DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Pria Sangat Bodoh


__ADS_3

Ezra sudah kembali dari toilet namun, dirinya tidak langsung kembali ke meja makannya. Ia memutuskan untuk keluar restoran dengan tatapan yang lurus ke depan tanpa dia sadari bahwa ada sosok yang sedang memperhatikan dirinya.


Ternyata benar, di sana ada keluarganya. Tapi, yang 2 orang lainnya itu siapa? Apa jangan-jangan itu orang tua dari pacarnya dia? Dan, mereka lagi bahas acara pernikahan anak-anaknya? Terus, nanti nasib gua gimana? Apa gua bakalan di ceraikan sama dia? Setelah dia memutuskan nikah sama pacarnya? batinnya.


Ditha mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Diam-diam dia menahan tangis. Entah, kenapa dirinya harus di tempatkan posisi seperti ini. Bahkan di dalam hidupnya tidak pernah sama sekali terpikirkan untuk merebut pasangan orang. Tetapi, apa ini semua?


Nyatanya, walaupun dia tidak merebut Ezra secara langsung tetapi, cara ini salah besar. Apalagi dirinya juga belum tahu pasti di balik semua rencana pernikahan dirinya dengan Ezra itu apa? Selain ingin menebus kesalahannya pada, mendiang neneknya sudah di pastikan pasti ada hal lain yang belum Ditha ketahui sama sekali.


Brian yang baru kembali dari toilet menghampiri Ditha dan dia melihat temannya seperti itu merasa aneh.


"Ditha! Lu, kenapa?" Brian menyentuh bahu Ditha. Ditha hanya menggeleng dalam posisi menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Hingga dimana terdengar suara isakkan tangis yang berasal dari Ditha.


"Ditha! Jangan kayak begini, cerita aja kalau lu punya masalah. Siapa tahu gua bisa bantu," saran Brian.


Brian berusaha menjauhkan tangan Ditha yang menutupi wajahnya namun, sia-sia karena Ditha malah memperkuat tangannya untuk lebih menutup wajah milik dirinya rapat-rapat. Hening keduanya cukup lama sampai dimana Ditha bangkit dari duduknya lalu ia mengambil paper bag kemudian, dia kasih pada Brian.


"Selamat ulang tahun ya, Bri! Ini kado dari gua, maaf kalau isinya murahan. Tetapi, lu harus ingat kalau gua tulus kasih ini ke lu," ucap Ditha seraya menyodorkan paper bag pada Brian.


Brian belum menerimanya karena, ia masih butuh penjelasan dari Ditha. Tetapi, tidak dengan Ditha dia malah memaksa Brian agar menerima kadonya. Setelah itu ia pamit meninggalkan Brian di dalam restoran sana. Sungguh hatinya masih sakit sekali jika mengingat kembali pernikahan terpaksanya ini. Ditha tidak ingin di tanya-tanya dan tidak ingin satu orang pun yang mengganggunya karena, suasana hatinya sedang sangat tidak baik.


Langkah kakinya yang cepat itu terus meninggalkan restoran namun, sesaat langkah kakinya menjadi pelan saat dia bertemu dengan seseorang yang sudah membuat hidupnya seperti ini. Ditha melewatinya begitu saja tanpa suara sedangkan, yang di lewati begitu saja terheran-heran apalagi ia melihat jejak bekas air matanya seperti habis menangis.


Kenapa, Ditha ada di sini? Sama siapa dia ke sini? Dan, tadi itu dia seperti habis menangis. Apa mungkin, habis putus dengan pacarnya? batinnya bertanya-tanya.


...ΩΩΩ...


Sementara di kediaman negara orang terlihat wanita cantik dan seksi tengah menggunakan handuk sebatas lututnya saja. Seperti yang ia ketahui di sana suhunya cukup panas mungkin karena itu ia mandi di siang hari. Baru saja wanita itu mau merebahkan tubuhnya di atas kasur tiba-tiba ada tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang. Sungguh ia tidak ingin bermain-main kembali rasa sakit yang ia alami saat ini belum hilang gara-gara permainan panasnya yang mereka berdua lakukan tadi.


"Sayang ...," panggil pria yang tengah memeluknya dengan lembut.


"Om, ************ aku masih sakit. Please! Beri aku waktu lagi," mohon wanita yang tengah di peluknya. Pria itu melepaskan pelukannya.


"Oke! Aku tunggu kamu nanti. Istirahatlah dulu," ujar pria tersebut kemudian, ia meninggalkan wanita itu.


Wanita itu menghela nafasnya lega. Karena, alasannya bisa menghindari dirinya dari terkaman sang singa.


"Mau sampai kapan aku merasakan ini semua? Hanya gara-gara perjanjian orang tuaku dengan dia," keluh wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita itu menarik selimutnya sampai ujung kepalanya setidaknya itu bisa menghindari mangsa yang ingin menerkam dirinya.


...ΩΩΩ...


Makan malam masih berlangsung bahkan kedua keluarga itu sedang menunggu kembalinya Ezra yang katanya ke toilet tetapi, sampai saat ini belum juga kembali.


"Pah, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan, Ezra," ucap Lula penuh kekhawatiran.


"Kita berdoa aja semoga enggak ada hal yang enggak kita inginkan terjadi," sahut Wiley seraya mengusap bahu istrinya itu.


"Mungkin, Ezra ada urusan sama temannya," timpal Zahn.


"Iya. Kamu jangan khawatir, Lula," sambung Anzu.


"Maaf, tadi saya ada urusan jadi lama," sahut Ezra.


Mereka berempat menoleh saat mendengar suara Ezra dan senyumnya mengembang di sudut bibirnya masing-masing.


"Tahu enggak, Zra? Tadi, mamah kamu mau bunuh diri gara-gara kamu lama ke toilet enggak balik-balik," ledek Wiley. Lula langsung mencubit lengan suaminya itu.


"Jangan dengarin omongan, papahmu, Zra!" timpal Lula.


...ΩΩΩ...


"Gua harap, dia enggak pulang ke sini lagi!" gerutu Ditha, sambil membereskan kasurnya. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.


Pukul 01.00 wib


Tok… Tok… Tok…


Sudah kesekian kalinya terdengar suara ketukan pintu namun, sang punya rumah belum juga membukakannya. Tubuh Ditha menggeliat ke sana dan ke sini hingga terakhir berujung jatuh ke lantai. Tangannya mengelus bokongnya yang sakit akibat jatuh.


Tok… Tok… Tok…


"Berisik banget sih. Siapa sih malam-malam ganggu gua aja!" sungutnya seraya berjalan ke ruang tamu.


Pintu yang sudah terbuka lebar itu menampakkan seseorang yang kemarin malam dia lewati begitu saja. Lama tidak ada suara Ditha memilih masuk ke dalam kamarnya namun, tangannya keburu di cekal oleh Ezra. Sebelum mengucap Ezra terlebih dahulu menutup pintu tak lupa juga ia kunci.

__ADS_1


"Lepas!" pinta Ditha masih bernada santai.


"Kenapa mata kamu sampai bengkak begitu?"


Rasanya Ditha ingin menangis karena, harus mendengar pertanyaan yang jelas-jelas tidak ingin dia jawab sama sekali.


"Lepasin tangan gua!" pinta Ditha kembali dan masih bernada santai.


"Jawab pertanyaan saya dulu. Kenapa, mata kamu sampai bengkak begitu?"


Habis sudah kesabaran Ditha. Ditha menghempaskan tangan yang di genggam oleh Ezra dengan kasar namun, masih saja belum terlepas.


"Lepas!" bentak Ditha.


"Saya ini suami kamu, Ditha. Bukan teman kamu yang seenaknya kamu bentak kapanpun itu sesuka hati kam—"


Ditha menatap mata Ezra dengan tatapan tajamnya serta kedua pipinya yang sudah basah dengan air matanya.


"Lepas!"


Ditha terus meronta-ronta agar tangannya itu terlepas. Ditha membuang tatapannya ke lain tempat saat dirinya terus saja di tatap oleh Ezra. Ezra menuntun Ditha untuk masuk ke dalam kamarnya dan dia menyuruh Ditha agar duduk di atas kasurnya.


Suara isakkan tangis terdengar sangat jelas di telinga Ezra. Ezra masih memperhatikan Ditha yang tengah menangis rasanya dirinya sangat berdosa sekali sudah menyakiti seorang wanita.


"Jangan pernah menjadi wanita bodoh hanya gara-gara memendam masalahnya sendiri. Selagi saya masih ada di sini kamu bisa bercerita dengan saya, anggap saja saya ini teman kamu."


"Keluar!" Hanya satu kata yang terlontar dari bibir Ditha.


"Saya akan tema—"


"Keluar sekarang!"


Ezra hanya bisa pasrah dan menurutinya. Dia keluar dari kamar Ditha tak lupa juga dia tutup pintu kamar itu.


Anggap aja gua pria yang sangat bodoh, yang hanya bisa bikin wanita menangis dan merasa sakit hati gara-gara sikap gua, batin Ezra.


Pria sangat bodoh hanya itu gambaran yang menunjukan jika dirinya adalah pria yang sangat bodoh yang hanya bisa membuat wanita menangis dan merasa sangat tersakiti oleh sikapnya yang selama ini dia perbuat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2