
Kejadian kemarin membuat Ezra merasa sangat bersalah dan malu. Sebab dirinya kemarin ketahuan Ditha di mana yang tengah memandangi aset yang paling di sukai oleh pria termasuk dirinya. Kesal dan benci pasti ada di diri Ditha, sampai hari ini pun keduanya tidak ada yang saling sapa padahal setelah ketahuan Ditha Ezra langsung minta maaf. Namun, Ditha malah marah dan tidak ingin bicara lagi dengan Ezra.
Tok … Tok … Tok …
Ditha menatap pintu kamarnya, kemudian dia kembali fokus pada ponselnya. Lagi dan lagi ketukan pintu kamarnya terdengar kembali. Ditha beranjak dari kasurnya lalu dia membuka pintu kamarnya, nampak lah di sana seorang wanita dengan seragam perawatnya.
"Selamat pagi," sapa wanita tersebut.
Ditha tersenyum. "Pagi, Suster Mila. Ada apa, Sus?"
"Begini, ini kan sudah masuk jamnya saya bekerja. Tetapi, tadi saya mengetuk pintu kamar mas Ezra tidak ada sahutan dari dalam."
"Mm … iya, Sus saya paham."
Suster Mila mengangguk tersenyum.
Ditha menuju kamar yang ditempati oleh Ezra. Di sela-sela jalannya Ditha menggerutu saja seolah-olah dia tidak terima kalau dirinya di bikin susah.
"Nyusahin banget! Dia tidur apa mati suri sih? Repot," gerutunya.
Setelah berkali-kali mengetuk pintu ternyata saat Ditha memegang handle pintu kamar itu tidak di kunci. Dia pun masuk ke dalam tanpa diikuti suster Mila. Di goyang-goyang kan lah lengan Ezra agar dia mau bangun.
"Om, bangun! Itu, suster Mila udah datang dari tadi. Kebo banget sih!" sungut Ditha. Ditha membukukan tubuhnya menghadap telinga Ezra. "Om Ezra! Bangun!" teriak Ditha tepat di depan telinga Ezra.
Seketika kedua mata Ezra membulat sempurna dan tidak sengaja mendorong tubuh Ditha yang sedang membungkuk menghadapnya sehingga bokong Ditha terbentur lantai.
"Aw!" pekik Ditha. Tangannya mengelus-elus bokongnya yang sakit itu. Lalu dia berdiri dan langsung mencubit tangan Ezra.
"Hey! Kenapa kamu mencubit saya?"
"Kenapa kamu mencubit saya? Pikir aja sendiri!" sungut Ditha.
"Kenapa ada di sini? Bukannya kamu tidak ingin bicara dengan saya lagi?"
Ezra meraih kursi rodanya saat ingin mencoba berdiri tiba-tiba saja dia masih belum seimbang sehingga jatuh kembali ke kasur. Ditha yang melihatnya seakan tidak peduli dia pun memilih untuk keluar kamar tetapi, langkahnya terhenti saat mendengar benda jatuh. Ditha pun menoleh ke belakang di mana Ezra terjatuh dari kasurnya beserta kursi rodanya yang terbalik.
"Ya, Tuhan. Emang benar-benar, ya!" gumam Ditha. Dia membantu Ezra berdiri dan mendudukkannya di kursi roda.
"Terima kasih."
"Ya."
...ΩΩΩ...
"Oke. Gua tunggu!" ucap Claudia pada si penelepon.
__ADS_1
Kini dirinya tengah menunggu seseorang di cafe dekat rumahnya. Saat asik sedang berfoto selfi tiba-tiba dia tidak sengaja menyenggol bagian tubuh seorang pria yang tengah melewati mejanya.
"Pak David? Maaf, Pak saya enggak sengaja hehe."
"Tidak apa-apa. Oh iya, Claudia. Kamu tahu tidak rumah, Ditha di mana?"
"Tahu, Pak. Emangnya kenapa?"
"Alamatnya di mana?" Claudia memberi tahu alamat Ditha. "Oke, terima kasih, Clau."
"Emang bua—" Tak sempat melanjutkan ucapannya, karena pak David sudah pergi dari hadapannya.
...ΩΩΩ...
"Apa?" tanya Ditha sewot. Saat dirinya melihat Ezra tengah kesusahan mengambil gelas.
"Saya mau minum."
Ditha mengambilkan gelas pada lemari atas tempat peralatan makan maupun minuman berada lalu dia berikan pada Ezra.
"Bisa buatkan saya kopi? Dan nanti tolong bawakan ke teras, ya?"
Allahuakbar! Berilah aku kesabaran, ya Tuhan. Masih pagi ini, batin Ditha.
"Manis, tapi jangan terlalu manis. Soalnya yang buatin udah manis."
Setelah berkata seperti itu Ezra meninggalkan Ditha. Posisi Ditha yang membelakangi Ezra tadi kini dirinya sempurna menghadap belakang. Senyumnya mengembang, tetapi tidak berlangsung lama. Karena, kedatangannya suster Mila di sana.
"Mba Ditha. Kopi untuk, mas Ezra sudah jadi belum?"
"Sudah, Sus. Memangnya kenapa?"
"Biar saya saja yang memberikan pada, mas Ezra."
Ragu-ragu Ditha memberikan secangkir kopi itu pada suster Mila. Mila pun segera mengambilnya dari tangan Ditha. Setelah itu dia pergi meninggalkan Ditha.
"Kampret! Cari perhatian banget sih itu, suster!" sungutnya.
...ΩΩΩ...
Mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan rumah seseorang. Terlihat sepi, mungkin karena masih pagi sehingga di rumah itu tidak terlalu memperlihatkan aktivitas orang di teras sana.
"Assalamualaikum … permisi, Ditha!" panggil pria tersebut.
Lama tidak ada sahutan dari sang punya rumah, mau tidak mau pria itu masuk ke dalam sana. Sesampainya di teras baru saja ingin ia ketuk pintunya sudah menampakkan pria yang tengah duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Bang David?"
"Ezra?"
Ucap keduanya secara bersamaan. Kaget tentu saja di rasakan Ezra dan heran tentu saja di rasakan pak David. Tidak ada undangan tidak ada hujan tiba-tiba saja pak David datang ke rumah Ditha. Tanda tanya besar sudah memenuhi isi kepala pak David. Jika dugaannya kala itu benar, maka dirinya tidak habis pikir apa yang telah dilakukan oleh teman masa kecilnya itu.
Ditha terperangah saat dirinya ingin masuk ke dalam kamar dia melihat keberadaan pak David— gurunya bersama Ezra tengah duduk di ruang tamu.
"Pa–Pak David? Kenapa ada di sini? Em … maksudnya kenapa bisa tahu rumah saya?" tanya Ditha gugup. Sungguh ini bukanlah momen yang pas saat ada orang lain mengetahui mempunyai hubungan dengan Ezra terlebih sudah tinggal bersama seperti ini.
Pak David menuding keduanya. "Kalian berdua hutang penjelasan ke saya. Cepat jelaskan sekarang!"
Keringat dari kening Ditha dan Ezra sudah mulai terlihat, namun Ezra berusaha tetap biasa saja beda dengan Ditha dia malah seperti ingin pingsan rasanya ditambah dia juga belum sarapan pagi.
"Pak … ini enggak kayak yang, bapak piki—"
"Sebenarnya kita berdua ini udah nikah."
Bak di sambar petir di siang bolong ucapan Ezra barusan mampu membuat kedua mata Ditha ingin copot serta jantungnya ingin berhenti berdegup. Nyata atau tidak? Dengan gampangnya Ezra berkata seperti itu pada pak David yang jelas-jelas adalah Guru di sekolahnya. Bagaimana bisa? Tanpa berdiskusi dahulu dengannya Ezra seenaknya mengambil keputusan secara sepihak. Bukan kedua mata Ditha saja yang ingin copot, pak David pun sama dia sampai meminta Ezra untuk mengulang perkataannya barusan dan ucapan terakhir Ezra mampu membuat suasana menjadi hening.
"Gua enggak tahu harus perca—"
"Harus percaya lah. Ini real, Bang bukan cerita fiksi!" celetuk Ezra.
Ulekan mana ulekan?! Atau blender di mana blender?! Mulutnya ceplas-ceplos aja, dari tadi emang ngeselin banget itu orang. Bikin naik darah gua aja, batin Ditha.
Pak David yang semula menatap Ezra kini tatapannya beralih pada Ditha.
"Ditha … kamu enggak hamil di luar nikah, kan?"
Pertanyaan macam apa itu? Konyol sekali! Begitulah batin Ezra. Dia tidak terima ada yang menuduh Ditha bahwa dirinya menikah dengan Ezra karena hamil di luar nikah.
"Bang …," tegur Ezra tidak terima.
"Enggak, Pak. Astaghfirullah! Saya cewek baik-baik, Pak. Buktinya saya sampai detik ini masih perawan." Sontak saja jawaban polos dari Ditha membuat kedua mata Ezra terbelalak. Pak David melihat ekspresi wajah Ezra membuatnya menahan tawan dalam-dalam
Jadi, dia udah siap gitu kalau saya jebol gawangnya? Oke, Ditha saya akan lakukan itu tetapi tidak sekarang karena kondisi saya ini dan kamu harus ingat. Kamu pasti akan sangat lelah harus melayani saya suatu saat nanti. Gara-gara ucapan polos kamu barusan membuat image saya jadi jatuh di hadapan, bang David. Argh, batin Ezra bergemuruh.
"Sepertinya kamu terlalu jujur kepada saya."
"Lho memangnya kenapa, Pak?"
"Enggak semua hal kamu bisa omongin secara blak-blakan. Sampai hal privasi seperti itu kamu bicarakan ke orang lain. Jelas-jelas melanggar privasi lah," sungut Ezra.
Pak David mendekati Ezra dan berbisik sesuatu. "Sabar, Zra. Siapa suruh lu nikahin bocah SMA. Suka banget kayaknya lu sama yang bocah-bocah," bisik Pak David.
__ADS_1