DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Ada Yang Copot


__ADS_3

Tangan Ezra mulai bergerak ke atas, ke samping dan ke bawah. Sangking terbawa suasana Ditha sampai tersenyum geli entah ketahuan Ezra atau tidak, yang jelas Ditha saat itu benar-benar terbuai dalam pijatan sang suami.


"Memangnya kamu ikut ekskul apa?" tanya Ezra, di sela-sela memijatnya.


"Ekskul paskibra."


Merasa ada yang aneh di tubuhnya, Ditha refleks memegang tangan Ezra.


"Kenapa?"


Ditha mengubah posisinya menjadi terduduk. "Ada yang copot."


Kedua alis Ezra menyatu. "Apanya yang copot?"


Tangan Ditha menyusuri ke area belakang tubuhnya dan terhenti pada di tengah-tengah pengait branya yang sudah tidak menyatu kembali. Ditha tidak sadar bahwa Ezra melirik gerakan tangannya.


"Mau saya pasangin? tawar Ezra.


"Hah? Eng—enggak usah. Saya bisa sendiri," sahut Ditha cuek.


Kalau dia yang pasangin, yang ada nanti tangannya nyasar ke mana-mana, batin Ditha, seraya matanya melirik ke arah Ezra.


"Kok enggak bisa sih!" gerutunya, yang masih terdengar Ezra.


Ezra yang melihat Ditha kesusahan dalam mengaitkan kawat branya langsung menyentuh tangan Ditha dan menyuruh untuk berbalik badan.


"Ih, mau ngapain si? Gua bisa kok sendiri!"


"Tarik baju kamu ke atas," pinta Ezra.


"Enggak!"


"Tarik ke atas!"


"Enggak!"


"Kalau saya yang tarik baju kamu langsung saya lempar ke atap rumah!" gertak Ezra.


Kedua mata Ditha terbelalak ia pun menoleh ke belakang. "Apa? Coba bilang sekali lagi?"

__ADS_1


Ezra mendekatkan bibirnya di telinga Ditha. "Kalau saya yang tarik baju kamu ke atas, malam ini kamu saya pastikan enggak akan pakai baju," bisik Ezra.


Tatapan tajamnya sudah ia pasang namun, saat Ditha ingin menatap Ezra justru kedua hidung mereka sama-sama bersentuhan. Deru nafasnya sangat terasa satu sama lain. Jantung yang bergerak normal kini seperti sedang lari maraton. Entah kenapa jantung mereka berdua seakan berdegup kencang dan rasanya tidak mau berhenti.


Refleks Ezra langsung mendorong ceruk leher Ditha supaya lebih dekat dengannya kemudian, ia membungkam bibir Ditha. Mencumbunya seakan baru pertama kali dalam seumur hidupnya ia lakukan. Terlampau kaget akhirnya Ditha memejamkan mata kuat-kuat dengan tangan meremas kaos Ezra. Tindakannya itu malah membuat Ezra mempercepat gerakan bibirnya, melahap bibir Ditha tanpa jeda. Tak dapat dipungkiri, gelenyar aneh menghampiri keduanya.


Deru nafas keduanya menyatu dalam ciuman sepihak karena, hanya bibir Ezra yang bergerak. Namun, saat Ezra memperlambat tempo lumatannya pada bibir Ditha, ia merasakan kalau istrinya itu mulai membalas ciumannya. Keduanya berpangutan lembut, terbuai, dan mulai hanyut.


Namun, tidak berangsur lama karena Ezra menjauhkan wajahnya dari Ditha sehingga ciuman keduanya pun terlepas. Ezra baru ingat sesuatu jika dirinya terus berlanjut bermain seperti tadi itu akan berpengaruh dengan usia Ditha yang masih di bawah umur lalu dengan kondisinya yang memperhatinkan apakah ia bisa melakukan hubungan badan di malam itu? Tentu saja tidak! Ezra keluar kamar Ditha tanpa mengeluarkan sedikit suara. Sedangkan, Ditha ia menghirup oksigen banyak-banyak sebab ciumannya tadi membuat dirinya kehabisan oksigen.


"Kok bisa sih gua nurut kayak tadi? Heran! Orang-orang mah kalau diajak ciuman begitu berontak sedangkan, gua malah ketag—" Dia menjambak rambutnya. "Astaga, lu kenapa sih, Ditha!" gerutunya. Berharap momen tadi tidak akan pernah terjadi kembali dikemudian hari, itulah do'a Ditha.


"Astaga, apa yang saya lakukan tadi. Kalau kondisi saya enggak kayak begini, mungkin malam ini akan jadi malam yang penuh kekhilafan bagi saya," gerutu Ezra merutuki.


Tangan kanannya menyentuh bibir yang di mana tepat sekali bekas ciuman antara keduanya tadi berlangsung.


"Ternyata dia kalau habis mandi wangi sekali dan bibirnya juga manis sekali. Sebetulnya kalau dia enggak punya sifat galak, pasti akan mudah jatuh cinta dengan saya," ucapnya percaya diri.


Akhirnya sepanjang malam senyum Ezra belum merekah dari sudut bibirnya. Rasanya ia ingin sekali mengulang momen yang seperti tadi ia lakukan bersama Ditha. Ezra rasanya ingin segera cepat-cepat berdiri dan berjalan supaya tidak menyusahkan orang-orang disekitarnya. Senyum yang merekah dari tadi pudar begitu saja saat dirinya teringat sesuatu.


"Kalau, Rinda sampai tahu kejadian tadi Apa saya langsung diputusin, ya? Atau malah terjadi kejadian perang ke sepuluh? Atau malah ada bunuh-bunuhan? Astaga, Ezra. Kenapa lo enggak kepikiran sih. ARGH!!!"


"Om! Kenapa, teriak-teriak?" tanya Ditha, seraya berjalan mendekati Ezra.


Ezra yang baru sadar jika ada Ditha di sana langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Ditha.


"Tidak apa-apa. Saya hanya pusing saja," jawab Ezra berbohong.


Ditha yang penasaran tangannya terulur memegang kening Ezra. "Enggak panas yang ada berkeringat," ucap Ditha, setelah melepaskan tangannya pada kening Ezra.


"Saya tadi bilang pusing bukan demam."


Keduanya berbicara tanpa ada kecanggungan diantara keduanya, padahal baru saja beberapa menit yang lalu mereka melakukan ciuman yang sudah hampir panas. Tetapi, keduanya tidak enggan untuk berbicara seperti biasanya yang mereka lakukan.


"Kamu … bisa pijat?"


"Hah? Pijat?"


Ezra mengangguk.

__ADS_1


"Kalau bisa tolong pijitin bahu saya dan kedua tangan saya, boleh?" pinta Ezra.


"Kalau enggak en—"


"Enggakpapa, kamu kan bukan ahli memijat. Jadi, saya maklumi," sahut Ezra, seraya menarik tangan Ditha dan ia letakkan di bahunya. Kemudian, Ditha mulai melakukan aktivitas pijat memijatnya.


Entah karena enak atau ketagihan Ezra sampai-sampai memejamkan kedua matanya.


"Geser ke sini, Ditha," ucap Ezra, diikuti tangan yang menunjuk pada bagian yang ia tuju. Ditha pun menurut. Tak lama rasa pegal di kedua kakinya menghantui dirinya. Ditha pindah posisi menjadi duduk di atas kasur sedangkan, Ezra hanya menuruti saja.


"Padahal di sini tuh gua yang merasa pegal-pegal and capek tapi, kenapa sekarang malah kayak begini ceritanya. Kalau enggak ikhlas bilang gitu, ya tadi. Kan gua bisa nolak dari awal. Terus, tadi pakai cium-cium gua segala lagi. Maksudnya dia apa coba?" gumam Ditha.


"Sudah-sudah. Pindah ke tangan saya sekarang."


Lagi dan lagi Ditha hanya menurut tetapi, di dalam hatinya yang terdalam ingin rasanya menyiram Ezra dengan air es batu. Ditha membungkukkan tubuhnya supaya mempermudah pijatannya.


"Om! Udah dong, capek nih saya!" keluh Ditha.


"Selesaikan dulu pijatan kamu, baru kamu boleh istirahat," sahut Ezra tanpa membuka kedua matanya.


Dasar, suami kejam! Enggak punya hati dan perasaan! Masa gua lagi pegal-pegal masih aja di suruh pijitin dia, enggak ada akhlak emang, batin Ditha.


Saat dirinya memijat bagian telapak tangan Ezra, Ditha menemukan titik hitam. Sesaat ia melihat di telapak tangan punyanya dan dari bentuk serta warnanya sama-sama hitam dan kecil. Karena rasa penasarannya akhirnya Ditha memberanikan diri untuk bertanya.


"Om, ini apa?" tunjuk Ditha pada bagian yang bertitik hitam.


Keduanya mata Ezra terbuka dan langsung melihat apa yang Ditha tanyakan.


"Tanda lahir."


"Kok sama sih? Di saya juga ada bedanya saya di kiri kalau, om di kanan."


Mata Ezra menelisik telapak tangan Ditha dan ternyata benar namun, ia malah mencuri kesempatan saat itu juga.


"Coba mana?"


"Apanya?"


Ezra menarik tangan Ditha supaya ia bisa melihat secara dekat namun, karena Ditha belum siap akhirnya ia jatuh dalam pangkuan Ezra. Mata keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


TBC


__ADS_2