DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR

DUDA USIL Vs GADIS BAR-BAR
Suami Siap Siaga


__ADS_3

Rasa lapar yang melanda perutnya membuat Ditha terjaga di malam hari. Ia lupa kalau belum makan malam. Ditha menoleh ke sampingnya di sana ia melihat Ezra tengah tertidur dalam kondisi tangan yang memegang wadah air dan Ditha baru sadar jika keningnya di balut dengan handuk kecil yang sudah tidak basah.


"Dia ketiduran kayak gitu, gara-gara gua? Apa tadi badan gua panas ya," gumam Ditha. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Saat mau hendak turun dari tempat tidurnya, tiba-tiba kepalanya seperti sedang muter-muter.


Sssh!


Suara desisan dari Ditha membuat Ezra kini menjadi terjaga. Tatapan pertama yang Ezra lihat adalah Ditha, ia menyentuh kening Ditha untuk mengecek suhu badan terkini. Dan tentu saja itu membuat Ditha tercengang.


"Alhamdulillah, badan kamu udah enggak panas. Maaf, ya tadi saya masuk ke kamar kamu enggak izin dulu ke kamu. Soalnya tadi saya mendengar suara seperti orang sedang muntah, saya kira kamu ternyata bukan," ujar Ezra.


Seketika jantung Ditha seperti sudah tidak berdetak lagi saat ia mendengar penuturan Ezra barusan padanya.


Ternyata di balik sikap dia yang ngeselin, dia bisa juga bikin gua tremor begini, batin Ditha.


Ditha tersenyum tipis. "Thanks, ya."


Ezra mengambil alih handuk kecil di tangan Ditha yang tadi di gunakan untuk mengompres.


"Sama-sama."


Kedua alis Ezra menyatu saat ia melihat Ditha selalu memenggangi kepalanya.


"Kepalamu kenapa? Kok di pegangin begitu? Oh iya, ini kan sudah malam lebih baik kamu makan malam nanti sakit—"


Sssh!


"Kepala saya pusing, Om!" sahut Ditha.


"Ini pasti kamu telat makan. Masih kuat buat berdiri enggak?"


Ditha menggelengkan kepalanya.


"Ya, sudah. Kamu tunggu sini, saya ambilkan makan dulu. Kamu rebahkan saja badan kamu."

__ADS_1


Ezra keluar membawa wadah dan mengambil makan untuk Ditha di dapur. Ditha pun menurut. Beberapa menit, Ezra sudah kembali membawa piring yang berisi lauk pauk dan segelas air mineral. Gelas tersebut ia letakkan pada lemari meja rias milik Ditha.


"Mau makan sendiri atau saya suapi?" tanya Ezra.


Ditha tampak berfikir sebelum menjawab ia mengubah posisi menjadi terduduk. Mulutnya terbuka pertanda bahwa Ditha minta di suapi, Ezra pun mengerti. Namun, sebelum menyuapi Ditha ia malah di buat salah fokus pada pakaian yang di kenakan oleh Ditha. Bagaimana tidak? Ditha saat ini hanya memakai tank top tidak memakai bra sama sekali dan di bagian tengahnya pun berpotongan rendah sehingga ia dapat melihat jelas belahan dadanya Ditha tentu saja itu membuat jakunnya naik turun.


Ezra yang sadar apa yang berada dalam otaknya segera menyingkirkan pikiran kotornya dan ia langsung menyodorkan sendok beserta lauk pauknya ke dalam mulut Ditha.


Kapan lagi coba di suapi suami begini! Kalau ada Claudia sama Adel, pasti mereka langsung ngebet banget mau nikah hahaha, batin Ditha.


Ezra ingin menjadi suami yang lebih peka dan suami siap siaga di kala istrinya sedang kesakitan seperti ini. Anggap saja perhatian-perhatian kecil yang ia berikan pada Ditha untuk menebus kesalahannya di masa lampau mengenai mendiang nek Yeyen.


Ditha menahan dalam-dalam senyumnya ia tidak mau terlihat oleh Ezra kalau dirinya sedang berbunga-bunga. Saat hatinya sedang berbunga-bunga, tiba-tiba saja ada yang langsung merusak mood Ditha saat itu juga.


Drettt! Drettt! Drettt!


Ezra merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Sebelum ia jawab, Ezra sempat menatap sekilas Ditha kemudian setelah itu ia me-riject panggilan masuk tersebut.


"Kenapa enggak di angkat?" tanya Ditha, penasaran.


Ganggu banget sih, batin Ditha.


"Saya enggak tanya siapa yang telepon. Kalau begitu kenapa enggak di angkat? Sakit tahu kalau di cuekin begitu aja. Jadi, cowok itu harus berperasaan wajib peka juga. Jangan seenak jidatnya aja, menyakiti perasaan hati wanita!"


Niat ingin menasehati Ezra, Ditha malah kebablasan jadi menyindirnya. Bagaimana ekspresi Ezra saat dirinya di sindir oleh Ditha? Tentu saja wajahnya biasa saja namun, dalam hatinya? Pasti sangat dongkol.


Dia enggak ada rasa cemburu gitu? Apa dia belum ada rasa sama saya? Saya begini juga menghargai posisi kamu, Ditha yang sekarang sudah resmi menjadi istri saya. Enggak mungkin saya menjawab telepon dari Rinda saat di depan kamu, batin Ezra.


"Terakhir kali kamu menstruasi kapan?" tanya Ezra, tiba-tiba. Dan tentu saja itu membuat Ditha yang sedang menenggak minumnya menjadi tersedak.


"Hah?" Hanya tiga kata yang terlontar dari bibirnya karena, ia masih syok.


"Terakhir kali kamu menstruasi kapan?" Kembali Ezra bertanya.

__ADS_1


"Dua bulan yang lalu … kalo enggak salah."


Ezra langsung menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jangan mikir macem-macem lo, ya! Gua enggak mungkin hamil di luar nikah, asal lo tau."


Ditha dapat membaca fikiran Ezra saat ini makanya ia langsung mengeluarkan uneg-unegnya.


"Bagus."


Setelah mengatakan seperti itu Ezra keluar dari kamar Ditha dan berhubung Ditha juga sudah selesai makan malamnya Ezra tidak kembali ke dalam kamar Ditha ia memilih untuk makan malam karena, rasa laparnya melanda perutnya juga.


Ditha menghela nafasnya dalam-dalam kemudian, ia beralih menatap ke arah tubuhnya siapa sangka ia sangat kaget. Karena, dirinya hanya memakai tank top tanpa menggunakan bra di dalamnya. Dan tentu saja pikirannya langsung mengarah ke pertanyaan Ezra tadi padanya.


"Oh, pantes aja dia nanya kayak begitu. Astaga! Ditha, lo ceroboh lagi. Ya Tuhan! Pasti dia langsung cenat-cenut burungnya lihat gua cuman pakai tank top. Apalagi belahan gua kelihatan banget!" gumamnya merutuki. Ditha mengusap wajahnya dengan kasar kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil baju yang layak untuk ia kenakan. Setelah selesai mengenakan baju yang layak tiba-tiba saja kepalanya kembali muter-muter.


Sssh!


Ezra yang kebetulan lewat ruang tamu mendengar desisan tersebut ia pun langsung menoleh ke dalam kamar Ditha.


"Kenapa, Ditha? tanya Ezra, mendekati Ditha.


"Pusing lagi," lirihnya.


"Ya, sudah. Kamu jangan dulu ke mana-mana. Di rumah ada obat penghilang pusing?"


"Enggak tahu."


Ditha kembali merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Sedangkan Ezra mencari obat di lemari khusus obat-obatan. Setelah di cari akhirnya ia mendapatkan dan segera ia kasih pada Ditha.


"Kamu langsung istirahat aja," ucap Ezra. Ditha yang sudah meminum obatnya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ezra keluar dari kamar Ditha.


"Saya hanya bisa menyusahkan semua orang, mereka yang seharusnya bahagia menjalani kehidupannya sekarang malah kesusahan semenjak saya mengalami lumpuh seperti ini," gerutu Ezra. Dirinya sedang berada di kamar kedua matanya beralih menatap foto anak kecil yang tengah memegang ponsel jadul di tangannya.

__ADS_1


Maafkan saya, Ditha. Kalau kamu enggak menikah dengan saya, sudah saya pastikan masa-masa remaja kamu akan penuh kebahagiaan, batinnya.


TBC


__ADS_2