dengan Ditha.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Bel pulang yang di tunggu-tunggu ratusan umat pelajar sekolah sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Dengan keadaan keringat yang melekat pada tubuhnya membuat Ditha harus memendam kesal pada Kakak kelasnya itu karena, sudah berusaha memeluknya dan menyenggol-nyenggol dirinya.
"ISHHH! KAK AZAMMM! NGESELIN BANGET SIH! TUBUH LO KAN BANYAK KERINGETNYA, NGAPAIN PELUK-PELUK GUE! SIALAN LO!" teriak Ditha tepat di mana para siswa dan siswi berhamburan di lapangan untuk menuju ke parkiran maupun langsung berjalan pulang ke rumahnya.
Claudia hanya bisa tertawa saat melihat wajah temannya itu kesal karena habis di peluk oleh Kakak kelasnya.
"Sorry, Ditha. Gua sengaja. Habisnya lu menggoda iman gua banget!" sahut Azam meledek.
"Apa lu bilang? Gua menggoda iman lu? Sialan lu emang."
Ditha tidak ikhlas di buat kesal oleh perlakuan iseng Azam ia pun membalas dengan menjambak rambut milik Azam dan mereka berdua berlari-lari sampai keluar area sekolah SMA sampai-sampai Ditha meninggalkan Claudia begitu saja.
Sesaat sampai di halte dekat sekolah Azam sudah melarikan diri lebih jauh sehingga Ditha terpaksa tidak mengejarnya kembali karena, itu akan membuang-buang waktu dan membuang-buang oksigennya saja. Tidak membutuhkan waktu lama angkutan yang ia tumpangi sudah berada di halte bus dekat rumahnya. Ditha berjalan kaki menuju rumahnya saat sudah sampai rumahnya, ia di kejutkan oleh kedatangan pria yang ia temui tadi di saat upacara bendera. Matanya seakan berbicara bahwa ia harus mendengarkan penjelasan darinya.
"Hanya lima menit, Ditha. Saya mohon."
Untuk kali ini Ditha mau menuruti permintaan Ezra entah hatinya tiba-tiba saja terdorong oleh malaikat baik yang ingin mendekatkan hubungannya dengan Ezra. Ditha menyuruh Ezra masuk ke dalam rumah dan ia mengambilkan segelas minum untuk Ezra. Walaupun masih dalam keadaan kesal tetapi, ia di ajarkan untuk menghormati tamu yang datang ke rumah salah satunya menyuruhnya masuk lalu memberikan minuman atau makanan.
Ditha menatap Ezra saat dirinya sudah berada di sofa ruang tamu. "Cuman lima menit, enggak lebih." Setelah itu ia membuang tatapannya ke lain tempat.
Ezra tersenyum. "Sudah seminggu kepergian, nek Yeyen. Apa kamu sudah bisa menerima maaf saya?"
Ditha diam tidak menjawab, Ezra berusaha memahaminya.
"Baik. Kata, Mamah dia menyuruh kamu untuk tinggal bersama kami. Enggak baik anak gadis tinggal sendirian di dalam rumah yang tidak ada siapa-siapa. Kalau terjadi sesuatu dengan kamu, Mamah akan sedih dan kalau Mamah sedih dia susah untuk di ajak berbicara bahkan akan susah untuk di ajak makan."
"Saya masih butuh waktu buat menerima keadaan semua ini. Tolong jangan paksa saya. Dan kalian enggak usah mengawatirkan saya, saya masih bisa jaga diri."
Ezra mengambil gelas yang berisi air mineral setelah itu ia meminumnya. Kemudian, ia taruh kembali gelas itu di atas meja.
"Tidak apa, memang semua butuh waktu kami mengerti, Ditha. Saya harap kamu bisa menerima niat baik, Mamah yang mengajak kamu untuk tinggal bersama kami."
Ditha tersenyum tipis berusaha menghargai ucapan Ezra padanya. Ezra pamit pada Ditha dan Ditha mengantarkan Ezra sampai depan teras rumahnya. Kemudian, kendaraan beroda empat itu sudah meninggalkan pekarangan rumah Ditha.
Sulit menerima semua kenyataan pahit ini, kenapa Ya Tuhan kenapa, aku harus mengalami cobaan seberat ini kenapa Ya Tuhan? batin Ditha. Kemudian, ia menutup pintu rumah dan bergegas mengganti seragam dengan pakaian rumah.
__ADS_1
TBC