Elang Timur

Elang Timur
10. Mas Gi berjuang.


__ADS_3

"Alhamdulilah akhirnya kamu sadar juga dek..!!"


"Mas keluarlah, Nadine mau istirahat..!!" pinta Nadine.


"Mas tidak akan mendekatimu. Tidurlah..!! Mas tidur di lantai" kata Bang Giras.


"Nadine nggak mau lihat Mas"


"Mas nggak minta banyak dek. Hanya ingin menjagamu saja..!!"


***


Bang Giras menyandarkan tubuhnya usai sholat Dhuha. Ia terus memikirkan cara agar Nadine mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungan. Jika ia memarahi Nadine secara frontal pasti Nadine akan kembali syok dan tertekan.


"Kalau aku salah langkah, rumah tanggaku taruhannya. Dulu begitu mudah aku mendapatkan wanita di luar sana, tapi sekarang.. gadis kecil ini begitu sulit ku taklukkan." Bang Giras seakan sungguh menyadari betapa berharganya Nadine. Gadis yang setiap pagi berusaha memasak makanan untuknya sebelum berangkat kerja meskipun langkah memasaknya harus mengikuti tutorial di me_tupe. Gadis yang selalu berusaha melayani segala kebutuhannya meskipun istrinya harus di sibukan dengan jam kuliah yang merangkak padat.


Bang Giras melihat anggotanya sedang bercanda dengan putranya. Di gendongnya sambil sesekali bercanda dengan sang istri di sela kegiatan rutin di Batalyon. Hatinya sungguh sedih mengingat Nadine tidak menginginkan calon bayinya.


'Tolong beri aku kekuatan Ya Allah..!!'


...


Siang ini ada kunjungan ke panti asuhan, Bu Danyon meminta Nadine untuk mewakili kegiatan tersebut bersama Bang Giras. Tentu saja Nadine tak akan bisa menolak jika hal ini berhubungan dengan dinas.


Sepanjang perjalanan tadi hingga saat ini, Nadine sama sekali tidak mau berdekatan dengan Bang Giras. Para anggota memahami mungkin sikap ibu Danton karena sedang hamil dan sedang tidak ingin berdekatan dengan Danton tampan mereka.


:


Nadine bnyak memperhatikan keceriaan anak-anak tanpa kasih. Tak jarang ibu panti kewalahan saat harus menangani rengekan demi rengekan bocah yang mencari perhatian.


~


"Ini bayi yang baru saja kami terima disini Bu, usianya baru tiga hari. Dia di buang ke semak-semak oleh orang tuanya karena hasil hubungan gelap. Saat melakukannya, mereka tidak memikirkan resiko yang akan mereka tanggung hingga akhirnya kehamilan benar-benar terjadi, si ayah tidak mau bertanggung jawab" kata ibu panti.


Nadine memperhatikan bayi mungil yang masih merah itu, ia menyelipkan jemarinya di tangan bayi perempuan kecil yang tertidur polos tanpa dosa.


"Beruntunglah kita yang hidup masih memiliki orang tua. Tidak bernasib malang seperti mereka.. di tolak oleh orang tua dan tidak di sayang, kasih kami untuk mereka juga pasti sangat kurang."


"I_ya Bu" Nadine mulai terbata, perasaannya sakit sendiri melihat anak-anak itu juga dirinya yang telah menolak pemberian Tuhan.


"Saya dengar Ibu sedang hamil. Pak Giras sangat senang mendengarnya. Beliau sangat menyayangi anak-anak panti hingga menjadi donatur tetap disini sejak beliau lulus menjadi seorang perwira. Kemarin saja saat mendengar ibu hamil.. Pak Giras mengirim hadiah dan uang untuk anak-anak. Terima kasih banyak untuk Ibu dan Pak Giras"


~

__ADS_1


Nadine duduk sendiri di taman dan melihat anak-anak bermain dengan ceria. Air matanya menetes melihat anak-anak terpaksa harus mandiri di usia yang masih sangat kecil. Ia meraba perutnya yang masih rata. Ada nyawa kecil disana.


"Tapi Papamu tidak menyayangi kita. Cintanya hanya terpaksa karena sudah terlanjur menikahi Mama."


"Apakah kamu sehebat itu, bisa menebak isi hati suamimu?" tegur Bang Giras. "Apakah egois dan emosi bisa menyelesaikan kesalah pahaman di antara kita?"


Nadine memberanikan diri menatap mata Bang Giras, kali ini ia tidak menghindar dan Bang Giras juga merasakan hal itu.


"Kita sudah melakukannya dan dia sudah ada di rahimmu. Mas terima kalau memang kamu membenci Papanya. Mas akui.. Mas memang salah tapi anak itu tidak salah, kita yang salah terlebih Mas.. karena Mas mencintai Mamanya dan menginginkan dia ada." kata Bang Giras.


Air mata Nadine menetes.


Bang Giras mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia membuka kotak kecil berisi sebuah cincin cantik terukir nama 'Giras n Nadine'. "Maukah kamu mendampingi hidupku? Aku pria bodoh yang terlambat menyadari perasaanku sama kamu. Maafin Mas ya dek..!!"


Nadine masih terdiam. Ia tak lagi menatap mata Bang Giras hingga akhirnya Bang Giras berlutut di kaki Nadine. Ia benar-benar merendahkan diri di hadapan wanita yang kini sangat ia cintai.


"Berdirilah Mas, tidak seharusnya Mas seperti ini. Seorang suami adalah imam dan kepala keluarga, tidak pantas menyentuh kaki Nadine yang sama sekali tidak akan sanggup menyanggamu" kata Nadine.


"Rendah bukan berarti hina. Mas rela melakukan apapun demi kamu dan anak kita, kecuali kamu tidak mencintai Mas Gi"


"Nadine tidak mencintai Mas Gi" jawab Nadine.


Bang Giras sudah memperkirakan hal terburuk ini. Bumil yang keras hati adalah memang kesalahannya. Bang Giras mengambil sesuatu lagi dari sakunya lalu menelan sesuatu itu.


"Bilang begitu dari tadi khan enak dek. Kenapa harus di paksa sampai seperti ini sih?" tiba-tiba suara Bang Giras mengagetkan Nadine.


"Maaasss.. Mas Gii nggak jadi mati??" tanya Nadine polos.


"Lebih baik Mas Gi mati daripada merasakan penolakan darimu dek" jawab Bang Giras. "Bunuhlah aku jika kamu tidak percaya sayangku sama kamu"


Nadine menatap mata Bang Giras begitu dalam. Hatinya berdesir sama seperti Bang Giras, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Nadine.


"Kenapa hatimu harus sekeras ini dek?"


"Karena Nadine perempuan. Jika tidak di cintai, Nadine nggak mau memaksa" jawab Nadine.


"Mas Gi cinta.. mas Gi juga sayang. Apa Mas Gi harus harus jadi Malin Kundang agar kamu percaya perasaannya Mas??"


"Malin Kundang itu durhaka sama Ibu Mas, bukan berjuang untuk cintanya."


Bang Giras tersenyum, ia bukannya tidak tau kisah cinta yang melegenda demi perjuangan cinta. "Apa Mas Gi harus menumpuk seribu candi untuk meluluhkan hatimu?" tanya Bang Giras.


Nadine tersenyum malu dan baru kali ini Bang Giras melihat senyum cantik Nadine.

__ADS_1


"Anakmu minta Papanya panjat pinang. Sanggup??"


Bang Giras terdiam sejenak. Kini Bang Giras yang tersenyum mendengar permintaan sang istri. "Apapun Mas Gi lakukan untukmu Roro Jonggrang kesayanganku."


//


"Pergi Bang, pulanglah ke istrimu..!!" Niken mendorong pintu rumah kontrakannya dengan kuat.


"Aaiiisshh.." Bang Rey mengibaskan tangannya yang terjepit pintu karena Niken menutupnya dengan kencang.


Niken kaget dan kembali membuka pintunya. "Sakit ya Bang?? Luka nggak??" tanya Niken panik.


Seketika itu juga Bang Rey memeluk Niken. "Hati Abang yang sakit" ucapnya tak ingin jauh dari Niken.


"Jangan begini Bang, Niken takut tidak bisa melepaskan Abang" kata Niken.


"Tidak ada yang memintamu melepas Abang. Ayo ikut Abang.. !!"


-_-_-_-_-


Sore hari tiba. Nadine dan rombongan baru tiba di Batalyon. Tak lama ponsel Bang Giras berdering.


"Anne??? Kenapa dia menghubungiku??" gumam Bang Giras.


Wajah Nadine Seketika berubah mendung dan muram, Bang Giras pun mendekap sang istri, mengecup keningnya kemudian mendaratkan kecup manis di bibirnya. "Percayalah sama Mas Gi, khilaf terindah Mas Gi hanya sama kamu" kemudian Bang Giras mengangkat panggilan telepon dari Anne.


Nadine memalingkan wajahnya, tangan Bang Giras mengusap kening sang istri sembari menyandarkan di bahunya. Ia tau sang istri sedang cemburu berat.


"Bang.. kira-kira Abang tau nggak, Bang Rey di kirim tugas kemana? Bang Rey nggak bisa di hubungi.. apa tempat tugasnya mati sinyal?" tanya Anne, Nadine pun bisa mendengar nya karena Bang Giras mengaktifkan loudspeaker.


"Eehmm.. Abang nggak tau An, Abang sama Nadine ada tugas sendiri ke panti asuhan. Kamu tunggu saja, nanti kamu tanya dia pergi kemana" saran Bang Giras.


"Hmm.. oke Bang. Oiya Bang, bisa kerumah Anne sebentar nggak? keran air di rumah Anne mampet"


Seketika lirikan Nadine kembali panas.


'Ya Allah.. Kapan masalah ini selesai. Kalau Nadine marah lagi habislah aku'.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2