
"Ini gara-gara celometannya mulut kalian berdua" Bang Danar kesal karena mereka bertiga jadi harus tidur di luar.
"Tapi rasanya bodoh sekali kalau kita kalah sama mereka. Kenapa nggak kita kerjai saja??" Kata Bang Giras.
"Kamu punya ide apa?" Tanya Bang Rey.
Mereka bertiga saling menatap seakan pikiran mereka satu frekuensi.
...
Bang Danar, Bang Giras dan Bang Rey mengendap ke belakang barak bujangan mencari sesuatu yang mungkin bisa di pakai untuk mengerjai trio cempluk. Memakai sarung untuk menutupi kepala bak ninja, mereka pun beraksi. Bang Danar membawa sapu lidi, Bang Giras membawa pengki sedangkan Bang Rey membawa pel.
Suara kasak kusuk tiga perwira membuat Om Khoirudin di barak B terbangun. Barak terdekat dengan asrama. Barak yang juga rata-rata berisi ajudan komandan. Sekelebat ia melihat tiga bayang mencurigakan.
"Itu bayangan apa ya? Setan apa maling?" Gumamnya.
Om Khoirudin segera bangkit dan membangunkan Om Lukman. "Lukman, ada yang aneh. Ada bayangan masuk ke dalam gudang"
Seketika mata Om Lukman terbuka layaknya tentara yang sedang waspada.
"Kamu yakin??" Tanya Om Lukman.
"Yakin. Aku lihat tiga bayangan."
"Baiklah, ayo kita sergab. Bangunkan yang lain..!!" Kata Om Lukman.
~
Benar saja. Memang ada tiga orang membawa senjata di tangan, terlihat dari bayang mereka di dinding.
Para Om bujangan barak mengacungkan pistol bersiap menyergap ketiganya. "Nanti sergap dan hajar..!!" Perintah Om Khoirudin.
Para om bujangan mengangguk dan akhirnya mereka melaksanakan perintah. Senyap.. tanpa suara.
buugghh...
"Kena kau, hajaarr..!!!!" Om Lukman langsung menghajar maling tersebut.
"Aduuuhh..!!" Pekik seseorang yang terhajar dan itu suara Bang Giras.
"Sakit toloooll..!!" Suara Bang Rey pun terdengar.
Selanjutnya seorang diantaranya balik menyergap dan membanting Om Lukman. "Lancaang..!!! Berani sekali kamu menghajar komandanmu..!!!!!" Bentak Bang Danar.
"Ampuuuuunn Komandan...!!!!" Pekik Om Lukman.
~
Seluruh anggota duduk melantai mendapatkan omelan dari ketiga perwira yang tengah sial.
"Waspada ya waspada, tapi kalian yang tidak mengenali komandan kalian sendiri itu fatal..!!! Keterlaluan..!!!!!!!!" Bentak Bang Danar berkacak pinggang dengan style celana pendek, kaos oblong dengan sarung tersampir di pundak ala Kabayan tak pernah menutup wibawanya. Sandal jepit salah warna dan kanan semua pun tak luput dari penampilan gagahnya malam ini. "Ngawur semua..!! Kalau kami tidak menangkis, kami ini bonyok kalian hajar..!!!!!"
"Siap salah Komandan..!!!!"
"Sudahlah, karena ada misi rahasia yang nyaris gagal karena kalian, sekarang kita lanjut saja." Kata Bang Giras.
"Iya, bantu kami dalam misi..!!"
__ADS_1
"Siap.. ijin.. misi apa komandan?" Tanya Om Lukman.
"Misi perdamaian" jawab Bang Danar.
Para om bujangan awalnya tidak mengerti tapi kemudian melihat style para perwira yang rata-rata sama, mereka pun sedikit paham. Pasti ketiga komandan sedang ada permasalahan dengan istri. "Siaap..!!!!"
:
Mengendap di sekitar rumah yang berjajar. Para bujangan menyiapkan bahan yang di gunakan untuk mengerjai istri Lettu Danar, Lettu Giras dan Lettu Arjerio.
Bola mainan anak-anak yang mereka jarah dari rumah Danyon di potong hingga menjadi bagian teramat kecil lalu di bungkus dengan aluminium foil bekas bungkus rokok.
"Satu buang di rumah saya, satu di rumah Danton A, satu di rumah Danton C...!! Kalian bertiga berdiri di pintu kamar..!!" Arahan Bang Danar.
"Siap..!!"
"Spreinya ikat yang benar Man, nanti lepas kalau kamu loncat" kata Bang Danar mengingatkan Om Lukman yang sedang mengikat tali guling di atas kepalanya.
"Dan.. kamu yakin ini aman? Yang kita kerjain bumil lho. Aku cemas mereka kaget lihat pocong" tanya Bang Giras mencemaskan Amanda.
"Amaan.. bumil kita kuat' jawab Bang Danar.
"Tunggu Dan, aku juga ragu. Belakangan ini Niken juga sensitif sekali" Bang Rey pun ragu melakukannya.
"Ya itu terserah kalian saja sih. Yang jelas aku nggak mau tidur di luar, adem. Preman kok di kerjain" Bang Danar tak peduli.
"Bukan begitu juga, lihat itu penampilan mu Dan. Aduuhh..!!"
~
"Ada asap? Apa aku lupa mematikan kompor?" Gumam Nadine kemudian berjalan menuju pintu.
Saat membukanya, ada bayangan berdiri di depan pintu dan Nadine masih terpaku tapi saat asap mulai hilang, ada sosok berbalut kain putih berdiri di depan wajahnya.
"Kyaaaaaaaaa..!!!!" Pekik Nadine ketakutan bersamaan dengan suara teriakan di rumah Bang Giras dan Bang Rey. "Abaaaanngg..!!!!!!".
~
"Aduuh.. aku pulang saja, takut Manda kenapa-napa" kata Bang Giras kemudian berjalan cepat untuk pulang.
"Aku juga, anakku masih di perut bro" Bang Rey menyusul berlari pulang.
"Aahh.. kalian ini nggak solid, katanya berani ngerjain bini" ledek Bang Danar.
Belum selesai mulut Bang Danar mengomel, ada suara teriakan dari Om Lukman. "Dan.. ijin.. ibu pingsan"
"Lahdalaah.. piye to iki"
~
Bang Danar mencoba menyadarkan Nadine tapi sampai beberapa saat Nadine belum juga bisa di sadarkan.
"Ayo bangun sayang..!!" Bang Danar gelisah karena Nadine tak kunjung sadar.
Tak lama Nadine mulai tersadar, denyut jantungnya masih tak beraturan tapi saat membuka mata, ia semakin kaget melihat sosok di hadapannya. Sosok berbulu dan berwajah hitam legam. Mata pun hitam legam bersemu merah. "Grandong, Genderuwo..!!" Nadine kembali tak sadarkan diri.
"Astagfirullah.. aku lupa lepas baju penyamaran. Pantas Nadine mengira aku Genderuwo" gumam Bang Danar dengan cepat melepas baju penyamarannya. "Tolong bantu saya donk..!! Cepat..!! Berat nih" pinta Bang Danar pada anggotanya.
__ADS_1
//
"Jadi itu ulah Mas Gi biar bisa masuk rumah?" Tanya Amanda.
Bang Giras mengangguk dan menunduk pasrah jika Manda mau marah padanya daripada membuat sang istri celaka.
"Keterlaluan ya Abang..!! Abang mau kalau sampai anak kita ada apa-apa." Amanda sungguh kesal mendengar pengakuan Bang Giras.
"Nggak dek, makanya Mas ngaku salah karena cemas sama anak kita" kata Bang Giras.
"Terserah lah, mas tidur di ruang tamu..!!" Amanda menarik tangan Bang Giras dan memintanya tidur di ruang tamu.
//
"Sebenarnya Abang mikir nggak? Bagaimana kalau Niken terpeleset karena ulah Abang? Siapa dalang yang buat keributan seperti ini??"
"Danar" jawab Bang Rey diam menunduk pasrah mendapat Omelan dari Niken.
"Lalu Abang mau saja ikut ide yang nggak ada bagusnya itu??" Tanya Niken.
Bang Rey mengangguk tanpa menatap mata Niken.
"Tidur di ruang tv..!! Itu hukuman untuk Abang yang nggak berpikir jernih sebelum memutuskan sesuatu..!!" Niken mendorong Bang Rey kemudian mengeluarkan bantal dan guling untuk suaminya.
//
"Abang wudhu, sholat, ngaji. Bisa-bisanya Abang buat ulah seperti ini. Perut Nadine kram Bang..!!" Pekik Nadine. "Hilangkan itu kerak jahil dalam pikiran Abang..!!"
"Iya dek, Abang sholat dulu..!!" Bang Danar berjalan gontai menuju tempat wudhu di rumahnya.
Om Lukman dan Om Khoirudin yang mengintip dari luar rumah ikut tertawa cekikikan melihat Komandannya mendapat hukuman dari istri kesayangan.
"Kalian berdua lambat sekali.. cepat kerjai PasInt..!! Dia bikin saya ribut sama istri" Perintah Bang Giras.
"Ijin Dan, tidak berani..!!" Jawab Om Lukman.
"Cepat kerjakan.. saya yang tanggung jawab" imbuh Bang Rey. "Tambahi dandanan mu itu, kerjai Danar sampai benar-benar ketakutan. Aku nggak percaya nggak ada yang dia takuti" kata Bang Rey.
"Siap..!!"
~
Menjelang subuh Bang Danar berwudhu. Ia benar-benar mengikuti perintah istri tercinta. Masih dalam wudhunya.. samar ia melihat ada yang berkelebat di sekitar luar pagar belakang rumah.
"Pocong? Baru kali ini aku lihat pocong. Apa pula rupa pocong itu?" Bang Danar tetap santai saat terus berkelebat bayang putih tak jauh darinya. Ia pun melanjutkan wudhunya dengan kusyuk.
Tiba-tiba ada yang mencolek bahunya. "Bang.. gantian..!!"
Bang Danar menoleh sekilas namun betapa kagetnya saat ia kembali melihat wajah putih pucat dengan rambut gimbal tinggi sejengkal. "Allahu Akbar.. Lailaha Illallah..!!" Pekik Bang Danar kaget setengah mati, ia mencoba melangkah namun tidak seimbang hingga membuatnya terpeleset dan kakinya terkilir. "Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa'ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.. pergi kau setan..!! Aku sudah punya istri..!!!" Ucapnya tegas seakan memberi arahan apel pasukan.
.
.
.
.
__ADS_1