DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Jadi Brand Ambassador


__ADS_3

Di tempat yang sama Ezra juga tengah memilih barang apa yang ingin dirinya kasih saat dinner nanti bersama calon mertuanya. Dia sudah ada di pusat perbelanjaan sekitar 2 jam yang lalu dan sampai detik ini belum ada barang yang dia dapatkan. Entah tidak bisa memilih atau bingung atau mungkin setiap barang yang hendak dia ambil selalu sudah ke dahuluan orang lain yang membelinya? Entahlah mungkin Ezra tidak bakat dalam memilih sebuah barang sehingga dirinya ke dahuluan melulu dengan orang lain.


"Mas Ezra, bagaimana kita ke toko sebelah?" usul sang sopir.


"Boleh."


Sang sopir mendorong kursi roda milik Ezra untuk beralih ke toko di sebelahnya. Saat dia sedang melihat-lihat orang yang sedang berlalu-lalang seketika matanya jadi tidak fokus saat dirinya melihat anak gadis berseragam SMA.


"Dia lagi apa di sini? Apa dia lagi berbelanja sama pacarnya? Memang dia punya pacar?" gumamnya.


Saat sudah sampai di toko sebelah, Ezra kembali fokus memilih barang yang ingin dia bawa nanti malam.


...ΩΩΩ...


Senyumnya terukir jelas hingga di mana dirinya menjadi pusat perhatian para cowok yang sedang berbelanja di sana. Siapa yang tidak senang jika mendapatkan barang yang di inginkan tercapai juga? Pasti kita akan senang sekali. Seperti Ditha, sudah dapat barang yang dia inginkan dapat diskon juga. Sungguh hari yang luar biasa.


"Kalau tadi gua enggak gerak cepat mungkin udah di serobot tuh sama, ibu-ibu menor tadi," gerutunya.


Langkah kakinya berhenti pada sebuah pusat toko pakaian pria. Ditha memasukinya dan langsung melihat-lihat pakaian di sana dan tentu juga harganya.


"Kayaknya cocok deh ini," ucap Ditha, seraya mengangkat sweater itu ke atas.


Ditha beralih pada aksesoris pria dia membeli topi serta jam tangan. Walaupun harganya tidak begitu mahal setidaknya Ditha berusaha untuk memberikan barang hadiah itu pada temannya yang layak untuk di pakainya. Mahal atau tidaknya yang pasti temannya itu mau menerimanya dengan senang hati.


...ΩΩΩ...


Pukul 19.30 wib


Restoran Flower.

__ADS_1


Zahn dan Anzu sudah tiba di restoran tersebut terlebih dahulu. Barulah di susul dengan kedatangan keluarga Ezra. Mereka berlima saling sapa dan berjabat tangan.


"Bagaimana kabar Anda, Pak Wiley?" tanya Zahn usai berjabat tangan.


"Alhamdulillah kabar saya baik. Kalau Anda bagaimana? Sudah lama saya tidak bertemu dengan Anda nih."


"Kabar saya baik juga. Iya, ada dua tahun kayaknya, ya? Sepertinya Anda banyak berubah," tutur Zahn.


Wiley tertawa menanggapi ucapan Zahn.


"Berubah dari segi apa nih, Pak? Rambut yang kian hari kian memutih? Atau wajah saya yang kian hari kian bertambah awet muda?"


Kini gantian Zahn yang tertawa.


"Wah … kayaknya yang kedua tidak masuk akal. Saya lebih ke rambut Anda malah. Warna rambutnya apakah asli, Pak?"


Wiley dan Zahn sama-sama tertawa sedangkan, Ezra? Ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman di sudut bibirnya. Tidak lama pelayan restoran membawa beberapa makanan yang sudah mereka pesan tadi.


"Si, Jessy kenapa enggak ikut?" tanya Anzu usai menenggak minumnya.


"Jessy, sebentar lagi wisuda. Jadi, dia masih sibuk ngurusin skripsinya," sahut Lula.


Anzu menganggukkan kepalanya. "Ternyata, Adik kamu cepat sekali dewasanya. Ya, Zra?"


"Dewasa kalau dari segi usianya. Tapi, dari segi kelakuannya kayaknya enggak cocok di bilang begitu. Dia masih kayak anak kecil," balas Ezra, di sela-sela makannya.


"Maklumlah anak terakhir, biasanya sangat manja sekali. Jadi, kalau adik kamu manja dan kekanak-kanakan kamu harus sabar mengatasinya, Zra!" timpal Zahn.


Ezra menganggukkan kepala. "Saya izin ke toilet dulu," pamit Ezra pada keluarganya dan kedua orang tua Rinda. Mereka berempat mengiyakannya.

__ADS_1


...ΩΩΩ...


Selepas berbelanja tadi sore di pusat perbelanjaan, malamnya Ditha kembali harus pergi lagi untuk bertemu dengan temannya. Dan kini dia sudah berada di sebuah restoran yang di janjikan oleh temannya.


"Kalau gua nunggu di sini kayak orang ilang banget enggak sih? Tapi, kalau gua masuk ke dalam nanti si, Brian marah atau apa kan gua juga enggak tahu."


Keduanya kakinya menendang-nendang batu kecil yang ada di depan restoran tersebut. Sambil menunggu kabar dari Brian Ditha membuka kembali isi chat WhatsAppnya yang tadi siang suaminya kirimkan padanya. Lagi asyik-asyiknya membaca chat dari suaminya tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Ditha segera menjawabnya.


"Oh, lu udah dateng? Ya, udah gua masuk sekarang."


Ditha masuk ke dalam restoran setelah mendapat pemberitahuan dari Brian bahwa ia sudah berada di dalam restoran. Saat Ditha sedang mencari keberadaan Brian ia di kejutkan dengan seorang keluarga yang dia sangat tidak asing baginya. Namun, baru saja ia mau mengingatnya sudah ada suara yang memanggil dirinya. Segera Ditha menghampiri meja yang sudah ada Brian di sananya.


Brian tersenyum sekaligus tercengang karena Ditha membawa 3 paper bag yang entah isinya apa.


"Lu jadi brand ambassador apa, Tha?"


Kedua mata Ditha terbelalak saat mendengar pertanyaan konyol dari mulut Brian.


"Brand ambassador, air aki. Pertanyaan lu aneh lagian."


Brian tertawa. "Enggak sekalian air anuan."


"Air anuan? Maksudnya? Bay the way, gua minum duluan, ya?"


Ditha menenggak minumnya setelah mendapat izin dari Brian.


"Enggak, lupain aja. Kita langsung masuk ke acara pertama aja, ya."


Kok gua jadi deg-degan begini sih. Kayak baru pertama kali dinner aja wkwk, batin Ditha.

__ADS_1


__ADS_2