
Setelah satu hari berlalu proses operasi pada kepalanya Nek Yeyen berjalan lancar, Ditha merasa sangat lega karena ia sudah melihat Neneknya membuka kedua matanya dan tersenyum kepadanya. Namun, disisi lain Ditha harus memikirkan cara untuk membayar utang pada Mamahnya Ezra. Pasalnya tawaran Lula kemarin benar-benar membantu untuk proses operasi Neneknya Ditha.
Sekeras apapun Ditha berniat menolak ia juga pasti tidak akan rela jika melihat nyawa Neneknya tidak terselamatkan. Di tambah pula peryataan Dokter yang ia katakan pada Ditha bahwa, Nenek Yeyen mengalami lumpuh total di kedua kakinya akibat mengalami kecelakaan mobil dan ia terpental sejauh 5km sebab itu Nek Yeyen mengalami pendarahan banyak di area kepala dan mengalami kelumpuhan total pada kedua kakinya.
"Ditha … kamu kenapa dari tadi melamun aja? Mikirin apa kamu?" tanya Nek Yeyen.
Ditha tidak meresponnya namun, ia menoleh pada Neneknya itu dan tersenyum.
"Jangan mikirin, Nenek mulu. Nanti, kamu ikutan sakit lagi kayak, Nenek."
Ditha mencium tangan Nek Yeyen. "Lebih baik aku yang sakit, Nek. Dari pada aku harus lihat,.Nenek kaya begini," ucap Ditha dengan suara seraknya seperti sedang menahan tangisnya.
Nek Yeyen mengusap kepala Ditha. "Jangan, kamu masih muda belum nikah juga. Nenek, kan mau lihat cicit, Nenek nanti lahir."
Ditha menggelengkan kepalanya. "Apa sih, Nek. Bercandanya enggak lucu."
"Loh, Nenek beneran, Ditha. Memangnya kamu enggak mau punya anak?"
"Ya, mau lah. Setiap manusia juga mau punya anak. Tapi, kan belum waktunya ngomongin anak. Pacar aja enggak punya."
"Makanya jadi perempuan itu jangan galak-galak."
Ditha langsung teringat pada seseorang saat Neneknya mengatakan 'jadi perempuan itu jangan galak-galak'.
Sangking paniknya cari biaya buat operasi Nenek, gua sampai lupa nanya dia kecelakaan mobil di mana dan kok bisa? batin Ditha.
...ΩΩΩ...
Ruangan yang bernomor 11 ia juga ikut merasakan apa yang Ditha rasakan. Yaitu keluarga Ezra.
"Lu mabuk ya, Kak?" tuduh Jessy pada Ezra.
"Mabuk obat tikus gua Jes," sahut Ezra asal.
"Mabuk cinta mungkin," timpal Lula.
"Kalian kenapa si jadi bahas mabuk-mabukan begini," ucap Ezra kesal. Jujur saja semenjak ia siuman, kedua orang di hadapannya itu ada saja yang di bahas.
"Sabar dong, Kak. Jangan marah-marah nanti cepat tua, kalau lu tua mana mau, Mba Rinda sama lu."
Ezra mengambil buah jeruk yang ada di atas meja lalu ia lemparkan pada Jessy. Hampir saja mengenai dua gundukan milik Jessy namun, dengan cepat Jessy tangkap.
"Kalau beneran kena ini gua, habis lu, Kak detik ini juga!" ucap Jessy.
"Sudah-sudah jangan ribut terus. Zra, kamu bawa mobil gimana sih? Bisa nabrak orang gitu,"tanya Lula.
__ADS_1
"Kepalaku pusing Ma—"
"Kalau pusing kamu jangan maksain buat bawa mobil bahaya banget, Zra. Kamu tau kan? Massa sudah dewasa harus di kasih tau."
"Tau kaya anak kecil aja," sambar Jessy.
"Diem kamu!" ucap Ezra.
"Terus orang yang kamu tabrak gimana itu keadaannya?" tanya Lula.
"Aku enggak tau, Mah. Yang jelas yang aku tabrak itu seorang, nnek-nenek deh."
"Ya Ampun, Kak. Jadi, yang lu tabrak, nenek-nenek? Parah banget sih lu, Kak."
"Mamah, akut keluarga korban nuntut kamu, Zra."
Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang yang menguping dari depan pintu ruangan yang merawat Ezra. Seseorang itupun berlari menuju taman rumah sakit dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Sedangkan Ezra, ia ingin keluar dari ruangan inapnya. Namun, Lula mencegahnya karena Ezra harus banyak istirahat.
"Jadi orang itu jangan ngelawan, Kak," tegur Jessy.
"Siapa yang ngelawan sih, Jes? Kakak, cuman mau jalan-jalan sebentar, bosen tau di ruangan ini mulu."
"Sudah biarin aja, Kakakmu ini pergi keluar. Tapi, kalau ada apa-apa langsung telepon, Mamah, ya," ucap Lula.
Ezra menyusuri koridor rumah sakit menggunakan kursi rodanya sendiri, ia melihat banyak sekali pasien yang sama seperti dirinya menggunakan kursi roda. Entah mempunyai sakit yang sama dengannya atau berbeda dengan yang jelas Ezra dapat merasakan jika ia terus berada di kursi roda tidakkah ia merepotkan semua orang? Termasuk kedua orang tuanya nanti terlebih jika pacarnya tau kondisi ia saat ini apa masih mau bertahan dengannya? Entahlah Ezra hanya menunggu seiring berjalannya waktu.
Kursi roda yang ia duduki berhenti pada sebuah taman rumah sakit. Ezra melihat beberapa pasien rumah sakit juga ada di sana. Tiba-tiba pandangannya terfokus pada sosok wanita yang tengah duduk di kursi taman dan Ezra melihat sosok wanita itu sambil menangis. Ia pun mendekat.
"Gua benci sama dia, gua benci banget," lirih wanita itu.
HIKS! HIKS!
"Kenapa dia enggak mau dengarin omongan gua saat itu? Kalaupun dia mau dengarin dan nurut enggak akan begini jadinya. Gua benci banget sama dia, benci!"
"Ditha?" panggil Ezra.
Perempuan itupun menoleh ke Ezra, ia menatap tajam Ezra dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Saat Ezra ingin mendekati wanita yang ia sebut Ditha dengan cepat wanita itu bangkit dari duduknya dan menjauh dari Ezra.
"Mau apa lu ke sini? Belum puas ya udah bikin salah satu keluarga gua menderita gara-gara lu? Belum puas?!"
"Maksud kamu apa, Ditha?" tanya Ezra pada wanita itu. "Saya enggak ngerti," lanjutnya.
Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar. "SAMPAI KAPAN PUN GUA ENGGAK AKAN MAAFIN PERBUATAN LU!" bentak wanita itu.
wanita itupun pergi meninggalkan Ezra di taman dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. Ezra melihatnya pun tak faham apa yang wanita itu katakan barusan padanya.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Ditha memasuki ruangan yang merawat Neneknya itu. Saat ia menutup pintu ruangan tersebut Ditha di buat kaget dengan kehadiran dua perempuan di dalam ruangan Neneknya.
"Kalian? Mau apa ke sini?" tanya Ditha pada dua orang perempuan di hadapannya.
"Tante–tante, hanya mau melihat keadaan Nenek kamu Ditha."
"Ibu Lula dan Kak Jessy, lebih baik keluar dari sini. Saya lagi enggak mau lihat, Ibu dan Kak Jessy," ucap Ditha.
Drettt! Drettt!
Salah satu ponsel perempuan di hadapan Ditha berbunyi, perempuan itupun menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Iya. Hallo, Zra. Kenapa?"
"…"
"Mamah sama Jessy lagi ada di ruangan nomor 15, Zra."
"…"
"Hmm, yaudah."
Sambungan telepon pun terputus.
Lula dan Jessy yang berniat ingin menemui Dokter yang menangani Ezra harus tertunda dahulu karena, mereka tidak sengaja melihat keberadaan Nenek Yeyen. Saat Nek Yeyen ingin mengambil minum ia tidak bisa mengambilnya dan kebetulan pintu ruangannya pun terbuka di saat itu pula Lula dan Jessy melihat Nek Yeyen dan membantunya untuk mengambilkan minum untuk Nek Yeyen. Lula sempat bertanya kemana keluarganya dan dengan siapa ia di rumah sakit ini serta cucunya bernama siapa. Nek Yeyen pun menceritakannya.
Cklek...
Keempat penghuni ruangan tersebut menoleh ke arah pintu saat ada seorang pria masuk ke dalam. Saat pria itu sudah berada di dalam, Ditha kembali menitikkan air matanya. Sungguh Ditha belum sanggup jika harus melihat pria itu berada di dalam ruangan ini.
"Ditha …," panggil Nek Yeyen.
Ditha menoleh namun, tidak menjawabnya.
"Mamahnya Ezra, sudah minta maaf ke, Nenek. Jadi, kamu harus memaafkan, Ezra yah," ucap Nek Yeyen.
Ditha hanya menatap Nek Yeyen dengan air mata yang masih mengalir begitu saja.
"Maksudnya apa? Kenapa, Ditha harus maafkan saya?" tanya Ezra.
Lula menoleh ke Ezra. "Kamu enggak sadar, Zra. Kesalahan kamu dimana?"
Ezra menggelengkan kepalanya.
__ADS_1